{"id":3511,"date":"2023-09-26T08:47:55","date_gmt":"2023-09-26T01:47:55","guid":{"rendered":"https:\/\/dekaranganjar.com\/?p=3511"},"modified":"2023-10-02T09:02:32","modified_gmt":"2023-10-02T02:02:32","slug":"petilasan-gadhung-melati-dan-sejarahnya-di-perkebunan-kopi-karanganjar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/petilasan-gadhung-melati-and-history-in-the-coffee-plantation-karanganjar\/","title":{"rendered":"Petilasan Gadhung Melati and its History at Karanganjar Coffee Plantation"},"content":{"rendered":"<p>Modangan, sebuah desa yang terletak di Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, dikenal tidak hanya sebagai penghasil  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"3511\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a> berkualitas karena keberadaan <strong>Perkebunan  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"3511\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >Coffee<\/a> Karanganjar,<\/strong> but it also holds history in the form of the Gadhung Melati Petilasan.<\/p>\n<p>Based on the statement of Wima Brahmantya, as the owner of <strong>De Karanganjar Koffieplantage,<\/strong> <strong>Gadhung Melati shrine<\/strong> It is in the form of a tombstone. However, the original identity of the tombstone is still unknown due to the lack of primary sources.<\/p>\n<p>Then, regarding the origin of the name \"Gadhung Melati\" itself is also still a mystery because of the many versions from various sources. Some say that Gadhung Melati is one of the male figures and soldiers of Prince Diponegoro who fled to Blitar after the Java War in 1825-1830. There are also those who state that from the mythological version, Gadhung Melati is one of the female figures named Nyi Gadhung Melati who is described as Nyi Roro Kidul.<\/p>\n<p>The many versions of the figure of Nyi Gadung Melati are of particular interest to historians. The naming of Gadhung Melati itself is inseparable from the role of a British culturalist named Hadi Sidomulyo, who has lived in Indonesia since 1973.<\/p>\n<p>In his research on Kidung Panji Margasmara, a literary work of the late Majapahit era, it turns out that the Gadhung Melati shrine is also mentioned in the kidung. So it is likely that the Gadhung Melati petilasan is still closely related to the late Majapahit kingdom and the subsequent Islamic Mataram rule.<\/p>\n<p>In addition to the mystery of its origin, there is also a large tree around the Gadhung Melati petilasan that is similar to a banyan tree. In ancient times, the tree was believed by the neighbouring community to be a <em>\"alarm\"<\/em> every time Mount Kelud is about to erupt.<\/p>\n<p>This is also reinforced by the presence of a flock of blekok birds that always chirp as a warning sign whenever the situation is alert. However, the tree has now fallen due to the destruction of nature caused by man.<\/p>\n<p>However, a visit to Petilasan Gadhung Melati will not only provide a valuable historical experience, but also let you unite with the awesome beauty of nature.<\/p>\n<p>Petilasan Gadung Melati is also a place where various cultural activities are held by the local community. This shows that this place is not only a witness to history, but also continues to live and develop as part of the life of the surrounding community.<\/p>\n<p>As for preservation, apart from the plantation manager, it is also important for the government and the local community to participate in maintaining and preserving the authenticity of Petilasan Gadung Melati so that this place can continue to be a valuable heritage for future generations.