{"id":3498,"date":"2023-09-29T21:56:16","date_gmt":"2023-09-29T14:56:16","guid":{"rendered":"https:\/\/dekaranganjar.com\/?p=3498"},"modified":"2023-09-29T21:56:16","modified_gmt":"2023-09-29T14:56:16","slug":"kisah-pilu-kolonialisme-di-karanganjar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/stories-of-colonialism-in-karanganjar\/","title":{"rendered":"The Sad Story of Colonialism in Karanganjar"},"content":{"rendered":"<p>Written on 31 July 2023<\/p>\n<p>By: Wima Brahmantya<\/p>\n<p>Dapat kiriman dari kawan di Norwegia, artikel koran tahun 1898 tentang satu kisah sedih kolonialisme yang ada di \u2026.. tebak!<\/p>\n<p>De Karanganjar!<\/p>\n<p>Here's the translation:<\/p>\n<p>De Locomotief<br>\nMarch, 12th \u2013 1898<\/p>\n<p>On Thursday, the High Court in Surabaya heard the case of Roorda Van Eysinga, an employee of the De Karanganjar Plantation in Blitar, who was accused of murder. The suspect admitted that he did not understand Dutch very well, so Mr D. De Waal was brought in as a French interpreter. 13 witnesses were invited to attend, 5 Europeans and 8 Indigenous people. One of the European witnesses had returned to Europe and the other could not attend due to illness. After reading the documents, the suspect was asked whether he pleaded guilty or not.<\/p>\n<p>Tersangka mengatakan, bahwa ketika itu dia sedang berburu di dalam area perkebunan, lalu dia melihat beberapa penduduk pribumi yang seharusnya tidak masuk ke area perkebunan, sehingga diduga bahwa mereka berniat mencuri  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"3498\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a>. Lalu dia menembak mereka, tapi tidak benar-benar membidik secara serius. Namun demikian pelurunya masih mengenai telinga kanan salah satu orang pribumi. Ketika Tersangka melihat orang tersebut kesakitan, Tersangka berniat memberikan tembakan penghabisan, tapi tembakannya meleset. Orang pribumi tersebut akhirnya roboh dan berbaring beberapa saat lalu meninggal dunia. Dr. Wiederhold, dari kota Blitar, menyatakan bahwa luka tersebut sebenarnya tidak terlalu fatal. Lalu sidang pun ditutup (Sur. Hbld.)<\/p>\n<p>Thanks to Mark Wennberg<\/p>\n<p>#dekaranganjar #dekaranganjarkoffieplantage #sejarahkolonial<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ditulis pada 31 Juli 2023 Oleh : Wima Brahmantya Dapat kiriman dari kawan di Norwegia, artikel koran tahun 1898 tentang satu kisah sedih kolonialisme yang ada di \u2026.. tebak! De Karanganjar! Begini terjemahannya kurang lebih : De Locomotief March, 12th \u2013 1898 Pada hari kamis, Pengadilan Tinggi di Surabaya mendengar kasus Roorda Van Eysinga, seorang pegawai Perkebunan De Karanganjar di Blitar, yang dituduh melakukan pembunuhan. Tersangka mengaku bahwa dia tidak terlalu memahami bahasa Belanda dengan baik, sehingga Mr. D. De Waal didatangkan sebagai penerjemah bahasa Perancis. 13 saksi diundang hadir, 5 orang Eropa, dan 8 Pribumi. Salah satu saksi Eropa sudah pulang ke Eropa dan satu lagi tidak bisa hadir karena sakit. Setelah membaca dokumen, Tersangka ditanya apakah dia mengaku bersalah atau tidak. Tersangka mengatakan, bahwa ketika itu dia sedang berburu di dalam area perkebunan, lalu dia melihat beberapa penduduk pribumi yang seharusnya tidak masuk ke area perkebunan, sehingga diduga bahwa mereka berniat mencuri kopi. Lalu dia menembak mereka, tapi tidak benar-benar membidik secara serius. Namun demikian pelurunya masih mengenai telinga kanan salah satu orang pribumi. Ketika Tersangka melihat orang tersebut kesakitan, Tersangka berniat memberikan tembakan penghabisan, tapi tembakannya meleset. Orang pribumi tersebut akhirnya roboh dan berbaring beberapa saat lalu meninggal dunia. Dr. Wiederhold, dari kota Blitar, menyatakan bahwa luka tersebut sebenarnya tidak terlalu fatal. Lalu sidang pun ditutup (Sur. Hbld.) Thanks to Mark Wennberg #dekaranganjar #dekaranganjarkoffieplantage #sejarahkolonial<\/p>","protected":false},"author":4,"featured_media":3499,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3498","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-meneer-notes"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3498","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3498"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3498\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3499"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3498"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3498"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3498"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}