{"id":2626,"date":"2023-03-03T10:53:15","date_gmt":"2023-03-03T03:53:15","guid":{"rendered":"https:\/\/dekaranganjar.com\/?p=2626"},"modified":"2023-07-12T12:31:22","modified_gmt":"2023-07-12T05:31:22","slug":"manten-kopi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/manten-kopi\/","title":{"rendered":"COFFEE MARRIAGE"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\">Ditulis pada 05 Juli 2018<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"wp-block-paragraph\">By: Wima Brahmantya<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>Begitulah reaksi saya ketika salah satu staf senior memberitahukan soal upacara adat yang dilakukan setiap mengawali musim panen raya  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"2626\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a>.<br><br>Demikianlah, pada tahun 2015 pertama kalinya saya menyaksikan upacara adat \u201cManten  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"2626\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >Coffee<\/a>\u201d di Keboen  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"2626\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >Coffee<\/a> Karanganjar. Selain rasa takjub melihat tradisi yang unik ini, saya juga merasa malu sebagai cucu pendiri perkebunan ini kok ya bisa baru tahu ada upacara adat seperti ini. Terus presiden-presiden sebelumnya ngapain aja? Ehh .. opo hubungane\u00a0<img alt=\"?\" width=\"16\" height=\"16\"><br><br>Naluri sejarawan saya pun tergerak untuk menyelidiki lebih jauh soal tradisi ini. Menurut penuturan para pegawai yang sudah \u201csuper-sepuh (karena usianya udah di atas 80-an)\u201d, tradisi ini sudah ada ketika mereka pertama kalinya bekerja di perkebunan ini. Bahkan waktu itu Kakek saya belum jadi pemilik perkebunan ini. Jadi bukan Kakek saya yang mencetuskan tradisi unik ini. Entah siapa .. yang pasti juga bukan para meneer Belanda penguasa tanah ini, yang memulai upacara adat Manten  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"2626\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >Coffee<\/a> ini. Ya masak ada orang Belanda komat-kamit pake bahasa Jawa sambil bakar dupa?<br><br>Seperti namanya \u201cManten  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"2626\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >Coffee<\/a>\u201d, memang acaranya adalah \u2018menikahkan\u2019 dua buah  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"2626\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a> yang sudah matang dan berwarna merah. Yang satu disebut sebagai \u201c <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"2626\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a> lanang\u201d, dan yang satu lagi disebut sebagai \u201c <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"2626\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a> wedhok\u201d. Setelah keduanya dipetik dari pohonnya, mereka akan \u201cdiijab qabulkan\u201d dengan bacaan doa-doa berbahasa Jawa diiringi tembang langgam Jawa. Ya, karena kopi- <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"2626\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a> tersebut tumbuh di Jawa, pasti ga bakalan ngerti kalo dibacakan doa pake bahasa Arab atau Inggris.<br><br>Nah setelah \u201cijab qabul\u201d, pada akhirnya mereka akan menjadi pasangan sah, lalu keduanya kemudian dibungkus dengan kain mori (atau \u201ckamar pengantin\u201d?). Setelah itu mereka akan diarak dari area perkebunan ke arah Joglo untuk diserahkan kepada Toean Tanah (sekarang sebutannya bukan \u201cTuan Tanah\u201d lagi tapi \u201cCEO\u201d, biar lebih kekinian. Dan itu \u201csaia\u201d, haha). Setelah itu CEO akan menyerahkan mempelai  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"2626\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a> kepada Kepala Pabrik untuk kemudian diproses, sekaligus penanda bahwa musim panen raya  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"2626\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a> telah tiba.<br><br>Tujuan dari upacara adat Manten  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"2626\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >Coffee<\/a> ini adalah sebagai rasa syukur kepada Tuhan YME, dan harapan agar panen raya ini bisa membawa berkah bagi alam semesta.<br><br>Tradisi ini unik, dan bisa jadi satu-satunya di Indonesia. Kalau di luar negeri jelas ga mungkin ada \u201cManten  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"2626\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >Coffee<\/a>\u201d, karena kalau ada pasti namanya adalah \u201cCoffee Marriage\u201d. Oleh karena itu naluri budayawan dan wisatawan saya langsung tergerak untuk mengekspos tradisi unik ini kepada dunia.<br><br>Kenapa tidak? Kalau tradisi \u201cbandem-bandeman tomat\u201d di Spanyol aja bisa jadi tradisi unik yang dibanjiri jutaan turis dari seluruh dunia, kenapa tradisi \u201cManten  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"2626\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >Coffee<\/a>\u201d ini tidak bisa? Seharusnya bisa.