{"id":3011,"date":"2023-06-18T09:53:02","date_gmt":"2023-06-18T02:53:02","guid":{"rendered":"https:\/\/dekaranganjar.com\/?p=3011"},"modified":"2023-06-18T09:53:02","modified_gmt":"2023-06-18T02:53:02","slug":"muslim-kok-mirip-buddhis-kata-alex","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/muslim-kok-mirip-buddhis-kata-alex\/","title":{"rendered":"\"Muslims Look Like Buddhists...\" Alex said"},"content":{"rendered":"<p>Ditulis pada 31 Juli 2018<\/p>\n<p>By: Wima Brahmantya<\/p>\n<p>Bule yang lagi ikutan main gamelan ini namanya Aleix dari Barcelona, Spanyol. Dia ikutan program pelatihan  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"3011\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a> selama dua minggu di Keboen  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"3011\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >Coffee<\/a> Karanganjar.<\/p>\n<p>Saya masih ingat di hari pertama kedatangannya dia nanya : \u201cbagaimana bisa di Indonesia ini mayoritas Muslim? Bukankah seharusnya Buddhist seperti kebanyakan negara-negara Asia Tenggara?\u201d<\/p>\n<p>Saya bilang bahwa Indonesia ini negara kepulauan yang strategis, sehingga segala budaya dan agama bercampur di sini. Tidak hanya Islam, tapi Hindu, Buddha, Kristen, Konghucu dan agama-agama lokal juga bisa hidup berdampingan di sini.<\/p>\n<p>Sore ini ketika dia menyaksikan grup karawitan binaan kami, sekali lagi dia terheran-heran dan bertanya :<\/p>\n<p>\u201cApakah mereka ini Muslim semua? Mereka lebih terlihat sebagai orang Buddhist daripada Muslim?\u201d<\/p>\n<p>Entah apa yang dimaksud dengan \u201cBuddhist\u201d di sini, karena tidak ada satu pun anggota karawitan yang terlihat seperti bhiksu. Mungkin maksudnya mereka terlihat seperti orang-orang tradisional dari Asia pada umumnya, dan berbeda dengan citra \u201cMuslim\u201d di Eropa yang identik dengan Timur Tengah.<\/p>\n<p>\u201cYa inilah Islam Indonesia. Kita bisa bertahan dengan identitas budaya kita sambil tetap menjadi Muslim. Di sini tidak ada permasalahan antara Islam dan tradisi lokal (dan seharusnya tidak hanya di Indonesia tapi juga di seluruh dunia, karena hanya orang sempit pikiran yang beranggapan bahwa budaya lokal itu pasti bertentangan dengan Islam). Menjadi Muslim di sini bukan berarti harus berpenampilan ala Arab (meskipun boleh-boleh saja, jangankan Arab mau berpenampilan seperti orang Eskimo juga halal kok, asal tahan keringat aja).\u201d<\/p>\n<p>Barangkali kurang lebih seperti itu juga makna \u201cIslam Nusantara\u201d yang dalam beberapa waktu ini jadi perdebatan sengit. Sebenarnya cukup klir kok penjelasan dari para ulama Nahdliyin bahwa \u201cIslam Nusantara\u201d itu bukan agama baru, melainkan \u201ctradisi orang-orang Islam di Nusantara\u201d, yang dalam banyak hal cukup berbeda dengan Muslim di Timur Tengah. Tapi ya secara akidah ya sama. Lha wong Tuhannya sama, nabinya sama, kitab sucinya sama, ibadahnya sama.<\/p>\n<p>Trus apanya yang mau diributkan?<\/p>\n<p>Atau jangan-jangan memang sengaja tutup kuping supaya tetap ribut?<\/p>\n<p>Mudah-mudahan tidak\u00a0<span class=\"x3nfvp2 x1j61x8r x1fcty0u xdj266r xhhsvwb xat24cr xgzva0m xxymvpz xlup9mm x1kky2od\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/static.xx.fbcdn.net\/images\/emoji.php\/v9\/t4c\/1\/16\/1f642.png\" alt=\"????\" width=\"16\" height=\"16\"><\/span><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ditulis pada 31 Juli 2018 Oleh\u00a0 : Wima Brahmantya Bule yang lagi ikutan main gamelan ini namanya Aleix dari Barcelona, Spanyol. Dia ikutan program pelatihan kopi selama dua minggu di Keboen Kopi Karanganjar. Saya masih ingat di hari pertama kedatangannya dia nanya : \u201cbagaimana bisa di Indonesia ini mayoritas Muslim? Bukankah seharusnya Buddhist seperti kebanyakan negara-negara Asia Tenggara?\u201d Saya bilang bahwa Indonesia ini negara kepulauan yang strategis, sehingga segala budaya dan agama bercampur di sini. Tidak hanya Islam, tapi Hindu, Buddha, Kristen, Konghucu dan agama-agama lokal juga bisa hidup berdampingan di sini. Sore ini ketika dia menyaksikan grup karawitan binaan kami, sekali lagi dia terheran-heran dan bertanya : \u201cApakah mereka ini Muslim semua? Mereka lebih terlihat sebagai orang Buddhist daripada Muslim?\u201d Entah apa yang dimaksud dengan \u201cBuddhist\u201d di sini, karena tidak ada satu pun anggota karawitan yang terlihat seperti bhiksu. Mungkin maksudnya mereka terlihat seperti orang-orang tradisional dari Asia pada umumnya, dan berbeda dengan citra \u201cMuslim\u201d di Eropa yang identik dengan Timur Tengah. \u201cYa inilah Islam Indonesia. Kita bisa bertahan dengan identitas budaya kita sambil tetap menjadi Muslim. Di sini tidak ada permasalahan antara Islam dan tradisi lokal (dan seharusnya tidak hanya di Indonesia tapi juga di seluruh dunia, karena hanya orang sempit pikiran yang beranggapan bahwa budaya lokal itu pasti bertentangan dengan Islam). Menjadi Muslim di sini bukan berarti harus berpenampilan ala Arab (meskipun boleh-boleh saja, jangankan Arab mau berpenampilan seperti orang Eskimo juga halal kok, asal tahan keringat aja).\u201d Barangkali kurang lebih seperti itu juga makna \u201cIslam Nusantara\u201d yang dalam beberapa waktu ini jadi perdebatan sengit. Sebenarnya cukup klir kok penjelasan dari para ulama Nahdliyin bahwa \u201cIslam Nusantara\u201d itu bukan agama baru, melainkan \u201ctradisi orang-orang Islam di Nusantara\u201d, yang dalam banyak hal cukup berbeda dengan Muslim di Timur Tengah. Tapi ya secara akidah ya sama. Lha wong Tuhannya sama, nabinya sama, kitab sucinya sama, ibadahnya sama. Trus apanya yang mau diributkan? Atau jangan-jangan memang sengaja tutup kuping supaya tetap ribut? Mudah-mudahan tidak\u00a0<\/p>","protected":false},"author":4,"featured_media":3012,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3011","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-meneer-notes"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3011","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3011"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3011\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3012"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3011"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3011"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3011"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}