{"id":5219,"date":"2024-07-31T22:23:28","date_gmt":"2024-07-31T15:23:28","guid":{"rendered":"https:\/\/dekaranganjar.com\/?p=5219"},"modified":"2024-08-09T21:38:59","modified_gmt":"2024-08-09T14:38:59","slug":"kopi-perdamaian-de-karanganjar-2024-merajut-budaya-menyemai-perdamaian-di-blitar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/kopi-perdamaian-de-karanganjar-2024-merajut-budaya-menyemai-perdamaian-di-blitar\/","title":{"rendered":"Peace Coffee de Karanganjar 2024: Knitting Culture, Sowing Peace in Blitar"},"content":{"rendered":"<p> <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"5219\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >Coffee<\/a> Perdamaian de Karanganjar (KPK) adalah wajah baru dari Purnama Seruling Penataran (PSP), yang pertama kali sukses digelar pada tahun 2023.<\/p>\n<p>This event carries a similar concept to the previous PSP, which is a collaboration between local Blitar, Nusantara, and international artists.<\/p>\n<p>This year, the KPK will again be held in the Vredestuin De Karanganjar Koffieplantage area on 28 July 2024.<\/p>\n<p>This second year's concept still involves local Blitar artists who perform their best work in front of the audience.<\/p>\n<p>This event not only presents local artists, but also involves various related parties ranging from representatives of the Blitar District Government, the Tourism, Youth, Culture and Sports Office, to the general public.<\/p>\n<p>The artists who participated in the KPK performed a variety of cultural performances.<\/p>\n<p>Paguyuban Kledan Error menampilkan lagu Sholawat berjudul \u201cDungo Mandar\u201d, yang merupakan ajakan untuk menjaga dan melestarikan budaya Jawa sebagai identitas bangsa.<\/p>\n<p>This song contains prayers for the preservation of Javanese culture, especially among the younger generation, as well as hopes that this culture can develop and spread throughout the world.<\/p>\n<p>In addition, Gong Kyai Pradah, an intangible cultural heritage from Blitar Regency, was also displayed.<\/p>\n<p>This gong has a long history, being around 500 years old and was made during the time of King Brawijaya V of the Majapahit Kingdom.<\/p>\n<p>This gong is famous for its distinctive sound and is believed to have magical powers.<\/p>\n<p>Every year, the gong is cleaned and purified in the tradition of Jamasan Gong Kyai Pradah, which has become a cultural tourism attraction and has been designated as an Intangible Cultural Heritage by the Ministry of Education, Culture, Research and Technology of the Republic of Indonesia.<\/p>\n<p>Pecut Samandiman, the heirloom of the 3rd Blitar Regent, Kanjeng Pangeran Sosrohadinegoro (1915-1918), is also on display.<\/p>\n<p>According to myth, when the lava of Mount Kelud flows towards the pavilion, this whip is whipped and the sound is thunderous, separating the lava into two.<\/p>\n<p>This whip became known as Pecut Samandiman.<\/p>\n<p>Simo Lodoyo, a folktale from the Lodoyo area, describing the area across the river to the south that was once believed to be haunted and unchangeable by anyone, was also performed.<\/p>\n<p>This story is now part of the regional history that is being introduced to the wider community.<\/p>\n<p>In addition, there is Jaranan Kreasi Warok Suro Gemplo Darungan Kandangan Srengat Blitar, an art form derived from jaranan and then created with warok movements, resulting in a harmonious blend of art.<\/p>\n<p>Warok itself is a tradition and culture in the Darungan Kandangan neighbourhood that is full of values of bravery, martial arts, and majesty.<\/p>\n<p>Tari \u201cBadak Keling\u201d, diciptakan oleh Dewan Kesenian dan Budaya Desa Plosorejo, menggambarkan pasukan ksatria yang gagah berani, disimbolkan oleh badak keling (hitam) yang bertugas menjaga keamanan negeri.<\/p>\n<p>Barong Rampog, a fusion of Barongan dance and Rampogan Macan tradition, is also presented.<\/p>\n<p>This tradition was popular in Blitar in the 18th and 19th centuries and was banned in 1905 due to the declining Javan tiger population.<\/p>\n<p>Blitar artist Kholam Siharta recreated this tradition in the form of a dance to preserve it.