Tahukah Anda bahwa seorang naturalis Inggris terkenal pernah menatap candi-candi megah Hindu-Buddha di Jawa dan berdecak kagum, menyebutnya melampaui Piramida Mesir serta keajaiban peradaban India dan Amerika Tengah?
Siapa dia, dan apa rahasia candi-candi itu yang membuat seorang ilmuwan Barat terpukau hingga rela menuliskannya dalam catatan perjalanannya?
Alfred Russel Wallace dan Kekagumannya
Alfred Russel Wallace, naturalis Inggris yang dikenal sebagai bapak biogeografi modern dan rekan Charles Darwin dalam teori evolusi, mengunjungi Jawa pada 1860-an.
Saat menjelajahi pulau ini untuk studi flora-fauna, ia tersentak oleh kemegahan candi Hindu-Buddha seperti Borobudur dan Prambanan.
Wallace menulis dalam bukunya The Malay Archipelago bahwa candi-candi ini bukan sekedar batu bertumpuk, melainkan mahakarya seni yang menyimpan hikmah filosofis mendalam, jauh melebihi monumen kuno lain yang pernah ia lihat.
Pengalamannya ini menjadi saksi bahwa peradaban Jawa kuno tak kalah dengan kehebatan dunia Barat.
Wallace terutama terpesona oleh skala dan detailnya. Ia membandingkan Borobudur dengan piramida, tapi menekankan relief-reliefnya yang menceritakan kisah kehidupan, alam, dan roh yang lebih hidup serta penuh makna.
Bagi Wallace, candi-candi ini adalah bukti kecerdasan masyarakat Jawa yang menyatukan agama, seni, dan alam dalam harmoni sempurna.
Sejarah Candi Hindu-Buddha di Indonesia
Candi Hindu-Buddha muncul sejak abad ke-7 Masehi, dibangun oleh kerajaan-kerajaan seperti Mataram Kuno, tepatnya pada dinasti Syailendra, dan Sanjaya. Ajaran Hindu dan Buddha dari India berakulturasi dengan budaya lokal, sehingga menghasilkan arsitektur unik yang tak ditemukan di tempat lain.
Pengaruh India terlihat dalam bentuk piramida bertingkat dan relief, tapi bahan seperti andesit atau batu bata merah serta motif flora lokal memberi ciri khas Indonesia. Candi bukan hanya tempat ibadah, tapi juga makam raja, pemandian suci, atau monumen peringatan.
Di Jawa Tengah dan Yogyakarta, candi dibagi dua kelompok: utara (Hindu, sederhana oleh Wangsa Sanjaya seperti Dieng) dan selatan (Buddha, rumit oleh Syailendra seperti Borobudur).
Jawa Timur menampilkan variasi dengan batu andesit era Singasari atau bata Majapahit. Bahkan di Sumatra dan Bali, candi bertahan sebagai situs suci hingga kini.
Candi Borobudur: Mahakarya Buddha Terbesar
Borobudur, dibangun abad ke-9 oleh Dinasti Syailendra, adalah candi Buddha terbesar di dunia dengan 9 stupa bertingkat melambangkan tiga alam: Kamadhatu (nafsu), Rupadhatu (bentuk), dan Arupadhatu (tak berbentuk).
Stupa raksasa di puncak menyimpan relik Buddha, dikelilingi 72 stupa kecil berisi patung Buddha. Relief seluas 5 kilometer persegi menceritakan Jataka, Lalitavistara, dan kisah Karmawibhangga, ajarkan karma dan pencerahan.
Wallace menyebutnya “museum batu” yang hidup, lebih indah dari piramida karena narasinya yang mendidik.
Candi ini terkubur abu vulkanik hingga ditemukan lagi 1814 oleh Thomas Stamford Raffles, lalu dipugar Belanda dan UNESCO. Kini, Borobudur jadi situs warisan dunia, dikunjungi jutaan wisatawan.
