{"id":6224,"date":"2025-08-31T09:45:46","date_gmt":"2025-08-31T02:45:46","guid":{"rendered":"https:\/\/dekaranganjar.com\/?p=6224"},"modified":"2025-09-01T10:45:34","modified_gmt":"2025-09-01T03:45:34","slug":"gedung-grahadi-sejarah-panjang-lebih-dari-2-abad-kini-terancam-rusak-karena-demo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/gedung-grahadi-sejarah-panjang-lebih-dari-2-abad-kini-terancam-rusak-karena-demo\/","title":{"rendered":"Gedung Grahadi: Sejarah Panjang Lebih dari 2 Abad, Kini Terancam Rusak Karena Demo"},"content":{"rendered":"<p>Siapa sangka, bangunan megah yang telah menyaksikan perjalanan sejarah kota Surabaya selama lebih dari dua abad, tiba-tiba menjadi sorotan bukan hanya karena keelokannya, tapi juga karena insiden demo yang memicu kerusakan dan kegaduhan! <\/p>\n<p>Gedung Grahadi, simbol kebanggaan Jawa Timur sekaligus rumah dinas Gubernur, pada hari Sabtu, 30 Agustus 2025 menjadi sorotan publik akibat insiden tersebut.<\/p>\n<p>Tapi, tahukah kamu betapa pentingnya gedung ini bagi sejarah dan budaya Surabaya? <\/p>\n<p><strong>Sejarah Gedung Grahadi<\/strong><\/p>\n<p>Gedung Grahadi dibangun pada tahun 1795 pada masa Residen Dirk Van Hogendorp yang memimpin Jawa Timur waktu itu. <\/p>\n<p>Awalnya bangunan ini difungsikan sebagai tuinhuis atau rumah kebun bergaya Oud Hollandstijl, yang artinya rumah dengan taman yang indah dan asri. <\/p>\n<p>Terletak di tepi Sungai Kalimas, gedung ini menghadap ke utara, memungkinkan penghuninya menikmati pemandangan perahu dan aktivitas sungai pada masa itu.<\/p>\n<p>Pada tahun 1802, gedung diubah arahnya menghadap ke selatan sesuai instruksi Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, yang ingin menyesuaikan tata letak bangunan dengan prinsip tata kota modern. <\/p>\n<p>Pada tahun 1810 Gedung Grahadi kemudian direnovasi menjadi bergaya Empire Style atau Dutch Colonial Villa, menghasilkan tampilan yang lebih kokoh, megah, dan bergaya kolonial khas masa itu.<\/p>\n<p>Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini menjadi rumah gubernur Jepang di Surabaya. <\/p>\n<p>Setelah kemerdekaan Indonesia, Gedung Grahadi digunakan sebagai rumah dinas Gubernur Jawa Timur hingga kini, menjadi pusat pemerintahan dan tempat berbagai acara kenegaraan penting.<\/p>\n<p><strong>Arsitektur dan Bagian-Bagian Gedung Grahadi yang Megah dan Bersejarah<\/strong><br \/>\nGedung Grahadi adalah bangunan dua lantai dengan luas bangunan induk sekitar 2.016 meter persegi, berada di atas tanah seluas 16.284 meter persegi. <\/p>\n<p>Berikut adalah beberapa bagian penting dan ciri khas bangunan ini:<br \/>\n&#8211; <strong>Fasad dan Pilar Besar\u2028<\/strong><br \/>\nFasad gedung memperlihatkan pilar-pilar besar bergaya neoklasik Perancis yang memberikan kesan kokoh dan anggun.<br \/>\nPilar-pilar ini dulunya menjadi simbol kekuasaan kolonial, namun kini menjadi lambang keagungan warisan budaya.<\/p>\n<p>&#8211; <strong>Atap dan Jendela<\/strong><br \/>\n\u2028Atap gedung awalnya bergaya Oud Holland Stijl dengan kemiringan curam, tapi kemudian diganti menjadi model langgam Empire yang lebih modern dan artistik.<br \/>\nJendela besar dan ventilasi klasik memberikan estetika sekaligus sirkulasi udara yang baik.<\/p>\n<p><strong>&#8211; Ruang Dalam<\/strong><br \/>\n\u2028Lantai pertama gedung terdiri dari ruang tamu utama, ruang rapat Muspida Tingkat I Jawa Timur, ruang kerja gubernur, dan ruang-ruang pendukung administrasi.<br \/>\nSemua ruangan ini dilengkapi dengan ornamen klasik dan furnitur antik yang masih terjaga keaslian dan keindahannya.<\/p>\n<p><strong>&#8211; Halaman Luas\u2028<\/strong><br \/>\nGedung dikelilingi halaman dan taman yang rapi dan luas, biasanya dipakai untuk upacara bendera pada 17 Agustus dan peringatan hari nasional lainnya.<br \/>\nHalaman ini juga memberi ruang terbuka hijau di tengah kota Surabaya yang padat.