<\/p>\n<p>Bagi para pencinta sejarah dan wisatawan, Petilasan Gadung Melati di Karanganjar, Blitar, adalah destinasi yang wajib dikunjungi. Jadi, jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi Petilasan Gadung Melati di tengah perkebunan  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"3511\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a> De Karanganjar. Rasakan sendiri pesona sejarah dan alam yang tak terlupakan di tempat ini.Top of Form<\/p>\n<p>By: Dwi Rahayu<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Modangan, sebuah desa yang terletak di Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, dikenal tidak hanya sebagai penghasil kopi berkualitas karena keberadaan Perkebunan Kopi Karanganjar, tetapi juga menyimpan sejarah yakni berupa Petilasan Gadhung Melati. Berdasarkan keterangan Wima Brahmantya, selaku owner De Karanganjar Koffieplantage, petilasan Gadhung Melati tersebut bentuknya berupa batu nisan. Namun, hingga kini masih belum diketahui identitas asli batu nisan tersebut karena minimnya sumber primer yang menyertainya. Kemudian, terkait asal-usul dari nama \u201cGadhung Melati\u201d sendiri juga masih menjadi misteri karena banyaknya versi dari berbagai sumber. Ada yang mengatakan bahwa Gadhung Melati merupakan salah satu tokoh laki-laki sekaligus prajurit Pangeran Diponegoro yang melarikan diri ke Blitar pasca Perang Jawa tahun 1825-1830. Ada juga yang menyatakan bahwa dari versi mitologi, Gadhung Melati merupakan salah satu sosok perempuan bernama Nyi Gadhung Melati yang digambarkan seperti Nyi Roro Kidul. Banyaknya versi mengenai sosok Nyi Gadung Melati menjadi daya tarik tersendiri khususnya bagi kalangan sejarawan. Pemberian nama Gadhung Melati sendiri tidak terlepas dari peran seorang budayawan asal Inggris bernama Hadi Sidomulyo, yang telah menetap di Indonesia sejak tahun 1973. Dalam risetnya mengenai Kidung Panji Margasmara yang merupakan karya sastra era akhir masa Majapahit, ternyata petilasan Gadhung Melati juga disebut dalam kidung tersebut. Sehingga besar kemungkinan bahwa petilasan Gadhung Melati masih memiliki kaitan erat dengan kerajaan Majapahit era akhir dan kekuasaan Mataram Islam setelahnya. Selain misteri mengenai asal-usulnya, di sekitar petilasan Gadhung Melati juga terdapat sebuah pohon besar yang mirip dengan pohon beringin. Pada zaman dahulu, pohon tersebut dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai \u201calarm\u201d setiap kali Gunung Kelud akan Meletus. Hal tersebut juga diperkuat oleh keberadaan segerombolan sejenis burung blekok yang selalu berkicau sebagai tanda peringatan setiap keadaan sudah berstatus waspada. Namun, pohon tersebut kini sudah tumbang karena rusaknya alam yang disebabkan oleh ulah manusia. Meski demikian, berkunjung ke Petilasan Gadhung Melati tidak hanya akan memberikan pengalaman sejarah yang berharga, tetapi juga membiarkan Anda bersatu dengan keindahan alam yang mengagumkan. Petilasan Gadung Melati juga menjadi tempat diadakannya berbagai aktivitas budaya oleh masyarakat setempat. Hal ini menunjukkan bahwa tempat ini tidak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga terus hidup dan berkembang sebagai bagian dari kehidupan masyarakat sekitarnya. Kemudian terkait pelestariannya, selain dari pengelola perkebunan, juga penting bagi pemerintah dan masyarakat setempat untuk ikut serta memelihara dan menjaga keaslian Petilasan Gadung Melati agar tempat ini dapat terus menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang. Bagi para pencinta sejarah dan wisatawan, Petilasan Gadung Melati di Karanganjar, Blitar, adalah destinasi yang wajib dikunjungi. Jadi, jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi Petilasan Gadung Melati di tengah perkebunan kopi De Karanganjar. Rasakan sendiri pesona sejarah dan alam yang tak terlupakan di tempat ini.Top of Form Oleh: Dwi Rahayu<\/p>","protected":false},"author":4,"featured_media":3513,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[199],"tags":[240],"class_list":["post-3511","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-wisata","tag-petilasangadhungmelati-wisatasejarahblitar-wisataperkebunankopidekaranganjar"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3511","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3511"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3511\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3513"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3511"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3511"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3511"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}