Candi Prambanan: Elegansi Hindu
Tak kalah memukau, Prambanan atau Candi Loro Jonggrang dibangun abad ke-9 oleh Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya sebagai jawaban atas Borobudur.
Kompleks ini punya 240 candi kecil, tapi tiga utama: Siwa (27m), Wisnu, dan Brahma, dengan relief Ramayana-Mahabharata.
Wallace kagum pada simetri dan ukiran halusnya, menyebutnya “puisi batu” yang melampaui candi India.
Legenda lokal bilang Prambanan diciptakan semalam oleh putri Loro Jonggrang untuk tipu Bandung Bondowoso.
Terkena guncangan 2006, candi ini terus dipugar, simbol ketangguhan budaya Jawa.
Candi Lain yang Memukau Wallace
Wallace juga menyebut candi di “Desa Brambanam” (Prambanan) dan sekitarnya, termasuk Sewu (seribu candi perwara), Kalasan (pertama bergaya Syailendra), dan Mendut (dengan relief Pañcatantra Buddha).
Di Dieng, Candi Arjuna, Semar, Gatotkaca, dan Bima berdiri di dataran tinggi dingin, simbol Hindu sederhana tapi mistis.
Candi-candi ini menunjukkan perpaduan, Hindu lebih ramping dengan senggara, Buddha lebih masif dengan stupa.
Estetika dan Spiritualisme Candi Nusantara
Arsitektur candi sebenarnya bukan sekedar tumpukan batu, desainnya mengikuti pola mandala persegi empat untuk corak Hindu atau segi lima untuk Buddha yang melambangkan perjalanan spiritual menuju puncak ilahi.
Di dinding-dindingnya, terdapat relief makhluk mitos serta kekayaan alam (flora dan fauna) yang tidak hanya mempercantik bangunan, tapi juga menyelipkan pesan moral dan rahasia alam semesta.
Bangunan kokoh dari batu andesit ini dihiasi dengan ukiran sulur, bunga teratai, hingga figur Kala-Makara yang dipercaya sebagai pelindung dari energi negatif.
Fungsinya pun sangat dinamis, mulai dari tempat memuja dewa dan bermeditasi, hingga menjadi lokasi upacara penghormatan bagi raja yang telah wafat.
Menariknya, Alfred Russel Wallace pernah mencatat keunikan candi-candi ini. Baginya, candi mampu menyatu dengan alam sekitar seperti pepohonan dan pegunungan sehingga terasa lebih “hidup” dan spiritual dibandingkan monumen Barat yang cenderung kaku dan terpisah dari lingkungannya.
Candi Penataran adalah bukti nyata bagaimana arsitektur menyatu dengan alam. Terletak di lereng subur Gunung Kelud, kompleks Hindu-Siwa terbesar di Jawa Timur ini dibangun sejak era Kediri (1194 M) sebagai “candi gunung” untuk ritual penangkal letusan.
Dikenal sebagai Candi Palah, dindingnya dihiasi relief naga dan kisah Ramayana yang memukau. Situs ini sangat sakral, selain dikaitkan dengan tempat Sumpah Palapa Gajah Mada, Penataran merupakan tempat pemujaan agung bagi raja-raja besar dari masa Kediri hingga Majapahit.
Tak jauh dari sana, hanya sekitar 20 menit berkendara Anda bisa mampir ke De Karanganjar Koffieplantage.
Selain bisa menikmati suasana sejuk perkebunan kopi peninggalan Belanda, di sini Anda juga bisa mengunjungi Museum Noegroho yang memamerkan berbagai replika relief candi.
Perpaduan ini sangat menarik, Anda bisa melihat megahnya candi asli di Penataran, lalu mempelajari detail bentuk candi lainnya lewat replika di museum De Karanganjar. Keduanya berada dalam satu rute perjalanan yang pas untuk mengisi akhir pekan.






