{"id":6516,"date":"2026-04-29T02:21:16","date_gmt":"2026-04-28T19:21:16","guid":{"rendered":"https:\/\/dekaranganjar.com\/?p=6516"},"modified":"2026-04-29T02:21:16","modified_gmt":"2026-04-28T19:21:16","slug":"jejak-blitar-dalam-kakawin-nagarakretagama-pupuh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/jejak-blitar-dalam-kakawin-nagarakretagama-pupuh\/","title":{"rendered":"Jejak Blitar dalam Kakawin Nagarakretagama Pupuh 17 dan Pupuh 61"},"content":{"rendered":"<p>Tahukah Anda? Jauh di abad ke-14, wilayah Blitar sudah tercatat dalam karya sastra penting Jawa kuno, yaitu <em>Kakawin Nagarakretagama<\/em>. Karya ini bukan sekadar puisi, melainkan sumber sejarah yang menggambarkan wilayah, kekuasaan, dan kehidupan pada masa Kerajaan Majapahit. Dari sinilah kita bisa melihat bahwa Blitar sudah masuk dalam jaringan kekuasaan dan budaya pada masa itu.<\/p>\n<h2>Kakawin sebagai Sumber Sejarah<\/h2>\n<p>Istilah <em>kakawin<\/em> merujuk pada karya sastra Jawa Kuno berbentuk puisi dengan aturan metrum tertentu. <a href=\"https:\/\/archive.org\/details\/KakawinNagarakertagama\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kakawin Nagarakretagama<\/a> ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 dan berisi gambaran lengkap tentang Majapahit di masa kejayaannya.<\/p>\n<p>Berbeda dengan prasasti yang cenderung singkat, karya sastra ini menjelaskan banyak hal mulai dari perjalanan raja, struktur wilayah, hingga kegiatan keagamaan. Karena itu, teks <em>Nagarakretagama<\/em> sering digunakan sebagai rujukan utama dalam memahami peta kekuasaan Majapahit.<\/p>\n<p>Salah satu bagian penting yang berkaitan dengan Blitar adalah pupuh 17 dan 61. Kedua pupuh ini berisi perjalanan Raja Rajasanagara alias Hayam Wuruk mengunjungi berbagai wilayah di Blitar.<\/p>\n<h2>Nagarakretagama Pupuh 17 Bait 5\u20136<\/h2>\n<p><em>yan tan mangka mareng <strong>phalah<\/strong> mar\u0115k i j\u00f6ng hyang acalapati bhakti s\u0101dara<\/em><br \/>\n<em>pant\u0115s yan panulus \u1e0dat\u0115ng ri <strong>balitar<\/strong> mwang i jimur i \u015bil\u0101hrit \u0101l\u0115ng\u00f6ng<\/em><br \/>\n<em>mukyang polaman ing dahe kuwu ri linggamarabangun i k\u0101lanenus\u012b<\/em><br \/>\n<em>yan ring janggala lot sabh\u0101 n\u1e5bpati ring surabhaya manulus mareng buwun<\/em><\/p>\n<p><em>ring saka lsati suryya san prabhu mahas ri pajan ingiring ing sanagara<\/em><br \/>\n<em>rin sakanganagaryyama sira mare lasem ahawan i tira nin pasir<\/em><br \/>\n<em>rin dwaradri panendu panlereniren <strong>jaladhi<\/strong> kidul atutwan alaris<\/em><br \/>\n<em>nkanen <strong>lodhaya<\/strong> len tetor i sideman jinajahira lanonya yenitun<\/em><\/p>\n<p>Secara umum, bait di atas menggambarkan perjalanan Hayam Wuruk dari satu wilayah ke wilayah lain. Nama-nama yang masih dikenali hingga sekarang adalah Blitar, Lodaya, dan Phalah. Phalah adalah nama kuno <a href=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/ekspansi-mongol-menang-di-baghdad-kalah-di-jawa\/\">Candi Penataran<\/a> yang terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Sementara, Lodaya adalah nama salah satu kecamatan di Blitar yang terletak selatan, tidak jauh dari pesisir laut (<em>jaladhi<\/em>).<\/p>\n<h2>Nagarakretagama Pupuh 61 Bait 3-4<\/h2>\n<p><em>ja\u00f1jan sangke <strong>balitar<\/strong> angidul t\u016bt margga<\/em><br \/>\n<em>s\u0115ngkan poryyang gatarasa tah\u0115ny\u0101doh wwe<\/em><br \/>\n<em>ndah pr\u0101teng <strong>lodhaya<\/strong> sira pirang r\u0101tryangher<\/em><br \/>\n<em>\u015bakter\u016bm ning jaladhi jinajah t\u016bt pinggir<\/em><\/p>\n<p><em>sah sangke <strong>lodhaya<\/strong> sira mangant\u012b <strong>simping<\/strong><\/em><br \/>\n<em>swecc\u0101nambhy\u0101mahaj\u0115nga ri sang hyang dharmma<\/em><br \/>\n<em>s\u0101k ning pras\u0101d\u0101 tuwi hana dohny\u0101ngulwan<\/em><br \/>\n<em>n\u0101 hetunyan bangunen angawetan matra<\/em><\/p>\n<p>Bait ini menjelaskan tentang Hayam Wuruk yang pergi ke Blitar dan terus ke selatan menuju Lodaya, menginap di sana, dan pergi ke pantai. Selanjutnya, dia pergi ke Simping dan menetap di sana untuk beberapa waktu sembari memperbaiki candi yang menaranya rusak dan bangunannya sedikit bergeser.