{"id":6209,"date":"2025-08-17T01:21:19","date_gmt":"2025-08-16T18:21:19","guid":{"rendered":"https:\/\/dekaranganjar.com\/?p=6209"},"modified":"2025-09-01T01:31:09","modified_gmt":"2025-08-31T18:31:09","slug":"6209-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/6209-2\/","title":{"rendered":"Upacara Jadul 17 Agustus Ala De Karanganjar"},"content":{"rendered":"<p>Setiap tanggal 17 Agustus, Indonesia mengenang hari kemerdekaannya dengan berbagai upacara dan perayaan yang penuh semangat nasionalisme. <\/p>\n<p>Namun, bagaimana jika upacara kemerdekaan tersebut diselenggarakan dengan gaya kolonial, di sebuah tempat yang sarat sejarah seperti Dekarangjar Koffieplantage? <\/p>\n<p>Berbeda dengan upacara kemerdekaan di sekolah atau kantor pemerintahan pada umumnya, upacara 17 Agustus ala kolonial di Dekarangjar Koffieplantage mengusung nuansa sejarah dan edukasi. <\/p>\n<p>Upacara 17-an sudah lama menjadi tradisi di Keboen  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"6209\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >Coffee<\/a> Karanganjar. <\/p>\n<p>Meski sempat absen selama beberapa waktu, tradisi ini dihidupkan kembali sejak 2015 ketika seorang pimpinan perusahaan yang telah lama mencintai sejarah dan kebun  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"6209\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a> ini mengambil inisiatif untuk membawa kembali semangat lama dengan sentuhan baru yang otentik dan unik. <\/p>\n<p>Bayangkan saja, upacara kemerdekaan di sini berbeda dari biasanya, di mana lagu \u201cIndonesia Raya\u201d yang diputar adalah versi tempo doeloe dengan suara khas \u201ccempreng dan kresek-kreseknya\u201d yang membawa suasana nostalgia.<\/p>\n<p>Selain itu, masih ada beberapa hal unik dan menyentuh hati yang menjadikan upacara 17-an di Karanganjar berbeda dan berkesan:<br>\n\u2022 Pembina upacara memasuki lapangan dengan menunggang kuda asli yang memang ada kandangnya di kebun, sehingga membawa suasana kolosal yang jarang terlihat di upacara lain.<\/p>\n<p>\u2022 Meski tanpa kehadiran pasukan militer atau tim paskibraka, upacara tetap berjalan penuh semangat dan khidmat, dengan kesalahan kecil yang justru menambah keaslian dan kehangatan suasana.<\/p>\n<p>\u2022 Semua staf dan karyawan, menjadi petugas upacara.<\/p>\n<p>\u2022 Upacara ini juga dihadiri duta-duta besar versi unik: anak-anak magang dari berbagai negara, yang lelaki harus menghormati bendera merah putih bersama peserta lain dengan penuh semangat (tentu dengan canda khas \u201cpenjajahan terselubung\u201d).<\/p>\n<p>\u2022 Setelah upacara, berbagai perlombaan khas kemerdekaan pun diselenggarakan seperti lomba makan kerupuk dan lain sebagainya.<\/p>\n<p>Salah satu aspek yang sangat kentara dan penuh makna dalam upacara 17 Agustus 2025 di De Karanganjar Koffieplantage adalah penggunaan baju jadul atau pakaian ala kolonial dan perjuangan masa lampau. <\/p>\n<p>Pemilihan kostum ini bukan sekadar untuk memperkuat suasana vintage atau nostalgia saja, melainkan mengandung filosofi dalam yang mengajak semua peserta dan pengunjung untuk menyelami perjalanan sejarah bangsa secara lebih personal dan reflektif.<\/p>\n<p>Dengan mengenakan baju jadul, peserta diajak untuk \u201cberpakaian\u201d seperti para pendahulu yang berjuang di masa sulit. <\/p>\n<p>Setiap lipatan kain, motif, dan model pakaian mencerminkan realitas kehidupan dan kerumitan zaman kolonial yang pernah dialami oleh rakyat. <\/p>\n<p>Ini adalah simbol penghormatan terhadap para pejuang yang rela berkorban dalam kondisi yang keras demi meraih kemerdekaan.<\/p>\n<p>Lebih jauh lagi, baju jadul menjadi metafora kuat untuk mengenang akar dan identitas bangsa.<\/p>\n<p>Saat mengenakan pakaian masa lalu, peserta bukan hanya sekadar berpura-pura, melainkan diundang masuk ke dalam narasi sejarah sebagai bagian hidup dari cerita panjang perjuangan. <\/p>\n<p>Ini menjadikan perayaan bukan hanya ritual seremonial, tetapi pengalaman edukatif yang membangkitkan rasa empati, nasionalisme, dan tanggung jawab untuk meneruskan nilai-nilai perjuangan tersebut.