<br><br>Maka pada 2017 pertama kali tradisi ini diekspos oleh media massa, dan ternyata jadi berita yang cukup menarik buat media massa, baik cetak, internet, maupun TV. Silakan aja browsing \u201cManten  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"2626\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >Coffee<\/a>\u201d, ntar yang keluar kan tradisi kami di Keboen  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"2626\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >Coffee<\/a> Karanganjar\u00a0<img alt=\"?\" width=\"16\" height=\"16\"><br><br>Harapan saya \u201cManten  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"2626\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >Coffee<\/a> 2018\u201d yang akan diadakan 4 hari ke depan (7 Juli 2018) bisa dieskpos lebih luas lagi, dengan harapan kelak bisa menjadi ikon tradisi yang unik bagi Blitar, bahkan Indonesia dalam perspektif budaya dan pariwisata internasional.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ditulis pada 05 Juli 2018 Oleh\u00a0 : Wima Brahmantya Begitulah reaksi saya ketika salah satu staf senior memberitahukan soal upacara adat yang dilakukan setiap mengawali musim panen raya kopi. Demikianlah, pada tahun 2015 pertama kalinya saya menyaksikan upacara adat \u201cManten Kopi\u201d di Keboen Kopi Karanganjar. Selain rasa takjub melihat tradisi yang unik ini, saya juga merasa malu sebagai cucu pendiri perkebunan ini kok ya bisa baru tahu ada upacara adat seperti ini. Terus presiden-presiden sebelumnya ngapain aja? Ehh .. opo hubungane\u00a0 Naluri sejarawan saya pun tergerak untuk menyelidiki lebih jauh soal tradisi ini. Menurut penuturan para pegawai yang sudah \u201csuper-sepuh (karena usianya udah di atas 80-an)\u201d, tradisi ini sudah ada ketika mereka pertama kalinya bekerja di perkebunan ini. Bahkan waktu itu Kakek saya belum jadi pemilik perkebunan ini. Jadi bukan Kakek saya yang mencetuskan tradisi unik ini. Entah siapa .. yang pasti juga bukan para meneer Belanda penguasa tanah ini, yang memulai upacara adat Manten Kopi ini. Ya masak ada orang Belanda komat-kamit pake bahasa Jawa sambil bakar dupa? Seperti namanya \u201cManten Kopi\u201d, memang acaranya adalah \u2018menikahkan\u2019 dua buah kopi yang sudah matang dan berwarna merah. Yang satu disebut sebagai \u201c kopi lanang\u201d, dan yang satu lagi disebut sebagai \u201c kopi wedhok\u201d. Setelah keduanya dipetik dari pohonnya, mereka akan \u201cdiijab qabulkan\u201d dengan bacaan doa-doa berbahasa Jawa diiringi tembang langgam Jawa. Ya, karena kopi- kopi tersebut tumbuh di Jawa, pasti ga bakalan ngerti kalo dibacakan doa pake bahasa Arab atau Inggris. Nah setelah \u201cijab qabul\u201d, pada akhirnya mereka akan menjadi pasangan sah, lalu keduanya kemudian dibungkus dengan kain mori (atau \u201ckamar pengantin\u201d?). Setelah itu mereka akan diarak dari area perkebunan ke arah Joglo untuk diserahkan kepada Toean Tanah (sekarang sebutannya bukan \u201cTuan Tanah\u201d lagi tapi \u201cCEO\u201d, biar lebih kekinian. Dan itu \u201csaia\u201d, haha). Setelah itu CEO akan menyerahkan mempelai kopi kepada Kepala Pabrik untuk kemudian diproses, sekaligus penanda bahwa musim panen raya kopi telah tiba. Tujuan dari upacara adat Manten Kopi ini adalah sebagai rasa syukur kepada Tuhan YME, dan harapan agar panen raya ini bisa membawa berkah bagi alam semesta. Tradisi ini unik, dan bisa jadi satu-satunya di Indonesia. Kalau di luar negeri jelas ga mungkin ada \u201cManten Kopi\u201d, karena kalau ada pasti namanya adalah \u201cCoffee Marriage\u201d. Oleh karena itu naluri budayawan dan wisatawan saya langsung tergerak untuk mengekspos tradisi unik ini kepada dunia. Kenapa tidak? Kalau tradisi \u201cbandem-bandeman tomat\u201d di Spanyol aja bisa jadi tradisi unik yang dibanjiri jutaan turis dari seluruh dunia, kenapa tradisi \u201cManten Kopi\u201d ini tidak bisa? Seharusnya bisa. Maka pada 2017 pertama kali tradisi ini diekspos oleh media massa, dan ternyata jadi berita yang cukup menarik buat media massa, baik cetak, internet, maupun TV. Silakan aja browsing \u201cManten Kopi\u201d, ntar yang keluar kan tradisi kami di Keboen Kopi Karanganjar\u00a0 Harapan saya \u201cManten Kopi 2018\u201d yang akan diadakan 4 hari ke depan (7 Juli 2018) bisa dieskpos lebih luas lagi, dengan harapan kelak bisa menjadi ikon tradisi yang unik bagi Blitar, bahkan Indonesia dalam perspektif budaya dan pariwisata internasional.<\/p>","protected":false},"author":4,"featured_media":2627,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-2626","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-meneer-notes"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2626","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2626"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2626\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2627"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2626"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2626"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2626"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}