{"id":5327,"date":"2024-09-18T21:57:53","date_gmt":"2024-09-18T14:57:53","guid":{"rendered":"https:\/\/dekaranganjar.com\/?p=5327"},"modified":"2024-09-20T22:40:33","modified_gmt":"2024-09-20T15:40:33","slug":"kebun-rojo-blitar-dari-laboratorium-kolonial-ke-ikon-kota","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/kebun-rojo-blitar-dari-laboratorium-kolonial-ke-ikon-kota\/","title":{"rendered":"Kebun Rojo Blitar: From Colonial Laboratory to City Icon"},"content":{"rendered":"<p>Ever imagined a green park that has stood majestically since the Dutch colonial era?<\/p>\n<p>A park that holds a lot of history and is a silent witness to the development of Blitar?<\/p>\n<p>That's Bon Rojo, a green oasis amidst the hustle and bustle of the city that holds its own charm.<\/p>\n<p>Bon Rojo is one of Blitar's iconic green open spaces, offering a long history that dates back to the Dutch East Indies colonial era.<\/p>\n<p>Estimated to have existed since 1890, this park continues to grow and become an integral part of Blitar's identity.<\/p>\n<p>In addition to functioning as the city's lungs, Bon Rojo also witnesses the changes in Blitar, especially the Bendogerit area, which was once known as a bustling centre.<\/p>\n<p>In his book Bon Rojo (2022), Jeffry Dwi Kurniawan mentions that this park was located in the Bendogerit area, a strategic area in its day.<\/p>\n<p>To the north is the official residence of the mayor or burgemeester, which in colonial times served as the office of the plantation's Controleer.<\/p>\n<p>Bon Rojo's strategic location is further emphasised by its presence amongst important buildings that add to the park's historical significance.<\/p>\n<p>To the east, the park is bordered by St Joseph's Church, a parish, and the former Catholic HIS school, now known as SMAK Diponegoro Blitar.<\/p>\n<p>To the south is OSVIA Blitar, an educational institution during the colonial period, and to the west flows the Urung-urung River.<\/p>\n<p>Jeffry also added that Bon Rojo is one of the most beautiful green open spaces, with natural preservation that can only be matched by big cities such as Malang, Bogor and Medan.<\/p>\n<p>This is confirmed in the same book by Kunto, who mentions that Blitar had triumphed in terms of city cleanliness, competing with Madiun, Makassar, and Medan in its time.<\/p>\n<p>Nama \u201cBon Rojo\u201d sendiri memiliki beberapa versi mengenai asal usulnya, yang semakin memperkaya sejarah dan budaya taman ini.<\/p>\n<p>Versi pertama menyebutkan bahwa \u201cBon Rojo\u201d berasal dari kata \u201cKebon Rojo,\u201d yang dalam bahasa Jawa berarti kebun milik raja.<\/p>\n<p>Sementara versi lain menghubungkannya dengan \u201ckebun raya,\u201d mengingat pelafalan huruf \u201cJ\u201d dalam bahasa Jawa sering kali berubah menjadi \u201cY.\u201d<\/p>\n<p>Selain itu, ada juga versi yang menyebutkan bahwa Bon Rojo bermakna \u201ckebun praja,\u201d yang menunjukkan bahwa taman ini difungsikan sebagai kebun kota.<\/p>\n<p>However, Blitar people generally recognise and use the first version, which refers to Kebon Rojo as the king's garden. In addition to these three versions, the park is also known as Kebon Retjo, which refers to the Ganesha statue and Kinewu inscription that were placed in the park area. In the 1960s, the statue was moved to the district pavilion, and is currently kept at the Penataran Museum for better care, while a new Ganesha statue was installed in the park itself as a replacement.<\/p>\n<p>In addition to its rich history of symbolism and culture, Bon Rojo also plays an important role in the context of agriculture during the Dutch East Indies.<\/p>\n<p>This park was originally built by the colonial government as a laboratory for superior plants. In this place, various types of plants, such as protected trees, ornamental plants, flowers, and various varieties of grass, are cultivated as an effort to support plantations in Blitar.<\/p>\n<p>The Bataviaasch Niewblad newspaper published on 19 December 1907 even referred to Bon Rojo as a miniature Bogor Botanical Garden because of its similar function as a plant research and development centre.<\/p>\n<p>The laboratory plays a key role in the development of agriculture and plantations in the Blitar region, making it not just a city park, but also a centre of innovation in agriculture.<\/p>\n<p>Bon Rojo is not only a silent witness to Blitar's historical development, but also reflects how the colonial legacy lives on through the agricultural and plantation landscape.<\/p>\n<p>Salah satu contoh nyata lainnya adalah Perkebunan Karanganjar, yang berdiri sejak masa kolonial dan hingga kini dikenal sebagai produsen  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"5327\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a> berkualitas tinggi.