{"id":3138,"date":"2023-08-04T16:43:40","date_gmt":"2023-08-04T09:43:40","guid":{"rendered":"https:\/\/dekaranganjar.com\/?p=3138"},"modified":"2023-08-04T16:43:40","modified_gmt":"2023-08-04T09:43:40","slug":"mini-museum-untuk-ayah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/mini-museum-for-dads\/","title":{"rendered":"Mini Museum for Dad"},"content":{"rendered":"<p>Written on 08 October 2018<\/p>\n<p>By: Wima Brahmantya<\/p>\n<p>Of the four museums in Keboen Kopi Karanganjar, this one is the easiest to find. It is located near O.G Cafe and Resko, two points that are one of the gathering centres for visitors.<\/p>\n<p>\"Poerna Bhakti\" means \"After Service\". I designed this museum to commemorate the time when Papah was still serving.<\/p>\n<p>The initial idea came when I saw the award certificates that were just placed in the 'warehouse'. Also when looking at the official uniforms folded in the closet (which certainly won't be used again).<\/p>\n<p>\"Well, if this is the way it is, these things will be lost and damaged. And my children and grandchildren won't know who their ancestors are anymore,\" I thought at the time.<\/p>\n<p>I set up one of the rooms in Keboen Kopi Karanganjar as if it were Papah's workspace when he was in office. There is a nameplate on the work table that visitors can sit on just for photos, pretending to be an official, hehe ...<\/p>\n<p>Then I set the official uniforms and traditional clothes in a glass box complete with information on when and where they should be worn. Meanwhile, I put the many certificates of appreciation on the wall, complete with a list of achievements that Papah had achieved during his tenure.<\/p>\n<p>\"How come you thought of making this?\", said Papah when the museum was finished setting up. I don't know how he forgot that for a long time, my brain has had a penchant for making \"unworkable ideas\".<\/p>\n<p>One of my favourite things is the painting \"Happiness on Mount Kelud\" by Mpu Harris. The figures of my parents there seem to be \"alive\" and the aura is indeed full of happiness.<\/p>\n<p>I set up this museum not just as a complementary tourist attraction. It is also not just the pride of a child who wants to introduce his father to the public.<\/p>\n<p>More than that, I want to inspire many people that our fathers are our origins, our role models, who raised us with great difficulty. It is our duty as children to keep \"lighting the flame of life\" of our fathers, whether they are alive or gone.<\/p>\n<p>We can set a place with the things our fathers left behind. Photographs, clothes, records, musical instruments, cigars, charters, and anything that allows them to be remembered by the next generation even after centuries have passed.<\/p>\n<p>It doesn't have to be a building or a special room, a small corner is okay.<\/p>\n<p>Whoever our fathers were... officials, policemen, teachers, musicians, traders, farmers, drivers, etc., make a monument to them.<\/p>\n<p>And be proud of them.<\/p>\n<p>&#8211;<\/p>\n<p>* Happy birthday Pah!<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ditulis pada 08 Oktober 2018 Oleh : Wima Brahmantya Dari 4 museum yang ada di Keboen Kopi Karanganjar, museum ini yang paling gampang ditemukan. Lokasinya di dekat O.G Cafe dan Resko, dua titik yang menjadi salah satu pusat berkumpulnya pengunjung. &#8220;Poerna Bhakti&#8221; artinya &#8220;Seusai Pengabdian&#8221;. Saya merancang museum ini untuk mengenang masa ketika Papah masih berdinas dulu. Ide awalnya sih muncul tatkala melihat piagam-piagam penghargaan yang ditaruh begitu saja di &#8216;gudang&#8217;. Juga ketika melihat seragam-seragam dinas yang dilipat dalam lemari (yang pastinya ga bakalan dipake lagi). &#8220;Wah, kalo gini caranya bisa-bisa hilang dan rusak barang-barang ini. Dan nanti anak cucuku ga bakalan kenal lagi siapa leluhurnya&#8221;, pikir saya waktu itu. Jadilah satu ruangan yang ada di Keboen Kopi Karanganjar saya setting seolah-olah seperti ruang kerja Papah waktu dinas dulu. Ada papan nama di atas meja kerja yang bisa diduduki oleh pengunjung sekedar buat foto-foto, pura-puranya jadi pejabat, hehe .. Lalu seragam dinas dan baju adat saya set di dalam kotak kaca lengkap dengan keterangan kapan dan di mana pakaian tersebut harus dipakai. Sementara piagam-piagam penghargaan yang buanyak itu saya pasang di tembok, lengkap dengan daftar prestasi apa saja yang pernah Papah raih semasa beliau menjabat. &#8220;Kamu kok iso kepikiran bikin ini ya le&#8221;, kata Papah ketika museum ini selesai disetting. Entah bagaimana dia bisa lupa bahwa sudah sejak lama otak saya ini hobi bikin &#8220;ide-ide kurang kerjaan&#8221;. Salah satu benda favorit saya adalah lukisan &#8220;Kebahagiaan di Gunung Kelud&#8221; karya Mpu Harris. Figur kedua orangtua saya di situ seakan-akan kelihatan &#8220;hidup&#8221; dan auranya memang penuh kebahagiaan. Saya setting museum ini bukan sekedar sebagai pelengkap wahana wisata. Bukan pula sekedar rasa kebanggaan seorang anak yang ingin memperkenalkan Sang Ayah kepada khalayak umum. Lebih dari itu, saya ingin menginspirasi banyak orang bahwa Ayah adalah asal usul kita, panutan kita, yang membesarkan kita dengan susah payah. Kewajiban kita sebagai anak untuk tetap &#8220;menyalakan api kehidupan&#8221; ayah kita, entah apakah mereka masih hidup atau tiada. Kita bisa setting suatu tempat dengan benda-benda peninggalan ayah kita. Foto, pakaian, catatan, alat musik, cerutu, piagam, dan apa saja yang memungkinkan agar mereka tetap dikenang generasi penerus walau sudah lewat berabad-abad. Tidak harus satu bangunan atau satu ruangan khusus, satu sudut kecil pun okay. Siapa pun ayah kita .. pejabat, polisi, guru, musisi, pedagang, petani, sopir, dsb, buatkan monumen untuk mereka. Dan banggalah akan mereka. &#8211; * Met ultah Pah!<\/p>","protected":false},"author":4,"featured_media":3139,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3138","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-meneer-notes"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3138","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3138"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3138\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3139"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3138"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3138"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3138"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}