{"id":5268,"date":"2024-08-17T22:42:32","date_gmt":"2024-08-17T15:42:32","guid":{"rendered":"https:\/\/dekaranganjar.com\/?p=5268"},"modified":"2024-08-24T22:46:16","modified_gmt":"2024-08-24T15:46:16","slug":"upacara-17-an-djadoel-di-perkebunan-peninggalan-kolonial","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/17th-century-djadoel-colonial-heritage-plantation-ceremony\/","title":{"rendered":"A Djadoel 17s Ceremony at a Colonial Plantation"},"content":{"rendered":"<p>Independence Day celebrations at Karanganjar Coffee Plantation are always filled with a festive atmosphere and full of emotions.<\/p>\n<p>There are various ways to revive the spirit of nationalism among the people, both young and old.<\/p>\n<p>One of the important activities carried out is the flag ceremony, which involves various layers of society, including local agencies.<\/p>\n<p>The \"17s ceremony\" has become an annual event at Karanganjar Coffee Plantation.<\/p>\n<p>Although this tradition existed in the past, over time, this ceremony was absent for several years.<\/p>\n<p>However, in 2015, the tradition was revived with vigour.<\/p>\n<p>The ceremony started at 08.00 and lasted until 09.00 WIB at the De Karanganjar Koffieplantage office yard.<\/p>\n<p>The ceremony was attended by all staff and employees of PT Harta Mulia, volunteers from abroad, representatives of local agencies, and students of Harapan Nasional Kindergarten and Perwanida Kindergarten.<\/p>\n<p>What makes this ceremony unique is the use of an old-timey version of the \"Indonesia Raya\" song, played with a distinctive \"cempreng and kresek-kresek\" sound, adding a nostalgic and authentic feel to the commemoration.<\/p>\n<p>Although there were no military officers or paskibraka on duty, and there were some minor mistakes in the execution, the spirit of nationalism was strong among all participants.<\/p>\n<p>The ceremony may be simple, but it is no less important than the state ceremony at the State Palace.<\/p>\n<p>In fact, the ambassadors present at this ceremony were interns from various countries, such as Vietnam.<\/p>\n<p>Unlike the ceremony at the State Palace, here they participated in saluting the Red and White flag, a unique and touching experience.<\/p>\n<p>After the ceremony, the activity continued with various competitions that were attended by Harapan Nasional Kindergarten and Perwanida Kindergarten students.<\/p>\n<p>These competitions, such as cracker-eating, colouring and marbles, were held in the Vredestuin De Karanganjar Koffieplantage area.<\/p>\n<p>This activity not only added to the excitement, but also strengthened the sense of community and fighting spirit among the participants.<\/p>\n<p>The meaning of independence here lies not only in symbolic celebrations, but also in efforts to maintain and instil the values of nationalism in the next generation.<\/p>\n<p>Through this simple yet meaningful activity, the spirit of independence is maintained and passed on, reminding us of the importance of unity and togetherness in maintaining the hard-fought independence.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perayaan Hari Kemerdekaan di Perkebunan Kopi Karanganjar selalu dipenuhi dengan suasana yang meriah dan penuh emosi. Berbagai cara dilakukan untuk membangkitkan semangat nasionalisme di kalangan masyarakat, baik yang muda maupun yang tua. Salah satu kegiatan penting yang dilakukan adalah upacara bendera, yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat, termasuk instansi setempat. &#8220;Upacara 17-an&#8221; telah menjadi agenda tahunan di Perkebunan Kopi Karanganjar. Meski pada masa lalu tradisi ini sudah ada, seiring berjalannya waktu, upacara ini sempat absen selama beberapa tahun. Namun, pada tahun 2015, tradisi ini kembali dihidupkan dengan penuh semangat. Upacara dimulai pukul 08.00 dan berlangsung hingga pukul 09.00 WIB di halaman kantor De Karanganjar Koffieplantage. Upacara ini diikuti oleh seluruh staf dan karyawan PT Harta Mulia, volunteer dari mancanegara, perwakilan instansi setempat, serta siswa TK Harapan Nasional dan TK Perwanida. Yang membuat upacara ini unik adalah penggunaan lagu &#8220;Indonesia Raya&#8221; versi tempo doeloe, yang diputar dengan suara khas &#8220;cempreng dan kresek-kresek,&#8221; menambah nuansa nostalgis dan autentik pada peringatan tersebut. Meskipun tidak ada petugas militer atau paskibraka yang bertugas, dan ada beberapa kesalahan kecil dalam pelaksanaannya, semangat nasionalisme tetap terasa kuat di kalangan seluruh peserta. Upacara ini mungkin sederhana, namun tidak kalah penting dibandingkan dengan upacara kenegaraan di Istana Negara. Bahkan, duta besar yang hadir di upacara ini adalah anak-anak magang dari berbagai negara, seperti Vietnam. Berbeda dengan upacara di Istana Negara, di sini mereka turut serta memberi hormat kepada bendera Merah Putih, sebuah pengalaman yang unik dan menyentuh. Setelah upacara selesai, kegiatan dilanjutkan dengan berbagai perlombaan yang diikuti oleh siswa TK Harapan Nasional dan TK Perwanida. Perlombaan ini, seperti lomba makan kerupuk, mewarnai, dan kelereng, diadakan di area Vredestuin De Karanganjar Koffieplantage. Kegiatan ini tidak hanya menambah kemeriahan, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan dan semangat juang di kalangan peserta. Makna kemerdekaan di sini tidak hanya terletak pada perayaan simbolis, tetapi juga pada upaya menjaga dan menanamkan nilai-nilai nasionalisme kepada generasi penerus. Melalui kegiatan yang sederhana namun penuh makna ini, semangat kemerdekaan terus dijaga dan diwariskan, mengingatkan kita akan pentingnya persatuan dan kebersamaan dalam merawat kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan susah payah.<\/p>","protected":false},"author":4,"featured_media":5269,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[199],"tags":[764,650,323,368,525,765,263],"class_list":["post-5268","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-wisata","tag-17-an","tag-djadoel","tag-kolonial","tag-peninggalan","tag-perkebunan","tag-upacara","tag-wisata"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5268","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5268"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5268\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5271,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5268\/revisions\/5271"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5269"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5268"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5268"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5268"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}