<\/p>\n<div id=\"attachment_6517\" style=\"width: 310px\" class=\"wp-caption alignleft\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-6517\" class=\"size-medium wp-image-6517\" src=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/20260429_020724-300x225.jpg\" alt=\"kakawin nagarakertagama\" width=\"300\" height=\"225\" srcset=\"https:\/\/dekaranganjar.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/20260429_020724-300x225.jpg 300w, https:\/\/dekaranganjar.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/20260429_020724-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/dekaranganjar.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/20260429_020724-768x576.jpg 768w, https:\/\/dekaranganjar.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/20260429_020724-1536x1152.jpg 1536w, https:\/\/dekaranganjar.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/20260429_020724-2048x1536.jpg 2048w, https:\/\/dekaranganjar.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/20260429_020724-16x12.jpg 16w, https:\/\/dekaranganjar.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/20260429_020724-600x450.jpg 600w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><p id=\"caption-attachment-6517\" class=\"wp-caption-text\">Kakawin Nagarakertagama<\/p><\/div>\n<h2>\nBlitar dalam Jaringan Wilayah Majapahit<\/h2>\n<p>Penyebutan beberapa wilayah dalam <em>Kakawin Nagarakretagama<\/em> menunjukkan bahwa daerah Blitar termasuk dalam jalur penting perjalanan kerajaan. Tampak di sini bahwa Blitar bukan wilayah pinggiran, melainkan bagian dari struktur administratif dan spiritual.<\/p>\n<p>Blitar, dengan posisinya yang strategis di jalur selatan Jawa Timur, menjadi salah satu titik persinggahan penting. Tak heran, banyak peninggalan seperti candi dan situs kuno di wilayah Blitar. Belum lagi fakta bahwa Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit, didharmakan di <a href=\"https:\/\/jelajahblitar.com\/candi-simping\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Candi Simping<\/a> yang terletak di Desa Sumberjati, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. Berita tentang Candi Simping ini juga disebut dalam Nagarakretagama pupuh 61.<\/p>\n<p>Perjalanan yang digambarkan dalam <em>Nagarakretagama<\/em> pupuh 17 dan 61 bukan sekadar kunjungan biasa. Dalam tradisi Jawa kuno, perjalanan raja memiliki makna simbolis. Raja tidak hanya memeriksa wilayah, tetapi juga melakukan ritual untuk menjaga keseimbangan antara kekuasaan dan alam. Sehingga, setiap tempat yang dikunjungi memiliki makna. Dari situ, kita bisa melihat bahwa Blitar berperan penting dalam jaringan Kerajaan Majapahit pada abad ke-14.<\/p>\n<p><strong>[]<\/strong><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tahukah Anda? Jauh di abad ke-14, wilayah Blitar sudah tercatat dalam karya sastra penting Jawa kuno, yaitu Kakawin Nagarakretagama. Karya ini bukan sekadar puisi, melainkan sumber sejarah yang menggambarkan wilayah, kekuasaan, dan kehidupan pada masa Kerajaan Majapahit. Dari sinilah kita bisa melihat bahwa Blitar sudah masuk dalam jaringan kekuasaan dan budaya pada masa itu. Kakawin sebagai Sumber Sejarah Istilah kakawin merujuk pada karya sastra Jawa Kuno berbentuk puisi dengan aturan metrum tertentu. Kakawin Nagarakretagama ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 dan berisi gambaran lengkap tentang Majapahit di masa kejayaannya. Berbeda dengan prasasti yang cenderung singkat, karya sastra ini menjelaskan banyak hal mulai dari perjalanan raja, struktur wilayah, hingga kegiatan keagamaan. Karena itu, teks Nagarakretagama sering digunakan sebagai rujukan utama dalam memahami peta kekuasaan Majapahit. Salah satu bagian penting yang berkaitan dengan Blitar adalah pupuh 17 dan 61. Kedua pupuh ini berisi perjalanan Raja Rajasanagara alias Hayam Wuruk mengunjungi berbagai wilayah di Blitar. Nagarakretagama