<\/p>\n<p><strong>&#8211; Rumah Dinas Gubernur<\/strong><br \/>\n\u2028Di sisi timur kompleks Gedung Grahadi terdapat rumah dinas resmi Gubernur Jawa Timur yang juga memiliki desain khas kolonial.<\/p>\n<p>Gedung Grahadi bukan hanya sekedar bangunan, tapi juga saksi bisu berbagai peristiwa penting sejarah lokal dan nasional, termasuk perundingan antara Presiden Soekarno dan Jenderal Hawthorn pada Oktober 1945 serta keputusan berani Gubernur Soerjo menolak ultimatum Sekutu pada 9 November 1945.<\/p>\n<p><strong>Pentingnya Gedung Grahadi<\/strong><br \/>\nSebagai salah satu cagar budaya yang terdaftar, Gedung Grahadi memegang peranan vital sebagai:<\/p>\n<p>&#8211; Simbol identitas dan kebanggaan Jawa Timur, menjadi lambang wibawa pemerintahan dan sejarah daerah yang kental dengan nilai-nilai perjuangan.<\/p>\n<p>&#8211; Saksi sejarah perjalanan panjang Surabaya dan Indonesia, mulai dari era VOC, masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga kemerdekaan dan era reformasi.<\/p>\n<p>&#8211; Objek konservasi arsitektur bersejarah, dengan gaya kolonial dan neoklasik yang langka dan sulit ditemukan dalam bangunan modern saat ini.<\/p>\n<p>&#8211; Tempat berlangsungnya kegiatan resmi kenegaraan, mulai dari pelantikan pejabat, penerimaan tamu negara hingga upacara nasional.<\/p>\n<p>&#8211; Pusat edukasi dan wisata sejarah, yang membuka wawasan masyarakat dan wisatawan terhadap jejak sejarah dan budaya lokal.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, gedung ini dilindungi ketat oleh Undang-Undang Cagar Budaya dan berbagai peraturan pemerintah yang mengatur pelestarian aset sejarah sebagai bagian penting dari warisan bangsa yang harus dijaga demi masa depan.<\/p>\n<p><strong>Dampak Kerusuhan dan Demo di Gedung Grahadi<\/strong><br \/>\nPada akhir Agustus 2025, saat demonstrasi melanda kawasan Surabaya, Gedung Grahadi menjadi salah satu lokasi aksi massa yang berujung kerusakan parah. <\/p>\n<p>Pihak keamanan melaporkan adanya kebakaran kecil dan kerusakan beberapa bagian bangunan yang bernilai sejarah, termasuk beberapa elemen arsitektural yang sulit diperbaiki.<\/p>\n<p>Kejadian ini mengundang duka dan kekhawatiran dari komunitas sejarah, pelestari budaya, serta pemerintah. <\/p>\n<p>Selain kerusakan fisik, insiden ini menjadi cermin betapa rapuhnya peninggalan sejarah yang selama ini berdiri kokoh jika tidak dijaga dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. <\/p>\n<p>Banyak pihak menyerukan agar masyarakat lebih bijak dan peduli terhadap situs bersejarah yang merupakan milik kita bersama, bukan sekadar aset pemerintah semata.<\/p>\n<p><strong>Upaya Pelestarian dan Peran Masyarakat<\/strong><br \/>\nPasca insiden tersebut, pemerintah provinsi Jawa Timur bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata memperkuat pengamanan sekaligus mempercepat proses restorasi Gedung Grahadi. <\/p>\n<p>Selain itu, berbagai kegiatan edukasi dan sosialisasi tentang pentingnya pengelolaan warisan budaya dilaksanakan untuk meningkatkan kesadaran publik.<\/p>\n<p>Masyarakat pun dihimbau untuk berperan aktif menjaga agar situs bersejarah ini tetap lestari, dengan cara menghindari tindakan yang merusak dan ikut serta dalam program konservasi. <\/p>\n<p>Kesuksesan pelestarian Gedung Grahadi memerlukan sinergi antara pemerintah, komunitas sejarah, akademisi, dan masyarakat umum sebagai satu keluarga besar yang bertanggung jawab atas warisan bangsa.