{"id":3909,"date":"2023-11-30T11:07:50","date_gmt":"2023-11-30T04:07:50","guid":{"rendered":"https:\/\/dekaranganjar.com\/?p=3909"},"modified":"2023-12-02T22:00:49","modified_gmt":"2023-12-02T15:00:49","slug":"3-stasiun-peninggalan-belanda-di-blitar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/3-dutch-stations-in-blitar\/","title":{"rendered":"3 Dutch Heritage Stations in Blitar"},"content":{"rendered":"<p>Have you ever thought every time you take a train, how the railway was originally built, when it was built, and what its original function was?<\/p>\n<p>If you're curious, Blitar has the answer. This city is a silent witness <strong>development<\/strong> <strong>railway<\/strong> <strong>since the Dutch colonial period<\/strong> until the time of Indonesian independence.<\/p>\n<p>In the early 18th century, the Dutch began to control the region and made it an administrative centre.<\/p>\n<p>One of the tangible evidences of the Dutch colonial influence in Blitar is the existence of railway stations built during that time.<\/p>\n<p>Perkembangan transportasi kereta di Blitar sangat dipengaruhi oleh revolusi industri dan pembangunan pabrik gula dan  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"3909\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a>.<\/p>\n<p>Trains in Blitar during the colonial period had a very important function, namely as a means of transporting goods.<\/p>\n<p>The existence of trains on the Blitar route was originally to fulfil the needs of Dutch officials and businessmen as a means of mobility or a means of transporting the products of their own plantations and industries.<\/p>\n<p>Here are 3 Dutch Colonial heritage stations that still exist in Blitar today:<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Blitar Station<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Blitar Station is a large class B railway station located in Kepanjenkidul, Blitar City.<\/p>\n<p>The station is located at an altitude of +167 metres and is included in the management of Operation Region VII Madiun and KAI Commuter with a distance of 92.5 km southeast of Kertosono.<\/p>\n<p>The station is a relic of the Dutch East Indies period and was built in conjunction with the 64-kilometre Kediri-Tulungagung-Blitar railway line.<\/p>\n<p>The work was carried out by Staatsspoorwegen (SS), a railway company owned by the Dutch East Indies government and work began in 1883 and was inaugurated on 16 June 1884.<\/p>\n<p>The current building of Blitar Station is not the original building because the building has been renovated.<\/p>\n<p>The station has six tracks with two straight lines and one track leading to the depot area.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><strong>Wlingi Station<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Wlingi Station was built in 1897 by the Dutch East Indies Government.<\/p>\n<p>The construction of the station is carried out in conjunction with the 74-kilometre Blitar-Wlingi-Kepanjen-Malang railway project.<\/p>\n<p>This station is the westernmost in Operation Area VIII Surabaya for the Bangil-Kertosono crossing and is the main railway station in Blitar Regency.<\/p>\n<p>All passenger trains travelling on the Kertosono-Malang branch line in the southern and central parts of Java stop at this station.<\/p>\n<p>The station has four railway lines with line 2 being a straight line and line 3 often used for the departure and arrival of long trains.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li><strong>Kesamben Station<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Kesamben Station (KSB) is a class III\/small railway station located in Kesamben, Blitar.<\/p>\n<p>The Kesamben Station building is a relic of the Dutch East Indies period, whose construction coincided with the construction of the Blitar-Wlingi-Kepanjen railway line which began in 1896 and was completed in 1897.<\/p>\n<p>The station is under the management of Operation Region VIII Surabaya and KAI Commuter and is 121 km southeast of Kertosono.<\/p>\n<p>The station has only two railway lines with line 1 being a straight line.<\/p>\n<p>Ketiga stasiun tersebut menjadi pusat transportasi kereta api di Blitar yang mengangkut hasil perkebunan seperti  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"3909\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a>, gula, teh dan hasil bumi lainnya pada masa pemerintahan Kolonial Belanda.<\/p>\n<p><strong>De Karanganjar Koffieplantage<\/strong> adalah salah satu perkebunan  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"3909\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a> tertua yang telah berdiri sejak 1874.<\/p>\n<p>This plantation was also managed by a Dutch company for decades, before the nationalisation of its assets by President Soekarno in 1957.<\/p>\n<p>The route of transporting the plantation's produce via railway still exists today, a true testament to the plantation's long history.<\/p>\n<p>If you want to know more about this plantation, you can visit De Karanganjar Koffieplantage.<\/p>\n<p>This article provides an overview of the history and development of railway stations in Blitar, and how they have shaped and influenced the city.