Pupuh 17 Bait 5\u20136 yan tan mangka mareng phalah mar\u0115k i j\u00f6ng hyang acalapati bhakti s\u0101dara pant\u0115s yan panulus \u1e0dat\u0115ng ri balitar mwang i jimur i \u015bil\u0101hrit \u0101l\u0115ng\u00f6ng mukyang polaman ing dahe kuwu ri linggamarabangun i k\u0101lanenus\u012b yan ring janggala lot sabh\u0101 n\u1e5bpati ring surabhaya manulus mareng buwun ring saka lsati suryya san prabhu mahas ri pajan ingiring ing sanagara rin sakanganagaryyama sira mare lasem ahawan i tira nin pasir rin dwaradri panendu panlereniren jaladhi kidul atutwan alaris nkanen lodhaya len tetor i sideman jinajahira lanonya yenitun Secara umum, bait di atas menggambarkan perjalanan Hayam Wuruk dari satu wilayah ke wilayah lain. Nama-nama yang masih dikenali hingga sekarang adalah Blitar, Lodaya, dan Phalah. Phalah adalah nama kuno Candi Penataran yang terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Sementara, Lodaya adalah nama salah satu kecamatan di Blitar yang terletak selatan, tidak jauh dari pesisir laut (jaladhi). Nagarakretagama Pupuh 61 Bait 3-4 ja\u00f1jan sangke balitar angidul t\u016bt margga s\u0115ngkan poryyang gatarasa tah\u0115ny\u0101doh wwe ndah pr\u0101teng lodhaya sira pirang r\u0101tryangher \u015bakter\u016bm ning jaladhi jinajah t\u016bt pinggir sah sangke lodhaya sira mangant\u012b simping swecc\u0101nambhy\u0101mahaj\u0115nga ri sang hyang dharmma s\u0101k ning pras\u0101d\u0101 tuwi hana dohny\u0101ngulwan n\u0101 hetunyan bangunen angawetan matra Bait ini menjelaskan tentang Hayam Wuruk yang pergi ke Blitar dan terus ke selatan menuju Lodaya, menginap di sana, dan pergi ke pantai. Selanjutnya, dia pergi ke Simping dan menetap di sana untuk beberapa waktu sembari memperbaiki candi yang menaranya rusak dan bangunannya sedikit bergeser. Blitar dalam Jaringan Wilayah Majapahit Penyebutan beberapa wilayah dalam Kakawin Nagarakretagama menunjukkan bahwa daerah Blitar termasuk dalam jalur penting perjalanan kerajaan. Tampak di sini bahwa Blitar bukan wilayah pinggiran, melainkan bagian dari struktur administratif dan spiritual. Blitar, dengan posisinya yang strategis di jalur selatan Jawa Timur, menjadi salah satu titik persinggahan penting. Tak heran, banyak peninggalan seperti candi dan situs kuno di wilayah Blitar. Belum lagi fakta bahwa Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit, didharmakan di Candi Simping yang terletak di Desa Sumberjati, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. Berita tentang Candi Simping ini juga disebut dalam Nagarakretagama pupuh 61. Perjalanan yang digambarkan dalam Nagarakretagama pupuh 17 dan 61 bukan sekadar kunjungan biasa. Dalam tradisi Jawa kuno, perjalanan raja memiliki makna simbolis. Raja tidak hanya memeriksa wilayah, tetapi juga melakukan ritual untuk menjaga keseimbangan antara kekuasaan dan alam. Sehingga, setiap tempat yang dikunjungi memiliki makna. Dari situ, kita bisa melihat bahwa Blitar berperan penting dalam jaringan Kerajaan Majapahit pada abad ke-14. []<\/p>","protected":false},"author":5,"featured_media":6517,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[199],"tags":[268,633,360,279,1486,1487,1488,1489,263],"class_list":["post-6516","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-wisata","tag-blitar","tag-dalam","tag-dan","tag-jejak","tag-kakawin","tag-nagarakertagama","tag-nagarakretagama","tag-pupuh","tag-wisata"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6516","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6516"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6516\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6518,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6516\/revisions\/6518"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6517"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6516"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6516"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dekaranganjar.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6516"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}