{"id":6407,"date":"2026-01-09T11:55:59","date_gmt":"2026-01-09T04:55:59","guid":{"rendered":"https:\/\/dekaranganjar.com\/?p=6407"},"modified":"2026-02-01T12:04:42","modified_gmt":"2026-02-01T05:04:42","slug":"gong-mbah-gimbal-pusaka-keramat-dari-medan-perang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/gong-mbah-gimbal-pusaka-keramat-dari-medan-perang\/","title":{"rendered":"Gong Mbah Gimbal: Pusaka Keramat dari Medan Perang"},"content":{"rendered":"<p>Di balik perkebunan  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"6407\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a> Blitar yang damai, tersimpan gong kuno yang menyimpan rahasia perjuangan para pahlawan, bahkan satu pukulannya mampu meramalkan nasib bangsa. <\/p>\n<p>Pangeran Diponegoro mengandalkannya di medan perang, tetapi siapa prajurit misterius bernama Mbah Gimbal yang menyembunyikannya dari kejaran musuh? <\/p>\n<p>Rahasia ini terungkap melalui perjalanan panjang hingga pusakanya bersemayam di museum yang berada di lereng Gunung Kelud. <\/p>\n<p><strong>Asal-Usul dan Keunikan Mbah Gimbal<\/strong><br>\nRM Djojo Poernomo, yang lebih dikenal sebagai Mbah Gimbal, merupakan jenderal setia dalam pasukan Pangeran Diponegoro selama Perang Jawa (1825-1830). <\/p>\n<p>Sebagai cucu Sultan Hamengkubuwono II dan Eyang Papak Noto Projo, ia mewarisi darah ningrat Yogyakarta, sekaligus menguasai ilmu spiritual mendalam sebagai guru rohani para laskar. <\/p>\n<p>Ia menyebarkan ajaran Purwa Ayu Mardi, yakni ajaran perpaduan antara Islam Jawa dan mistisisme kuno, serta mendirikan parikunan purwa ayu, komunitas spiritual yang menentang kolonialisme.<\/p>\n<p>Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda pada 1830, Mbah Gimbal melarikan diri dari Yogyakarta ke Blitar guna menghindari pengejaran. <\/p>\n<p>Ia menyamar sebagai pemuka agama bernama Raden Papak, dengan membiarkan rambutnya memanjang hingga gimbal sehingga julukan yang melekat ini digunakan sebagai simbol pertobatan dari \u201cdunia gelap\u201d perang. <\/p>\n<p>Keunikan lainnya adalah sosoknya dari prajurit garis depan yang berjuang bersama Nyi Ageng Serang, ia beralih menjadi pejuang lingkungan, bertani secara ramah alam di Srengat dan Modangan, Blitar sehingga penyamaran cerdik itu pun yang menyelamatkan nyawa sekaligus melestarikan semangat jihad Diponegoro.<\/p>\n<p>Gong Mbah Gimbal jauh melampaui alat musik gamelan biasa, melainkan pusaka utama yang dibawa langsung dari Yogyakarta saat pelarian dan diyakini memiliki kekuatan magis untuk meramalkan nasib bangsa melalui tujuh pukulan sakral oleh tokoh terpilih. <\/p>\n<p>Ketika Belanda membubarkan laskar Diponegoro, Mbah Gimbal dengan sigap menyelamatkan gong ini bersama keris dan tombak, menyembunyikannya di gua-gua serta perkebunan terpencil Blitar agar terhindar dari perampasan.<\/p>\n<p>Pusaka ini dirawat secara ritual oleh Mbah Gimbal menggunakan air bunga dan minyak cendana. <\/p>\n<p>Setelah wafatnya, warisan ini turun-temurun di tengah gejolak kemerdekaan, hingga pada era Orde Lama ketika nasionalisasi aset Belanda menyerahkan perkebunan Karanganjar kepada keluarga Roeshadi-Noegroho, yang dengan telaten menyelamatkannya dari kerusakan.