<\/p>\n<p>Hopefully this article can provide new insights and knowledge for readers. Enjoy historical tourism in Blitar!.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pernahkah Anda berpikir setiap kali naik kereta api, bagaimana awalnya jalur kereta api dibangun, sejak kapan, dan apa fungsi awalnya? Jika Anda penasaran, Blitar memiliki jawabannya. Kota ini adalah saksi bisu perkembangan kereta api sejak masa kolonial Belanda hingga zaman kemerdekaan Indonesia. Pada awal abad ke-18, Belanda mulai menguasai wilayah ini dan menjadikannya sebagai pusat administrasi. Salah satu bukti nyata dari pengaruh kolonial Belanda di Blitar adalah keberadaan stasiun-stasiun kereta api yang dibangun pada masa itu. Perkembangan transportasi kereta di Blitar sangat dipengaruhi oleh revolusi industri dan pembangunan pabrik gula dan kopi. Kereta api di Blitar pada masa kolonial memiliki fungsi yang sangat penting, yaitu sebagai alat transportasi pengangkut barang. Adanya kereta api di jalur Blitar awalnya untuk memenuhi kebutuhan para pejabat Belanda dan pengusaha sebagai sarana mobilitas atau alat pengangkut hasil produksi perkebunan serta industri mereka sendiri. Berikut 3 stasiun peninggalan Kolonial Belanda yang masih ada di Blitar hingga saat ini: Stasiun Blitar Stasiun Blitar adalah stasiun kereta api kelas besar tipe B yang terletak di Kepanjenkidul, Kota Blitar. Stasiun ini berada pada ketinggian +167 meter dan termasuk dalam pengelolaan Daerah Operasi VII Madiun serta KAI Commuter dengan jarak 92,5 km arah tenggara dari Kertosono. Stasiun ini merupakan peninggalan masa Hindia Belanda dan pembangunannya bersamaan dengan jalur kereta api Kediri-Tulungagung-Blitar sepanjang 64 kilometer. Pengerjaan dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda dan dimulai pengerjaannya tahun 1883 dan diresmikan 16 Juni 1884. Bangunan Stasiun Blitar yang saat ini bukan merupakan bangunan asli karena bangunannya telah dilakukan renovasi. Stasiun ini memiliki enam jalur dengan dua jalur sepur lurus dan satu jalur menuju area depo. Stasiun Wlingi Stasiun Wlingi dibangun pada tahun 1897 oleh Pemerintah Hindia Belanda. Pembangunan stasiun ini dilakukan bersamaan dengan proyek jalur rel kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen-Malang sepanjang 74 kilometer. Stasiun ini berada paling barat di Daerah Operasi VIII Surabaya lintas Bangil-Kertosono dan merupakan stasiun kereta api utama di Kabupaten Blitar. Semua kereta api penumpang yang melintasi jalur percabangan Kertosono\u2013Malang di lintas selatan dan tengah Pulau Jawa berhenti di stasiun ini. Stasiun ini memiliki empat jalur kereta api dengan jalur 2 merupakan sepur lurus dan jalur 3 yang sering digunakan untuk keberangkatan maupun kedatangan kereta api yang rangkaiannya cukup panjang. Stasiun Kesamben Stasiun Kesamben (KSB) adalah stasiun kereta api kelas III\/kecil yang terletak di Kesamben, Blitar. Bangunan Stasiun Kesamben ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda, yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen yang dimulai pada tahun 1896 dan selesai pada tahun 1897. Stasiun ini termasuk dalam pengelolaan Daerah Operasi VIII Surabaya dan KAI Commuter dengan jarak 121 km sebelah tenggara dari Kertosono. Stasiun ini hanya memiliki dua jalur kereta api dengan jalur 1 merupakan sepur lurus. Ketiga stasiun tersebut menjadi pusat transportasi kereta api di Blitar yang mengangkut hasil perkebunan seperti kopi, gula, teh dan hasil bumi lainnya pada masa pemerintahan Kolonial Belanda. De Karanganjar Koffieplantage adalah salah satu perkebunan kopi tertua yang telah berdiri sejak 1874. Perkebunan ini dulunya juga dikelola oleh perusahaan Belanda selama puluhan tahun, sebelum dilakukan proses nasionalisasi terhadap aset-asetnya oleh Presiden Soekarno pada tahun 1957. Adapun rute pengangkutan hasil perkebunan ini melalui kereta api masih ada hingga kini, menjadi bukti nyata dari sejarah panjang perkebunan ini. Apabila Anda ingin mengetahui lebih banyak tentang perkebunan ini, Anda bisa langsung berkunjung ke De Karanganjar Koffieplantage. Demikianlah artikel ini memberikan gambaran tentang sejarah dan perkembangan stasiun-stasiun kereta api di Blitar, serta bagaimana mereka telah membentuk dan mempengaruhi kota ini. Semoga artikel ini dapat memberikan wawasan dan pengetahuan baru bagi pembaca. Selamat menikmati wisata sejarah di Blitar!.<\/p>","protected":false},"author":4,"featured_media":3912,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[199],"tags":[369,268,368,370,263],"class_list":["post-3909","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-wisata","tag-belanda","tag-blitar","tag-peninggalan","tag-stasiun","tag-wisata"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3909","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3909"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3909\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3926,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3909\/revisions\/3926"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3912"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3909"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3909"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3909"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}