{"id":2361,"date":"2023-02-19T12:23:34","date_gmt":"2023-02-19T05:23:34","guid":{"rendered":"https:\/\/dekaranganjar.com\/?p=2361"},"modified":"2023-07-12T12:41:16","modified_gmt":"2023-07-12T05:41:16","slug":"moesioem-poesaka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/moesioem-poesaka\/","title":{"rendered":"Moesioem Poesaka"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\">Written on 25\/02\/2017<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"wp-block-paragraph\">By: Wima Brahmantya<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\"><br>Blitar people know me as a cultural actor and preservationist. But when it comes to keris or heirlooms, I haven't really delved into it. Until one day our family had to move out of Pendopo Blitar, and was confused about where to store the hundreds of heirlooms owned by Bapak.<br><br>Di situ lahirlah ide untuk membuat museum pusaka dengan memanfaatkan bangunan tidak terpakai di area perkebunan  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"2361\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a> kami. Mau tidak mau saya pun harus belajar lebih dalam tentang keris, karena siapa lagi yang akan jadi pewaris koleksi pusaka Bapak kelak kalau bukan saya sendiri?<br><br>\u201cMoeseoem Poesaka\u201d kini telah dibuka di Keboen  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"2361\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >Coffee<\/a> Karanganjar sebagai wujud komitmen kami terhadap pelestarian budaya.<br><br>Not only the krises of our family ancestors can be seen, but also the legendary kris belonging to General Sudirman that was once carried in guerrilla warfare. Then the Omyang Jimbe kris made by Mpu Jimbe, the only female mpu from Blitar during the Majapahit era.<br><br>Indeed, some visitors claim to have goosebumps when entering this museum. But actually it all comes down to your own mindset. If you only see heirlooms from the supernatural side, it does seem horror. But if you see heirlooms from the cultural side, let alone try to explore their philosophy, then suddenly you will feel close and turn to admire them.<br><br>One of my favourite keris philosophies is that a keris is made by forging it many times, resulting in a strong, beautiful and useful piece of iron.<br><br>Similarly, humans need to be tempered with many tests in order to become strong, qualified, and useful for life.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ditulis pada 25\/02\/2017 Oleh : Wima Brahmantya Orang Blitar mengenal saya sebagai pelaku dan pelestari budaya. Tapi untuk urusan keris atau pusaka saya memang belum mendalami secara sungguh-sungguh. Sampai pada suatu ketika keluarga kami harus boyongan dari Pendopo Blitar, dan bingung harus menyimpan di mana ratusan pusaka yang dimiliki Bapak. Di situ lahirlah ide untuk membuat museum pusaka dengan memanfaatkan bangunan tidak terpakai di area perkebunan kopi kami. Mau tidak mau saya pun harus belajar lebih dalam tentang keris, karena siapa lagi yang akan jadi pewaris koleksi pusaka Bapak kelak kalau bukan saya sendiri? \u201cMoeseoem Poesaka\u201d kini telah dibuka di Keboen Kopi Karanganjar sebagai wujud komitmen kami terhadap pelestarian budaya. Bukan hanya keris-keris leluhur keluarga kami yang bisa disaksikan, tapi juga keris legendaris milik Jenderal Sudirman yang pernah dibawa berperang gerilya. Kemudian keris Omyang Jimbe buatan Mpu Jimbe satu-satunya mpu wanita dari Blitar pada zaman Majapahit. Memang sebagian pengunjung mengaku merinding ketika masuk ke museum ini. Tapi sebenarnya itu semua berpulang kepada mindset masing-masing. Kalo anda hanya melihat pusaka dari sisi gaib-gaibnya saja, memang terkesan horror. Tapi kalo anda melihat pusaka dari sisi budaya apalagi mencoba mendalami filosofinya, maka tiba-tiba anda akan merasa dekat dan berbalik mengaguminya. Salah satu filosofi keris yang saya sukai adalah bahwa keris dibuat dengan cara ditempa berkali-kali sehingga menghasilkan besi yang kuat, indah, dan bermanfaat. Begitu pula bahwa manusia perlu ditempa dengan banyak ujian agar menjadi kuat, berkualitas, dan bisa bermanfaat bagi kehidupan.<\/p>","protected":false},"author":4,"featured_media":2363,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-2361","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-meneer-notes"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2361","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2361"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2361\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2363"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2361"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2361"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2361"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}