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setiap tanggal 17 Agustus, Indonesia mengenang hari kemerdekaannya dengan berbagai upacara dan perayaan yang penuh semangat nasionalisme. Namun, bagaimana jika upacara kemerdekaan tersebut diselenggarakan dengan gaya kolonial, di sebuah tempat yang sarat sejarah seperti Dekarangjar Koffieplantage? Berbeda dengan upacara kemerdekaan di sekolah atau kantor pemerintahan pada umumnya, upacara 17 Agustus ala kolonial di Dekarangjar Koffieplantage mengusung nuansa sejarah dan edukasi. Upacara 17-an sudah lama menjadi tradisi di Keboen Kopi Karanganjar. Meski sempat absen selama beberapa waktu, tradisi ini dihidupkan kembali sejak 2015 ketika seorang pimpinan perusahaan yang telah lama mencintai sejarah dan kebun kopi ini mengambil inisiatif untuk membawa kembali semangat lama dengan sentuhan baru yang otentik dan unik. Bayangkan saja, upacara kemerdekaan di sini berbeda dari biasanya, di mana lagu \u201cIndonesia Raya\u201d yang diputar adalah versi tempo doeloe dengan suara khas \u201ccempreng dan kresek-kreseknya\u201d yang membawa suasana nostalgia. Selain itu, masih ada beberapa hal unik dan menyentuh hati yang menjadikan upacara 17-an di Karanganjar berbeda dan berkesan: \u2022 Pembina upacara memasuki lapangan dengan menunggang kuda asli yang memang ada kandangnya di kebun, sehingga membawa suasana kolosal yang jarang terlihat di upacara lain. \u2022 Meski tanpa kehadiran pasukan militer atau tim paskibraka, upacara tetap berjalan penuh semangat dan khidmat, dengan kesalahan kecil yang justru menambah keaslian dan kehangatan suasana. \u2022 Semua staf dan karyawan, menjadi petugas upacara. \u2022 Upacara ini juga dihadiri duta-duta besar versi unik: anak-anak magang dari berbagai negara, yang lelaki harus menghormati bendera merah putih bersama peserta lain dengan penuh semangat (tentu dengan canda khas \u201cpenjajahan terselubung\u201d). \u2022 Setelah upacara, berbagai perlombaan khas kemerdekaan pun diselenggarakan seperti lomba makan kerupuk dan lain sebagainya. Salah satu aspek yang sangat kentara dan penuh makna dalam upacara 17 Agustus 2025 di De Karanganjar Koffieplantage adalah penggunaan baju jadul atau pakaian ala kolonial dan perjuangan masa lampau. Pemilihan kostum ini bukan sekadar untuk memperkuat suasana vintage atau nostalgia saja, melainkan mengandung filosofi dalam yang mengajak semua peserta dan pengunjung untuk menyelami perjalanan sejarah bangsa secara lebih personal dan reflektif. Dengan mengenakan baju jadul, peserta diajak untuk \u201cberpakaian\u201d seperti para pendahulu yang berjuang di masa sulit. Setiap lipatan kain, motif, dan model pakaian mencerminkan realitas kehidupan dan kerumitan zaman kolonial yang pernah dialami oleh rakyat. Ini adalah simbol penghormatan terhadap para pejuang yang rela berkorban dalam kondisi yang keras demi meraih kemerdekaan. Lebih jauh lagi, baju jadul menjadi metafora kuat untuk mengenang akar dan identitas bangsa. Saat mengenakan pakaian masa lalu, peserta bukan hanya sekadar berpura-pura, melainkan diundang masuk ke dalam narasi sejarah sebagai bagian hidup dari cerita panjang perjuangan. Ini menjadikan perayaan bukan hanya ritual seremonial, tetapi pengalaman edukatif yang membangkitkan rasa empati, nasionalisme, dan tanggung jawab untuk meneruskan nilai-nilai perjuangan tersebut.<\/p>","protected":false},"author":4,"featured_media":3643,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[199],"tags":[753,343,1240,294,261,260,765,263],"class_list":["post-6209","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-wisata","tag-agustus","tag-ala","tag-jadul","tag-karanganjar","tag-meneer","tag-notes","tag-upacara","tag-wisata"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6209","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6209"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6209\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6211,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6209\/revisions\/6211"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3643"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6209"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6209"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6209"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}