<\/p>\n<p>Melindungi bangunan peninggalan kolonial adalah tanggung jawab kita bersama sebagai bagian dari pelestarian warisan budaya bangsa. <\/p>\n<p>Bangunan-bangunan bersejarah seperti Gedung Grahadi di Surabaya maupun De Karanganjar Koffieplantage di Blitar yang juga peninggalan kolonial wajib dijaga, dirawat, dan dilestarikan agar nilai sejarah, arsitektur, dan budaya yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan dapat dinikmati generasi mendatang. <\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Siapa sangka, bangunan megah yang telah menyaksikan perjalanan sejarah kota Surabaya selama lebih dari dua abad, tiba-tiba menjadi sorotan bukan hanya karena keelokannya, tapi juga karena insiden demo yang memicu kerusakan dan kegaduhan! Gedung Grahadi, simbol kebanggaan Jawa Timur sekaligus rumah dinas Gubernur, pada hari Sabtu, 30 Agustus 2025 menjadi sorotan publik akibat insiden tersebut. Tapi, tahukah kamu betapa pentingnya gedung ini bagi sejarah dan budaya Surabaya? Sejarah Gedung Grahadi Gedung Grahadi dibangun pada tahun 1795 pada masa Residen Dirk Van Hogendorp yang memimpin Jawa Timur waktu itu. Awalnya bangunan ini difungsikan sebagai tuinhuis atau rumah kebun bergaya Oud Hollandstijl, yang artinya rumah dengan taman yang indah dan asri. Terletak di tepi Sungai Kalimas, gedung ini menghadap ke utara, memungkinkan penghuninya menikmati pemandangan perahu dan aktivitas sungai pada masa itu. Pada tahun 1802, gedung diubah arahnya menghadap ke selatan sesuai instruksi Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, yang ingin menyesuaikan tata letak bangunan dengan prinsip tata kota modern. Pada tahun 1810 Gedung Grahadi kemudian direnovasi menjadi bergaya Empire Style atau Dutch Colonial Villa, menghasilkan tampilan yang lebih kokoh, megah, dan bergaya kolonial khas masa itu. Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini menjadi rumah gubernur Jepang di Surabaya. Setelah kemerdekaan Indonesia, Gedung Grahadi digunakan sebagai rumah dinas Gubernur Jawa Timur hingga kini, menjadi pusat pemerintahan dan tempat berbagai acara kenegaraan penting. Arsitektur dan Bagian-Bagian Gedung Grahadi yang Megah dan Bersejarah Gedung Grahadi adalah bangunan dua lantai dengan luas bangunan induk sekitar 2.016 meter persegi, berada di atas tanah seluas 16.284 meter persegi. Berikut adalah beberapa bagian penting dan ciri khas bangunan ini: &#8211; Fasad dan Pilar Besar\u2028 Fasad gedung memperlihatkan pilar-pilar besar bergaya neoklasik Perancis yang memberikan kesan kokoh dan anggun. Pilar-pilar ini dulunya menjadi simbol kekuasaan kolonial, namun kini menjadi lambang keagungan warisan budaya. &#8211; Atap dan Jendela \u2028Atap gedung awalnya bergaya Oud Holland Stijl dengan kemiringan curam, tapi kemudian diganti menjadi model langgam Empire yang lebih modern dan artistik. Jendela besar dan ventilasi klasik memberikan estetika sekaligus sirkulasi udara yang baik. &#8211; Ruang Dalam \u2028Lantai pertama gedung terdiri dari ruang tamu utama, ruang rapat Muspida Tingkat I Jawa Timur, ruang kerja gubernur, dan ruang-ruang pendukung administrasi. Semua ruangan ini dilengkapi dengan ornamen klasik dan furnitur antik yang masih terjaga keaslian dan keindahannya. &#8211; Halaman Luas\u2028 Gedung dikelilingi halaman dan taman yang rapi dan luas, biasanya dipakai untuk upacara bendera pada 17 Agustus dan peringatan hari nasional lainnya. Halaman ini juga memberi ruang terbuka hijau di tengah kota Surabaya yang padat. &#8211; Rumah Dinas Gubernur \u2028Di sisi timur kompleks Gedung Grahadi terdapat rumah dinas resmi Gubernur Jawa Timur yang juga memiliki desain khas kolonial. Gedung Grahadi bukan hanya sekedar bangunan, tapi juga saksi bisu berbagai peristiwa penting sejarah lokal dan nasional, termasuk perundingan antara Presiden Soekarno dan Jenderal Hawthorn pada Oktober 1945 serta keputusan berani Gubernur Soerjo menolak ultimatum Sekutu pada 9 November 1945. Pentingnya Gedung Grahadi Sebagai salah satu cagar budaya yang terdaftar, Gedung Grahadi memegang peranan vital sebagai: &#8211; Simbol identitas dan kebanggaan Jawa Timur, menjadi lambang wibawa pemerintahan dan sejarah daerah yang kental dengan nilai-nilai perjuangan. &#8211; Saksi sejarah perjalanan