<\/p>\n<p>The interesting fact is that this Blitar local culture has gone international and was awarded as Winner in Cheonan, Korea in 2011.<\/p>\n<p>Barongan Warak Modangan, a local art form from Modangan village, is also performed. This culture is motivated by the existence of the Warak statue that initiated the emergence of Barongan Warakan initiated by the young generation of Modangan village.<\/p>\n<p>Despite the cold temperature, the artists gave their best performance to the invited guests and audience.<\/p>\n<p>In addition to Blitar artists, the event was also enlivened by volunteers from abroad, including Yuliana Meneses Orduno from Mexico, Estefani Huaman Ayala from Peru, and Sabrina Joy Tan from the Philippines.<\/p>\n<p>Salah satu momen yang paling ditunggu adalah ritual \u201c <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"5219\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a> perdamaian\u201d di mana semua penampil disuguhi secangkir  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"5219\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a> oleh Wima Brahmantya, CEO dan inisiator acara PSP dan KPK. Ritual ini memperkenalkan  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"5219\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a> sebagai ikon KPK dan wajah baru PSP reborn 2023.<\/p>\n<p>Setelah ritual, semua penampil minum  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"5219\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a> perdamaian dan mendeklarasikan janji perdamaian bersama-sama yang mencakup menerima perbedaan antar manusia, menghormati kemanusiaan tanpa memandang suku, ras, bangsa, dan agama, serta menjunjung tinggi perdamaian dunia.<\/p>\n<p>The event was then closed with a group photo.<\/p>\n<p>Selain  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"5219\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >Coffee<\/a> Perdamaian de Karanganjar sebagai event tahunan, De Karanganjar Koffieplantage juga memiliki event bulanan berupa promo menarik bagi para pengunjung.<\/p>\n<p>This August, there is a Gebyar Wisata promo where visitors can get a studio photo discount of Rp. 50,000 only with the purchase of 4 postcards and purchases at OG Caf\u00e9 worth Rp. 100,000.<\/p>\n<p>So, don't miss out on this opportunity and bring your family, friends, or partner for a holiday at De Karanganjar Koffieplantage.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kopi Perdamaian de Karanganjar (KPK) adalah wajah baru dari Purnama Seruling Penataran (PSP), yang pertama kali sukses digelar pada tahun 2023. Acara ini mengusung konsep yang serupa dengan PSP sebelumnya, yaitu kolaborasi antara seniman lokal Blitar, Nusantara, dan internasional. Tahun ini, KPK kembali digelar di area Vredestuin De Karanganjar Koffieplantage pada tanggal 28 Juli 2024. Konsep tahun kedua ini tetap melibatkan seniman lokal Blitar yang menampilkan karya terbaik mereka di hadapan para penonton. Acara ini tidak hanya menghadirkan seniman lokal, tetapi juga melibatkan berbagai pihak terkait mulai dari perwakilan Pemerintah Kabupaten Blitar, Dinas Pariwisata, Pemuda, Budaya, dan Olahraga, hingga masyarakat umum. Para seniman yang berpartisipasi dalam KPK menampilkan beragam pertunjukan kebudayaan. Paguyuban Kledan Error menampilkan lagu Sholawat berjudul \u201cDungo Mandar\u201d, yang merupakan ajakan untuk menjaga dan melestarikan budaya Jawa sebagai identitas bangsa. Lagu ini mengandung doa agar budaya Jawa tetap lestari, khususnya di kalangan generasi muda, serta harapan agar budaya ini dapat berkembang dan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Selain itu, Gong Kyai Pradah, warisan budaya takbenda dari Kabupaten Blitar, juga turut ditampilkan. Gong ini memiliki sejarah panjang, berusia sekitar 500 tahun dan dibuat pada masa Raja Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit. Gong ini terkenal dengan bunyinya yang khas dan dipercaya memiliki kekuatan magis. Setiap tahun, gong ini dibersihkan dan disucikan dalam tradisi Jamasan Gong Kyai Pradah, yang menjadi daya tarik wisata budaya dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Pecut Samandiman, pusaka milik Bupati Blitar ke-3, Kanjeng Pangeran Sosrohadinegoro (1915-1918), juga dipamerkan. Menurut mitos, saat lahar Gunung Kelud mengalir menuju pendopo, pecut ini dilecutkan dan suaranya menggelegar, memisahkan lahar menjadi dua. Pecut ini kemudian dikenal sebagai Pecut Samandiman. Simo Lodoyo, cerita rakyat dari daerah Lodoyo, menggambarkan wilayah di seberang sungai sebelah selatan yang dulu diyakini sebagai tempat angker dan tidak bisa diubah oleh siapa pun, juga dipentaskan. Cerita ini kini menjadi bagian dari sejarah daerah yang diperkenalkan kepada masyarakat luas. Selain itu, ada Jaranan Kreasi Warok Suro Gemplo Darungan Kandangan Srengat Blitar, sebuah bentuk kesenian yang berasal dari jaranan dan kemudian dikreasikan dengan gerakan warok, menghasilkan perpaduan seni yang harmonis. Warok sendiri merupakan tradisi dan kebudayaan di lingkungan Darungan Kandangan yang sarat dengan nilai-nilai keberanian, seni bela diri, dan keagungan. Tari \u201cBadak Keling\u201d, diciptakan oleh Dewan Kesenian dan Budaya Desa Plosorejo, menggambarkan pasukan ksatria yang gagah berani, disimbolkan oleh badak keling (hitam) yang bertugas menjaga keamanan negeri. Barong Rampog, perpaduan tari Barongan dan tradisi Rampogan Macan, juga dihadirkan. Tradisi ini populer di Blitar pada abad ke-18 dan ke-19 dan sempat dilarang pada tahun 1905 karena menurunnya populasi macan Jawa. Seniman Blitar, Kholam Siharta, mengkreasikan kembali tradisi ini dalam bentuk tarian untuk melestarikannya. Fakta menariknya, budaya lokal Blitar ini sudah go internasional dan mendapat penghargaan sebagai Winner in Cheonan, Korea pada tahun 2011. Barongan Warak Modangan, kesenian lokal dari Desa Modangan, juga dipentaskan. Budaya ini dilatarbelakangi oleh keberadaan Arca Warak yang menginisiasi munculnya Barongan Warakan yang digagas oleh para generasi muda dari Desa Modangan. Meskipun suhu di lokasi dingin, para seniman tetap memberikan penampilan terbaik mereka di hadapan tamu undangan dan penonton. Selain penampilan seniman Blitar, acara ini juga dimeriahkan oleh volunteer dari mancanegara, di antaranya Yuliana Meneses Orduno dari Mexico, Estefani Huaman Ayala dari Peru, dan Sabrina Joy Tan dari Filipina. Salah satu momen yang paling ditunggu adalah ritual \u201c kopi perdamaian\u201d di mana semua penampil disuguhi secangkir kopi oleh Wima Brahmantya, CEO dan inisiator acara PSP dan KPK. Ritual ini memperkenalkan kopi sebagai ikon KPK dan wajah baru PSP reborn 2023. Setelah ritual, semua penampil minum kopi perdamaian dan mendeklarasikan janji perdamaian bersama-sama yang mencakup menerima perbedaan antar manusia, menghormati kemanusiaan tanpa memandang suku, ras, bangsa, dan agama, serta menjunjung tinggi perdamaian dunia. Acara kemudian ditutup dengan foto bersama. Selain Kopi Perdamaian de Karanganjar sebagai event tahunan, De Karanganjar Koffieplantage juga memiliki event bulanan berupa promo menarik bagi para pengunjung. Pada bulan Agustus ini, ada promo Gebyar Wisata di mana pengunjung bisa mendapatkan diskon foto studio sebesar Rp. 50.000 hanya dengan melakukan pembelian 4 postcard dan pembelian di OG Caf\u00e9 senilai Rp. 100.000. Jadi, jangan lewatkan kesempatan ini dan ajak keluarga, teman, atau pasangan untuk berlibur di De Karanganjar Koffieplantage.<\/p>","protected":false},"author":4,"featured_media":5220,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[199],"tags":[537,268,366,294,225,734,733,732,263],"class_list":["post-5219","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-wisata","tag-537","tag-blitar","tag-budaya","tag-karanganjar","tag-kopi","tag-menyemai","tag-merajut","tag-perdamaian","tag-wisata"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5219","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5219"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5219\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5221,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5219\/revisions\/5221"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5220"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5219"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5219"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5219"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}