<\/p>\n<p><strong>Hubungan Mbah Gimbal dengan Pangeran Diponegoro<\/strong><br>\nPangeran Diponegoro memimpin pemberontakan besar melawan Belanda dalam Perang Jawa, konflik terbesar di Hindia Belanda yang mengguncang fondasi kolonial. <\/p>\n<p>Mbah Gimbal, sebagai jenderalnya sejak masa muda, berperan ganda sebagai penasehat spiritual dan prajurit andalan, mendampingi Diponegoro hingga pasukannya tercerai-berai ke timur, termasuk Blitar. <\/p>\n<p>Gong ini menjadi jembatan sejarah yang kokoh karena dibawa dari istana Yogyakarta menuju perkebunan  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"6407\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a> Blitar, mewujudkan simbol perlawanan yang abadi dan meneruskan cita-cita kemerdekaan.<\/p>\n<p><strong>Tradisi Djamasan Poesaka yang lestari<\/strong><br>\nSetiap Bulan Suro (Muharram dalam kalender Jawa), ritual djamasan poesaka digelar untuk memurnikan pusaka leluhur di De Karanganjar Koffieplantage. <\/p>\n<p>Gong dicuci dengan air yang dicampur bunga, jeruk nipis, mengkudu, kemudian diolesi minyak cendana agar terjaga dari karat. <\/p>\n<p>Pelaksanaan upacara pun tertutup dan hanya dihadiri karyawan, muspika, Camat Nglegok, serta Dinas Kebudayaan Blitar. <\/p>\n<p>Puncaknya adalah pemukulan tujuh kali, disertai jeruk nipis dan kemenyan untuk mengusir energi negatif perang, diyakini membawa berkah bagi Indonesia sepanjang tahun sambil memperkuat nilai spiritual, gotong royong, dan jati diri bangsa.<\/p>\n<p>Tradisi turun-temurun ini merupakan evolusi dari sumpah Mbah Gimbal, yang menyatukan petani  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"6407\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a> kontemporer dengan para pejuang masa lampau dalam ikatan spiritual yang indah.<\/p>\n<p><strong>Museum Noegroho: Penjaga Warisan Abadi<\/strong><br>\nDi Museum Noegroho, gong Mbah Gimbal bersanding dengan keris peninggalan Sudirman dan Bung Karno, tombak Cokromanggilingan, batik Tutur Blitar, serta lukisan karya Herry Noegroho membentuk koleksi keris terlengkap di Blitar Raya.<\/p>\n<p>Perkebunan ini memainkan peran krusial dalam perawatan barang sejarah melalui ritual djamasan rutin, yang memastikan keaslian pusaka Mbah Gimbal tetap terjaga dari karat dan kerusakan. <\/p>\n<p>Pengunjung dapat menikmati tur ATV, belajar pengolahan  <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/go\/kopi\/\"  class=\"lar_link lar_link_outgoing\" data-linkid=\"5844\" data-postid=\"6407\"  title=\"Kopi Robusta\"   target=\"_blank\" >coffee<\/a> Arabica-Robusta, sekaligus menyelami kisah Diponegoro melalui artefak autentik.<\/p>\n<p>Berkat De Karanganjar, warisan unik Mbah Gimbal dari prajurit berambut gimbal menjadi penjaga pusaka abadi hidup kembali, menginspirasi generasi muda Blitar dan Indonesia sebagai pusat perlawanan nasional yang gemilang.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di balik perkebunan kopi Blitar yang damai, tersimpan gong kuno yang menyimpan rahasia perjuangan para pahlawan, bahkan satu pukulannya mampu meramalkan nasib bangsa. Pangeran Diponegoro mengandalkannya di medan perang, tetapi siapa prajurit misterius bernama Mbah Gimbal yang menyembunyikannya dari kejaran musuh? Rahasia ini terungkap melalui perjalanan panjang hingga pusakanya bersemayam di museum yang berada di lereng Gunung Kelud. Asal-Usul dan Keunikan Mbah Gimbal RM Djojo Poernomo, yang lebih dikenal sebagai Mbah Gimbal, merupakan jenderal setia dalam pasukan Pangeran Diponegoro selama Perang Jawa (1825-1830). Sebagai cucu Sultan Hamengkubuwono II dan Eyang Papak Noto Projo, ia mewarisi darah ningrat Yogyakarta, sekaligus menguasai ilmu spiritual mendalam sebagai guru rohani para laskar. Ia menyebarkan ajaran Purwa Ayu Mardi, yakni ajaran perpaduan antara Islam Jawa dan mistisisme kuno, serta mendirikan parikunan purwa ayu, komunitas spiritual yang menentang kolonialisme. Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda pada 1830, Mbah Gimbal melarikan diri dari Yogyakarta ke Blitar guna menghindari pengejaran. Ia menyamar sebagai pemuka agama bernama Raden Papak, dengan membiarkan rambutnya memanjang hingga gimbal sehingga julukan yang melekat ini digunakan sebagai simbol pertobatan dari \u201cdunia gelap\u201d perang. Keunikan lainnya adalah sosoknya dari prajurit garis depan yang berjuang bersama Nyi Ageng Serang, ia beralih menjadi pejuang lingkungan, bertani secara ramah alam di Srengat dan Modangan, Blitar sehingga penyamaran cerdik itu pun yang menyelamatkan nyawa sekaligus melestarikan semangat jihad Diponegoro. Gong Mbah Gimbal jauh melampaui alat musik gamelan biasa, melainkan pusaka utama yang dibawa langsung dari Yogyakarta saat pelarian dan diyakini memiliki kekuatan magis untuk meramalkan nasib bangsa melalui tujuh pukulan sakral oleh tokoh terpilih. Ketika Belanda membubarkan laskar Diponegoro, Mbah Gimbal dengan sigap menyelamatkan gong ini bersama keris dan tombak, menyembunyikannya di gua-gua serta perkebunan terpencil Blitar agar terhindar dari perampasan. Pusaka ini dirawat secara ritual oleh Mbah Gimbal menggunakan air bunga dan minyak cendana. Setelah wafatnya, warisan ini turun-temurun di tengah gejolak kemerdekaan, hingga pada era Orde Lama ketika nasionalisasi aset Belanda menyerahkan perkebunan Karanganjar kepada keluarga Roeshadi-Noegroho, yang dengan telaten menyelamatkannya dari kerusakan. Hubungan Mbah Gimbal dengan Pangeran Diponegoro Pangeran Diponegoro memimpin pemberontakan besar melawan Belanda dalam Perang Jawa, konflik terbesar di Hindia Belanda yang mengguncang fondasi kolonial. Mbah Gimbal, sebagai jenderalnya sejak masa muda, berperan ganda sebagai penasehat spiritual dan prajurit andalan, mendampingi Diponegoro hingga pasukannya tercerai-berai ke timur, termasuk Blitar. Gong ini menjadi jembatan sejarah yang kokoh karena dibawa dari istana Yogyakarta menuju perkebunan kopi Blitar, mewujudkan simbol perlawanan yang abadi dan meneruskan cita-cita kemerdekaan. Tradisi Djamasan Poesaka yang lestari Setiap Bulan Suro (Muharram dalam kalender Jawa), ritual djamasan poesaka digelar untuk memurnikan pusaka leluhur di De Karanganjar Koffieplantage. Gong dicuci dengan air yang dicampur bunga, jeruk nipis, mengkudu, kemudian diolesi minyak cendana agar terjaga dari karat. Pelaksanaan upacara pun tertutup dan hanya dihadiri karyawan, muspika, Camat Nglegok, serta Dinas Kebudayaan Blitar. Puncaknya adalah pemukulan tujuh kali, disertai jeruk nipis dan kemenyan untuk mengusir energi negatif perang, diyakini membawa berkah bagi Indonesia sepanjang tahun sambil memperkuat nilai spiritual, gotong royong, dan jati diri bangsa. Tradisi turun-temurun ini merupakan evolusi dari sumpah Mbah Gimbal, yang menyatukan petani kopi kontemporer dengan para pejuang masa lampau dalam ikatan spiritual yang indah. Museum Noegroho: Penjaga Warisan Abadi Di Museum Noegroho, gong Mbah Gimbal bersanding dengan keris peninggalan Sudirman dan Bung Karno, tombak Cokromanggilingan, batik Tutur Blitar, serta lukisan karya Herry Noegroho membentuk koleksi keris terlengkap di Blitar Raya. Perkebunan ini memainkan peran krusial dalam perawatan barang sejarah melalui ritual djamasan rutin, yang memastikan keaslian pusaka Mbah Gimbal tetap terjaga dari karat dan kerusakan. Pengunjung dapat menikmati tur ATV, belajar pengolahan kopi Arabica-Robusta, sekaligus menyelami kisah Diponegoro melalui artefak autentik. Berkat De Karanganjar, warisan unik Mbah Gimbal dari prajurit berambut gimbal menjadi penjaga pusaka abadi hidup kembali, menginspirasi generasi muda Blitar dan Indonesia sebagai pusat perlawanan nasional yang gemilang.