{"id":5354,"date":"2024-09-27T15:33:39","date_gmt":"2024-09-27T08:33:39","guid":{"rendered":"https:\/\/dekaranganjar.com\/?p=5354"},"modified":"2024-09-27T15:33:59","modified_gmt":"2024-09-27T08:33:59","slug":"prasasti-karangtengah-jejak-peradaban-blitar-sejak-abad-ke-7","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/prasasti-karangtengah-jejak-peradaban-blitar-sejak-abad-ke7\/","title":{"rendered":"Karangtengah Inscription: Traces of Blitar Civilisation Since the 7th Century"},"content":{"rendered":"<p>Behind the glittering celebration of Blitar's Anniversary, which always falls on 5 August, there is a historical mystery that is rarely revealed, namely the existence of the Karangtengah Inscription.<\/p>\n<p>Is the city really 700 years old, as it is believed to be?<\/p>\n<p>Or perhaps older than those recorded in official inscriptions? This question began to arouse the curiosity of many people after the discovery of an ancient relic that could change our view of Blitar's origins.<\/p>\n<p>The Karangtengah inscription, opening a new chapter in the city's history, reveals the startling fact that Blitar civilisation may have flourished long before the 14th century, even as early as the 7th century AD.<\/p>\n<p>The establishment of Blitar Anniversary on 5 August is based on the Balitar I Inscription, which was inaugurated by King Jayanegara in 1324 AD.<\/p>\n<p>This inscription marked Blitar's existence at that time, and until now, the date is always remembered as an important milestone in the city's history.<\/p>\n<p>However, historians and researchers continue to debate the true age of the city.<\/p>\n<p>There is an opinion that Blitar may be much older than expected, even exceeding 700 years, based on various other historical findings.<\/p>\n<p>One of the most important discoveries in this debate is the Karangtengah Inscription, which was found in Karangtengah Village, Blitar.<\/p>\n<p>This inscription adds to Blitar's rich history, showing that the city has been an important centre of civilisation since the 7th century AD.<\/p>\n<p>With the date written on the inscription, 671 Saka or around 749 AD, Blitar is believed to have been a developed region long before the heyday of the Majapahit Kingdom.<\/p>\n<p>In-depth research into the Karangtengah Inscription led by Gus Dian, a renowned anthropologist, revealed that the inscription dates back to the Kalingga Kingdom, precisely during the reign of the last King, Shri Mahaprabhaja Panangkarama.<\/p>\n<p>This inscription contains information about the granting of sima swatantra - or tax-free land - in the agricultural region of Karangtengah as a form of appreciation to the local people who helped the kingdom in winning the war.<\/p>\n<p>This gift of tax-free land shows how important the region was to the Kingdom of Kalingga, as well as how advanced the civilisation of Blitar had become since that time.<\/p>\n<p>However, this discovery did not stop at the excavation of the history of the Kingdom of Kalingga.<\/p>\n<p>Furthermore, the Karangtengah Inscription illustrates how vital the region was as a productive agricultural centre.<\/p>\n<p>According to preliminary research, the soil in the Karangtengah area is known for producing lulut rice, a type of rice that is resistant to floods and lahars.<\/p>\n<p>The existence of this rice proves the ability of the ancient Blitar people to adapt to the environment and develop sophisticated agricultural technology.<\/p>\n<p>In addition, the Karangtengah Inscription is also proof that Blitar has played an important role in Javanese history since thousands of years ago.<\/p>\n<p>This was emphasised by Sasmitro, Chairman of Pokdarwis Wono Madyo in Karangtengah Village, who asserted that this inscription not only records history, but is also an important symbol that can educate the community about their cultural heritage.<\/p>\n<p>The discovery and research carried out on the Karangtengah Inscription not only opens the veil of a long history, but also becomes an important mirror for modern society to appreciate and preserve the heritage of their ancestors.<\/p>\n<p>With this inscription, Blitar is increasingly recognised as a city with a deep and rich history that goes beyond the official age of its anniversary.<\/p>\n<p>Although research into this inscription is still ongoing, great hope exists that more and more experts from various fields will make further contributions to deepen the understanding of Blitar's history and existing cultural heritage.<\/p>\n<p>The discovery of the Karangtengah Inscription also opens up great opportunities for the development of educational tourism in Blitar, where local communities and tourists from all over can get to know more about the Blitar civilisation that has existed for thousands of years.<\/p>\n<p>In addition to the Karangtengah Inscription, the De Karanganjar Koffieplantage Plantation also has a shrine known as the Karangtengah Inscription. <em>Gadhung Melati<\/em>.<\/p>\n<p>This site still holds its own mystery because the truth has not been confirmed.<\/p>\n<p>The existing sources are mostly oral stories passed down from generation to generation by the local community.<\/p>\n<p>Without the support of stronger written or archaeological evidence, Gadhung Melati remains a part of local history that continues to attract attention, while inviting further questions about the cultural and historical heritage of this plantation area.