<\/p>\n<p>Perkebunan ini telah berkembang dari sekadar penghasil  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"5327\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a> biasa menjadi salah satu produsen  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"5327\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a> unggulan di Indonesia, dengan inovasi seperti  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"5327\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a> beraroma buah yang semakin meningkatkan daya tariknya di pasar nasional maupun internasional.<\/p>\n<p>Just as Bon Rojo once served as a laboratory for superior crops, Karanganjar Plantation also reflects the agricultural expertise passed down since colonial times.<\/p>\n<p>Kini, perkebunan tersebut terus berinovasi dan berperan penting dalam industri  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"5327\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a> Indonesia. Keduanya, baik Bon Rojo maupun Perkebunan Karanganjar, menunjukkan bagaimana kota Blitar tetap mempertahankan tradisi agrikultur yang kaya, sambil terus beradaptasi dan berkembang di era modern.<\/p>\n<p>This connection between history and innovation not only enriches local culture, but also elevates Blitar's name in the national and international arena.<\/p>\n<p>Bon Rojo is not only a silent witness to Blitar's historical development, but also reflects how the colonial legacy lives on through the agricultural and plantation landscape.<\/p>\n<p>Salah satu contoh nyata lainnya adalah Perkebunan Karanganjar, yang berdiri sejak masa kolonial dan hingga kini dikenal sebagai produsen  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"5327\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a> berkualitas tinggi.<\/p>\n<p>Perkebunan ini telah berkembang dari sekadar penghasil  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"5327\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a> biasa menjadi salah satu produsen  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"5327\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a> unggulan di Indonesia, dengan inovasi seperti  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"5327\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a> beraroma buah yang semakin meningkatkan daya tariknya di pasar nasional maupun internasional.<\/p>\n<p>Just as Bon Rojo once served as a laboratory for superior crops, Karanganjar Plantation also reflects the agricultural expertise passed down since colonial times.<\/p>\n<p>Kini, perkebunan tersebut terus berinovasi dan berperan penting dalam industri  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"5327\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a> Indonesia. Keduanya, baik Bon Rojo maupun Perkebunan Karanganjar, menunjukkan bagaimana kota Blitar tetap mempertahankan tradisi agrikultur yang kaya, sambil terus beradaptasi dan berkembang di era modern.<\/p>\n<p>This connection between history and innovation not only enriches local culture, but also elevates Blitar's name in the national and international arena.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pernah membayangkan sebuah taman hijau yang telah berdiri megah sejak zaman penjajahan Belanda? Taman yang menyimpan segudang sejarah dan menjadi saksi bisu perkembangan kota Blitar? Itulah Bon Rojo, sebuah oase hijau di tengah hiruk pikuk perkotaan yang menyimpan pesona tersendiri. Bon Rojo merupakan salah satu ruang terbuka hijau yang ikonis di Blitar, menawarkan jejak sejarah panjang yang dimulai sejak era kolonial Hindia Belanda. Diperkirakan telah ada sejak tahun 1890, taman ini terus berkembang dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kota Blitar. Selain berfungsi sebagai paru-paru kota, Bon Rojo juga menjadi saksi perubahan kota Blitar, terutama kawasan Bendogerit yang pada masa lampau dikenal sebagai pusat keramaian. Dalam bukunya yang berjudul Bon Rojo (2022), Jeffry Dwi Kurniawan menyebutkan bahwa taman ini berada di daerah Bendogerit, sebuah kawasan strategis pada zamannya. Di sebelah utaranya terdapat rumah dinas walikota atau burgemeester, yang pada masa kolonial berfungsi sebagai kantor Controleer perkebunan. Letak strategis Bon Rojo semakin diperjelas dengan keberadaannya di antara berbagai bangunan penting yang menambah nilai sejarah taman ini. Di sebelah timur, taman ini berbatasan dengan Gereja Santo Yusuf, paroki, dan bekas sekolah HIS Katolik yang kini dikenal sebagai SMAK Diponegoro Blitar. Sementara itu, di sebelah selatan terdapat OSVIA Blitar, lembaga pendidikan pada masa kolonial, dan di sebelah baratnya mengalir Sungai Urung-urung. Jeffry juga menambahkan bahwa Bon Rojo menjadi salah satu ruang terbuka hijau yang begitu indah dan asri, dengan kelestarian alam yang hanya dapat ditandingi oleh kota-kota besar seperti Malang, Bogor, dan Medan. Hal ini dipertegas dalam buku yang sama oleh Kunto, yang menyebut bahwa Blitar sempat berjaya dalam hal kebersihan kota, bersaing dengan Madiun, Makassar, dan Medan pada masanya. Nama \u201cBon Rojo\u201d sendiri memiliki beberapa versi mengenai asal usulnya, yang semakin memperkaya sejarah dan budaya taman ini. Versi pertama menyebutkan bahwa \u201cBon Rojo\u201d berasal dari kata \u201cKebon Rojo,\u201d yang dalam bahasa Jawa berarti kebun milik raja. Sementara versi lain menghubungkannya dengan \u201ckebun raya,\u201d mengingat pelafalan huruf \u201cJ\u201d dalam bahasa Jawa sering kali berubah menjadi \u201cY.