<\/p>","protected":false},"author":4,"featured_media":2707,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[199],"tags":[1343,1330,1335,429,202,1358,1317,1402,788,1406,1272,1361,1342,1336,1329,1404,323,1334,547,984,1407,1403,278,1318,1355,1339,1341,1340,1338,1405,1344,1188,1360,347,1321,1337,1323,1325,1327,1322,1324,1319,1326,251,1357,1356,263,1307,1354,1309,203,1347,1353,1348,1352,1350,1346,1349,1351,1345,1311,223,215,1359,1332,1306,1316,1331,1308,1328,289,1313,1315,1312,1310,1333,1314,1320],"class_list":["post-6407","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-wisata","tag-agrowisata-belimbing-karangsari","tag-agrowisata-blitar","tag-candi-penataran","tag-dari","tag-de-karanganjar-blitar","tag-destinasi-blitar-timur","tag-destinasi-wisata-blitar","tag-dokumentasi","tag-era","tag-gimbal","tag-gong","tag-hidden-gem-blitar","tag-hutan-pinus-loji","tag-kampung-coklat-blitar","tag-kebun-kopi-karanganjar","tag-keramat","tag-kolonial","tag-makam-bung-karno","tag-masa","tag-mbah","tag-medan","tag-mengemudi","tag-mengenal","tag-objek-wisata-blitar","tag-paket-wisata-blitar","tag-pantai-pangi-blitar","tag-pantai-pudak-blitar","tag-pantai-serang-blitar","tag-pantai-tambakrejo","tag-perang","tag-puncak-sekawan-blitar","tag-pusaka","tag-rekomendasi-wisata-blitar","tag-sekolah","tag-spot-foto-blitar","tag-telaga-rambut-monte","tag-tempat-camping-blitar","tag-tempat-gathering-blitar","tag-tempat-healing-blitar","tag-tempat-nongkrong-blitar","tag-tempat-outbond-blitar","tag-tempat-rekreasi-blitar","tag-tempat-reuni-blitar","tag-tempat-wisata-blitar","tag-travel-blitar","tag-tur-blitar","tag-wisata","tag-wisata-alam-blitar","tag-wisata-alam-blitar-selatan","tag-wisata-anak-blitar","tag-wisata-blitar","tag-wisata-blitar-hits-2025","tag-wisata-blitar-kabupaten","tag-wisata-blitar-kekinian","tag-wisata-blitar-kota","tag-wisata-blitar-selatan","tag-wisata-blitar-terbaru-2025","tag-wisata-blitar-terdekat","tag-wisata-blitar-utara","tag-wisata-blitar-viral","tag-wisata-budaya-blitar","tag-wisata-di-blitar","tag-wisata-edukasi-blitar","tag-wisata-edukatif-blitar","tag-wisata-heritage-blitar","tag-wisata-hits-blitar","tag-wisata-instagramable-blitar","tag-wisata-kebun-kopi","tag-wisata-keluarga-blitar","tag-wisata-kopi-blitar","tag-wisata-kuliner-blitar","tag-wisata-malam-blitar","tag-wisata-murah-blitar","tag-wisata-religi-blitar","tag-wisata-sejarah-blitar","tag-wisata-sejarah-bung-karno","tag-wisata-terbaru-blitar","tag-wisata-viral-blitar"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6407","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6407"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6407\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6408,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6407\/revisions\/6408"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2707"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6407"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6407"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6407"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}