panjang Surabaya dan Indonesia, mulai dari era VOC, masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga kemerdekaan dan era reformasi. &#8211; Objek konservasi arsitektur bersejarah, dengan gaya kolonial dan neoklasik yang langka dan sulit ditemukan dalam bangunan modern saat ini. &#8211; Tempat berlangsungnya kegiatan resmi kenegaraan, mulai dari pelantikan pejabat, penerimaan tamu negara hingga upacara nasional. &#8211; Pusat edukasi dan wisata sejarah, yang membuka wawasan masyarakat dan wisatawan terhadap jejak sejarah dan budaya lokal. Oleh karena itu, gedung ini dilindungi ketat oleh Undang-Undang Cagar Budaya dan berbagai peraturan pemerintah yang mengatur pelestarian aset sejarah sebagai bagian penting dari warisan bangsa yang harus dijaga demi masa depan. Dampak Kerusuhan dan Demo di Gedung Grahadi Pada akhir Agustus 2025, saat demonstrasi melanda kawasan Surabaya, Gedung Grahadi menjadi salah satu lokasi aksi massa yang berujung kerusakan parah. Pihak keamanan melaporkan adanya kebakaran kecil dan kerusakan beberapa bagian bangunan yang bernilai sejarah, termasuk beberapa elemen arsitektural yang sulit diperbaiki. Kejadian ini mengundang duka dan kekhawatiran dari komunitas sejarah, pelestari budaya, serta pemerintah. Selain kerusakan fisik, insiden ini menjadi cermin betapa rapuhnya peninggalan sejarah yang selama ini berdiri kokoh jika tidak dijaga dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Banyak pihak menyerukan agar masyarakat lebih bijak dan peduli terhadap situs bersejarah yang merupakan milik kita bersama, bukan sekadar aset pemerintah semata. Upaya Pelestarian dan Peran Masyarakat Pasca insiden tersebut, pemerintah provinsi Jawa Timur bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata memperkuat pengamanan sekaligus mempercepat proses restorasi Gedung Grahadi. Selain itu, berbagai kegiatan edukasi dan sosialisasi tentang pentingnya pengelolaan warisan budaya dilaksanakan untuk meningkatkan kesadaran publik. Masyarakat pun dihimbau untuk berperan aktif menjaga agar situs bersejarah ini tetap lestari, dengan cara menghindari tindakan yang merusak dan ikut serta dalam program konservasi. Kesuksesan pelestarian Gedung Grahadi memerlukan sinergi antara pemerintah, komunitas sejarah, akademisi, dan masyarakat umum sebagai satu keluarga besar yang bertanggung jawab atas warisan bangsa. Melindungi bangunan peninggalan kolonial adalah tanggung jawab kita bersama sebagai bagian dari pelestarian warisan budaya bangsa. Bangunan-bangunan bersejarah seperti Gedung Grahadi di Surabaya maupun De Karanganjar Koffieplantage di Blitar yang juga peninggalan kolonial wajib dijaga, dirawat, dan dilestarikan agar nilai sejarah, arsitektur, dan budaya yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan dapat dinikmati generasi mendatang.<\/p>","protected":false},"author":4,"featured_media":6225,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[199],"tags":[729,429,1252,1248,1251,1249,376,966,916,1250,340,842,263],"class_list":["post-6224","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-wisata","tag-abad","tag-dari","tag-demo","tag-gedung","tag-grahadi","tag-karena","tag-kini","tag-lebih","tag-panjang","tag-rusak","tag-sejarah","tag-terancam","tag-wisata"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6224","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6224"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6224\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6240,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6224\/revisions\/6240"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6225"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6224"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6224"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6224"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}