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di balik gemerlap perayaan Hari Jadi Blitar yang selalu jatuh pada 5 Agustus, tersimpan sebuah misteri sejarah yang jarang terungkap, yakni keberadaan Prasasti Karangtengah. Apakah kota ini benar-benar berusia 700 tahun, seperti yang selama ini diyakini? Atau mungkin lebih tua dari yang tercatat dalam prasasti resmi? Pertanyaan ini mulai menggugah rasa ingin tahu banyak orang setelah ditemukannya sebuah peninggalan kuno yang mampu mengubah pandangan kita tentang asal-usul Blitar. Prasasti Karangtengah, membuka lembaran baru dalam sejarah kota ini, mengungkapkan fakta yang mengejutkan bahwa peradaban Blitar mungkin telah berkembang jauh sebelum abad ke-14, bahkan sejak abad ke-7 Masehi. Penetapan Hari Jadi Blitar pada tanggal 5 Agustus didasarkan pada Prasasti Balitar I, yang diresmikan oleh Raja Jayanegara pada tahun 1324 Masehi. Prasasti ini menandai eksistensi Blitar pada masa itu, dan hingga kini, tanggal tersebut selalu dikenang sebagai tonggak penting bagi sejarah kota ini. Meskipun begitu, para sejarawan dan peneliti tetap memperdebatkan usia sebenarnya dari kota ini. Ada pendapat bahwa Blitar mungkin jauh lebih tua dari yang diperkirakan, bahkan melebihi 700 tahun, berdasarkan berbagai temuan sejarah lainnya. Salah satu penemuan paling penting dalam perdebatan ini adalah Prasasti Karangtengah, yang ditemukan di Kelurahan Karangtengah, Blitar. Prasasti ini menambah kekayaan sejarah Blitar, menunjukkan bahwa kota ini telah menjadi pusat peradaban penting sejak abad ke-7 Masehi. Dengan tanggal yang tertulis pada prasasti tersebut, yakni tahun 671 Saka atau sekitar 749 Masehi, Blitar diyakini telah menjadi wilayah yang maju jauh sebelum masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Penelitian mendalam terhadap Prasasti Karangtengah yang dipimpin oleh Gus Dian, seorang antropolog terkenal, mengungkapkan bahwa prasasti ini berasal dari masa Kerajaan Kalingga, tepatnya pada masa pemerintahan Raja terakhir, Shri Mahaprabhaja Panangkarama. Prasasti ini berisi informasi tentang pemberian sima swatantra\u2014atau tanah bebas pajak\u2014di wilayah agraris Karangtengah sebagai bentuk penghargaan kepada masyarakat setempat yang membantu kerajaan dalam memenangkan peperangan. Hadiah tanah bebas pajak ini menunjukkan betapa pentingnya wilayah ini bagi Kerajaan Kalingga, serta betapa majunya peradaban Blitar sejak masa itu. Namun, penemuan ini tidak berhenti hanya pada penggalian sejarah Kerajaan Kalingga. Lebih jauh lagi, Prasasti Karangtengah menggambarkan betapa vitalnya wilayah tersebut sebagai pusat agraris yang produktif. Menurut penelitian awal, tanah di daerah Karangtengah dikenal sebagai penghasil padi lulut, sejenis padi yang tahan terhadap banjir dan lahar. Keberadaan padi ini membuktikan kemampuan masyarakat Blitar kuno dalam beradaptasi dengan lingkungan dan mengembangkan teknologi pertanian yang canggih. Selain itu, Prasasti Karangtengah juga menjadi bukti bahwa Blitar telah memainkan peran penting dalam sejarah Jawa sejak ribuan tahun lalu. Hal ini ditekankan oleh Sasmitro, Ketua Pokdarwis Wono Madyo di Kelurahan Karangtengah, yang menegaskan bahwa prasasti ini tidak hanya mencatat sejarah, tetapi juga menjadi simbol penting yang dapat mengedukasi masyarakat tentang warisan budaya mereka. Penemuan dan penelitian yang dilakukan terhadap Prasasti Karangtengah tidak hanya membuka tabir sejarah yang panjang, tetapi juga menjadi cermin penting bagi masyarakat modern untuk menghargai dan melestarikan warisan nenek moyang mereka. Dengan keberadaan prasasti ini, Blitar semakin diakui sebagai kota yang memiliki sejarah mendalam dan kaya, yang melampaui sekadar usia resmi perayaan Hari Jadi-nya. Meskipun penelitian terhadap prasasti ini masih terus berlanjut, harapan besar muncul bahwa semakin banyak ahli dari berbagai bidang akan memberikan kontribusi lebih lanjut untuk memperdalam pemahaman tentang sejarah Blitar dan warisan budaya yang ada. Penemuan Prasasti Karangtengah ini juga membuka peluang besar bagi pengembangan wisata edukatif di Blitar, di mana masyarakat lokal dan wisatawan dari berbagai penjuru dapat lebih mengenal peradaban Blitar yang telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Selain Prasasti Karangtengah, di Perkebunan De Karanganjar Koffieplantage juga terdapat sebuah petilasan yang dikenal dengan nama Gadhung Melati. Situs ini hingga kini masih menyimpan misteri tersendiri karena kebenarannya belum dapat dipastikan. Sumber yang ada sebagian besar hanya berupa cerita lisan yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat sekitar. Tanpa dukungan bukti tertulis atau arkeologis yang lebih kuat, Gadhung Melati tetap menjadi salah satu bagian dari sejarah lokal yang terus menarik perhatian, sekaligus mengundang pertanyaan lebih lanjut tentang warisan budaya dan sejarah di kawasan perkebunan ini.<\/p>","protected":false},"author":4,"featured_media":5188,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[199],"tags":[729,268,279,812,815,813,814,321,263],"class_list":["post-5354","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-wisata","tag-abad","tag-blitar","tag-jejak","tag-karangtengah","tag-ke-7","tag-peradaban","tag-prasasti","tag-sejak","tag-wisata"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5354","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5354"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5354\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5357,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5354\/revisions\/5357"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5188"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5354"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5354"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5354"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}