Penasaran nggak sih? Gimqna minuman yang kini menjadi bagian dari gaya hidup jutaan diolah dan berkembang hingga menjadi fenomena budaya sekaligus penggerak ekonomi terutama sektor UMKM?
Pada event Edukasi Kopi Bersama yang diselenggarakan oleh KJPRI UB tanggal 21 September 2025, karyawan mendapatkan pengalaman langsung yang tak hanya menambah wawasan tentang kopi, melainkan juga menggali sejarah sekaligus merasakan keunikan proses cupping kopi.
Event ini bertujuan mengedukasi karyawan KJPRI UB tentang aspek sejarah, budaya, dan teknik penilaian cita rasa kopi.
Kopi bukan sekadar minuman melainkan juga warisan budaya yang kaya dan berbagai teknik pengolahannya menghasilkan berbagai varian rasa yang khas.
Dengan edukasi ini, KJPRI UB berharap karyawan yang menjadi peserta dapat memahami dan mengapresiasi kopi dari sisi kultur dan ilmiah, serta merasakan sensasi kopi berkualitas lewat proses cupping.
Semua peserta adalah karyawan KJPRI UB yang berkumpul dalam suasana santai namun edukatif.
Gathering kali ini diadakan di Balai Pitutur, sebuah hall indoor yang nyaman di kawasan De Karanganjar, tempat yang sangat representatif untuk kegiatan yang menggabungkan edukasi dan networking.
KJPRI UB menggandeng mahasiswa dari Politeknik Negeri Jember yang sedang magang di De Karanganjar untuk memandu sesi cupping kopi.
Keikutsertaan mahasiswa ini menambah nilai interaktif sekaligus praktikal dalam acara.
Pada gathering ini, peserta diajak untuk mengenal lebih dekat sejarah kopi dari masa ke masa hingga perkembangannya di era modern.
Di lokasi indoor yang nyaman, suasana penuh interaksi tercipta saat sesi cupping kopi dilakukan bersama mahasiswa magang yang membimbing peserta melalui tahapan evaluasi kopi.
Coffee cupping adalah metode standar yang digunakan oleh para profesional seperti roaster dan barista untuk menilai aroma, rasa, dan keunikan berbagai jenis kopi.
Proses ini bukan sekadar mencicipi, tetapi kegiatan yang melibatkan observasi dan penilaian sistematis terhadap karakter kopi, mulai dari aroma hingga aftertaste.
Di De Karanganjar, salah satu perkebunan kopi legendaris di Blitar menjadi proses ini menjadi pengalaman edukatif yang berharga.
Sejarah Kopi di Indonesia
Kopi pertama kali dikenalkan di Nusantara sekitar abad ke-17, dibawa oleh Belanda melalui Batavia (sekarang Jakarta) dan dibudidayakan di wilayah pegunungan tropis seperti Jawa, Sumatera, dan Sulawesi.
Perkebunan kopi zaman kolonial Belanda menjadi tonggak awal produksi kopi Indonesia yang semakin dikenal dunia.
Salah satu wilayah yang terkenal dengan kopi berkualitas adalah daerah Karanganjar, Blitar, tempat berlangsungnya acara ini.
Sejarah kopi di Karanganjar dan wilayah sekitar sangat erat kaitannya dengan perkembangan perkebunan kopi di Jawa Timur yang sejak dulu telah menghasilkan varian kopi unggulan.
Kini, kopi Indonesia dikenal dengan berbagai jenis seperti Arabika, Robusta, Liberika, bahkan varietas langka seperti Abeokuta yang makin banyak dilestarikan terutama di cagar biosfer Jawa Timur. Kopi ini memiliki cita rasa khas yang bervariasi sesuai asal dan pengolahan biji kopinya.
Era modern menghadirkan inovasi dalam produksi, pengolahan, dan pemasaran kopi.
Di Universitas Brawijaya misalnya, berbagai program edukasi dan riset tentang kopi terus dikembangkan, termasuk teknik cupping dan promosi kopi lokal.
Salah satu inovasi menarik adalah pengembangan kedai kopi digital yang menggabungkan teknologi, edukasi, dan budaya kopi, memudahkan wisatawan untuk memahami sejarah dan proses kopi secara interaktif dari hulu ke hilir.
Edukasi kopi seperti yang dilakukan KJPRI UB tidak hanya meningkatkan pengetahuan peserta tapi juga membantu mengangkat kesadaran akan keberlanjutan kopi lokal sekaligus meningkatkan apresiasi terhadap kopi sebagai seni dan ilmu.
Mahasiswa magang dari Politeknik Negeri Jember yang membantu memandu cupping menambah dimensi praktis dan ilmiah acara ini.
Coffee cupping adalah pengalaman yang membuka wawasan mengenai beragam keunikan kopi.
Proses ini meliputi beberapa tahap: mencium aroma biji kopi yang baru digiling, mengamati aroma seduhan panas, mencicip rasa dengan cara tertentu untuk merasakan profil rasa, dan menilai karakteristik seperti acidity, body, flavor, dan aftertaste.
Melalui sesi cupping, peserta dapat memahami bagaimana perbedaan varietas kopi, teknik panen, dan pengolahan menghasilkan rasa yang khas dan unik.
De Karanganjar Koffieplantage yang menjadi lokasi gathering ini adalah tempat di mana berbagai kopi berkualitas diproses dengan standar tinggi, menjadikannya lokasi yang pas untuk edukasi kopi sekaligus gathering menyenangkan.
Acara Edukasi Kopi Bersama KJPRI UB tidak hanya menjadi wadah berkumpul karyawan tapi juga sarana pengayaan wawasan dan pengalaman nyata tentang kopi.
Melalui penjelasan sejarah, perkembangan masa kini, dan praktik coffee cupping yang interaktif dengan mahasiswa magang, peserta diajak untuk lebih menghargai kopi dari sisi budaya dan ilmiah.
Pengalaman ini diharapkan menjadi inspirasi bagi seluruh peserta untuk lebih mencintai dan mengapresiasi kopi lokal sekaligus meningkatkan solidaritas dan semangat berkarya di lingkungan kerja KJPRI UB.
Kopi sebagai minuman dan budaya kini benar-benar hidup dalam setiap cangkir yang dinikmati, menghubungkan sejarah panjang dan inovasi masa depan.