\u201d Selain itu, ada juga versi yang menyebutkan bahwa Bon Rojo bermakna \u201ckebun praja,\u201d yang menunjukkan bahwa taman ini difungsikan sebagai kebun kota. Meski demikian, masyarakat Blitar umumnya lebih mengenal dan menggunakan versi pertama, yaitu Kebon Rojo sebagai kebun milik raja. Selain ketiga versi tersebut, taman ini juga dikenal dengan sebutan Kebon Retjo, yang merujuk pada keberadaan arca Ganesha dan Prasasti Kinewu yang dahulu ditempatkan di area taman. Pada tahun 1960-an, arca tersebut dipindahkan ke pendopo kabupaten, dan saat ini disimpan di Museum Penataran untuk perawatan yang lebih baik, sedangkan di taman itu sendiri dipasang arca Ganesha yang baru sebagai pengganti. Selain sejarahnya yang kaya akan simbolisme dan budaya, Bon Rojo juga memiliki peran penting dalam konteks agrikultur pada masa Hindia Belanda. Taman ini awalnya dibangun oleh pemerintah kolonial sebagai laboratorium tanaman unggulan. Di tempat ini, berbagai jenis tanaman, seperti pohon lindung, tanaman hias, bunga-bungaan, dan berbagai varietas rumput, dibudidayakan sebagai upaya untuk mendukung perkebunan di Blitar. Surat kabar Bataviaasch Niewblad yang terbit pada 19 Desember 1907 bahkan menyebut Bon Rojo sebagai miniatur Kebun Raya Bogor karena fungsinya yang serupa sebagai pusat penelitian dan pengembangan tanaman. Laboratorium ini memainkan peran kunci dalam pengembangan pertanian dan perkebunan di wilayah Blitar, menjadikannya bukan hanya sekadar taman kota, tetapi juga pusat inovasi dalam bidang agrikultur. Bon Rojo tidak hanya menjadi saksi bisu perkembangan sejarah Blitar, tetapi juga mencerminkan bagaimana warisan kolonial tetap hidup melalui lanskap pertanian dan perkebunan. Salah satu contoh nyata lainnya adalah Perkebunan Karanganjar, yang berdiri sejak masa kolonial dan hingga kini dikenal sebagai produsen kopi berkualitas tinggi. Perkebunan ini telah berkembang dari sekadar penghasil kopi biasa menjadi salah satu produsen kopi unggulan di Indonesia, dengan inovasi seperti kopi beraroma buah yang semakin meningkatkan daya tariknya di pasar nasional maupun internasional. Sama seperti Bon Rojo yang pada masa lampau berfungsi sebagai laboratorium tanaman unggulan, Perkebunan Karanganjar juga mencerminkan keahlian agrikultur yang diwariskan sejak zaman kolonial. Kini, perkebunan tersebut terus berinovasi dan berperan penting dalam industri kopi Indonesia. Keduanya, baik Bon Rojo maupun Perkebunan Karanganjar, menunjukkan bagaimana kota Blitar tetap mempertahankan tradisi agrikultur yang kaya, sambil terus beradaptasi dan berkembang di era modern. Keterkaitan antara sejarah dan inovasi ini tidak hanya memperkaya budaya lokal, tetapi juga mengangkat nama Blitar di kancah nasional dan internasional. Bon Rojo tidak hanya menjadi saksi bisu perkembangan sejarah Blitar, tetapi juga mencerminkan bagaimana warisan kolonial tetap hidup melalui lanskap pertanian dan perkebunan. Salah satu contoh nyata lainnya adalah Perkebunan Karanganjar, yang berdiri sejak masa kolonial dan hingga kini dikenal sebagai produsen kopi berkualitas tinggi. Perkebunan ini telah berkembang dari sekadar penghasil kopi biasa menjadi salah satu produsen kopi unggulan di Indonesia, dengan inovasi seperti kopi beraroma buah yang semakin meningkatkan daya tariknya di pasar nasional maupun internasional. Sama seperti Bon Rojo yang pada masa lampau berfungsi sebagai laboratorium tanaman unggulan, Perkebunan Karanganjar juga mencerminkan keahlian agrikultur yang diwariskan sejak zaman kolonial. Kini, perkebunan tersebut terus berinovasi dan berperan penting dalam industri kopi Indonesia. Keduanya, baik Bon Rojo maupun Perkebunan Karanganjar, menunjukkan bagaimana kota Blitar tetap mempertahankan tradisi agrikultur yang kaya, sambil terus beradaptasi dan berkembang di era modern. Keterkaitan antara sejarah dan inovasi ini tidak hanya memperkaya budaya lokal, tetapi juga mengangkat nama Blitar di kancah nasional dan internasional.<\/p>","protected":false},"author":4,"featured_media":5328,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[199],"tags":[268,429,796,794,323,571,797,795,263],"class_list":["post-5327","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-wisata","tag-blitar","tag-dari","tag-ikon","tag-kebun","tag-kolonial","tag-kota","tag-laboratorium","tag-rojo","tag-wisata"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5327","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5327"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5327\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5329,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5327\/revisions\/5329"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5328"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5327"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5327"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5327"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}