Kira-kira, apa yang membuat sebuah gong tua bisa jadi pusat perhatian ribuan orang setiap tahunnya?
Bukan cuma karena suaranya yang khas, melainkan karena kisah bersejarah di dalamnya.
Upacara jamasan atau siraman Gong Kyai Pradah berakar dari kisah legendaris yang berkaitan dengan Pangeran Prabu, saudara tiri Sri Susuhunan Pakuwono I.
Pada abad ke-18, Pangeran Prabu diasingkan ke hutan angker Lodoyo yang kini masuk wilayah Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar.
Dalam pengembaraannya, Pangeran Prabu membawa senjata pusaka berupa gong bernama Kyai Pradah, yang dipercaya memiliki kekuatan sakti dan mampu menaklukkan keangkeran hutan tersebut.
Karena percaya akan kekuatan pusaka itu, Pangeran Prabu menitipkan gong tersebut kepada seorang penasihat bernama Ki Eyang Tariman dengan pesan agar gong tersebut disirami atau dijamas secara berkala, khususnya pada bulan Maulud dan Syawal.
Tradisi ini menjadi akar lahirnya upacara Siraman Gong Kyai Pradah yang berlangsung secara turun-temurun hingga masa kini.
Makna dan Prosesi Siraman Gong Kyai Pradah
Upacara siraman Gong Kyai Pradah bukan sekadar ritual membersihkan benda pusaka, melainkan sarat arti filosofi dan doa bagi kesejahteraan masyarakat sekitar.
Prosesi biasanya diawali dengan pembacaan basmalah, syahadat, dan sholawat sebagai bentuk penghormatan dan kerendahan hati dalam memulai ritual.
Kemudian, gong Kyai Pradah dibersihkan dengan bunga setaman dan disiram menggunakan air dari gentong khusus.
Setelah disiram, gong dikeringkan dan dipukul sebanyak tujuh kali dengan iringan mantra “sae nopo awon?” yang berarti “baik atau buruk?”.
Masyarakat yang hadir akan menjawab “sae” sebagai tanda harapan dan doa agar segala sesuatu berjalan dengan baik.
Gong kemudian dibentangkan dengan kain mori khas, sebagai perlambang penghormatan maksimal terhadap pusaka ini.
Selain pembersihan fisik gong, upacara ini juga diiringi oleh pembacaan doa dan mantra dalam bahasa Jawa Krama Inggil yang dipadukan dengan doa Islam.
Hal ini mencerminkan akulturasi budaya dan spirit religius masyarakat Blitar yang mendalam.
Ritual Jamasan sebagai Simbol Keterikatan Sosial dan Budaya
Ritual ini menjadi simbol kuat hubungan masyarakat dengan leluhur sekaligus alam di sekelilingnya.
Rutin dilaksanakan dua kali setahun, yaitu saat bulan Maulud dan Syawal, upacara ini memupuk rasa kebersamaan dan identitas kolektif warga Sutojayan khususnya, serta Kabupaten Blitar pada umumnya.
Selain sebagai bentuk penghormatan kepada pusaka, upacara jamasan juga diyakini mendatangkan berkah dan keselamatan. Air sisa siraman gong dianggap suci dan memiliki kekuatan penyembuhan, sehingga warga rela antre untuk mendapatkan tetesan air suci sebagai keberkahan.
Ritual ini juga menjadi daya tarik wisata budaya yang kini mulai dikenal luas, mengundang pengunjung lokal dan mancanegara untuk menyaksikan dan merasakan suasana magis upacara ini.
Perkembangan dan Pelestarian Upacara Jamasan Gong Kyai Pradah Pada Masa Kini
Di era modern saat ini, tradisi jamasan Gong Kyai Pradah tidak hanya dipertahankan keasliannya tapi juga dijadikan sarana promosi budaya dan pariwisata.
Pemerintah Kabupaten Blitar bersama masyarakat terus menggelar upacara ini secara rutin, memadukannya dengan agenda wisata budaya yang edukatif dan menghibur.
Pelaksanaan upacara di alun-alun Lodoyo tiap tahunnya kian meriah dengan partisipasi berbagai kalangan, mulai dari tokoh adat, pejabat daerah hingga masyarakat umum.
Selain prosesi siraman, ada juga tirakatan dan pertunjukan seni budaya yang memperkaya pengalaman pengunjung sekaligus menjaga keberlangsungan warisan leluhur.
Di samping itu, upacara ini dipelihara oleh juru kunci yang bertugas menjaga pusaka dan merawat kesucian gong Kyai Pradah agar maknanya tetap hidup dan lestari di tengah perkembangan zaman.
Upaya ini memperlihatkan keberhasilan dalam mengintegrasikan tradisi dengan nilai-nilai modern, sehingga tradisi ini tidak kehilangan identitasnya tapi justru menjadi modal utama untuk kemajuan budaya dan ekonomi daerah.
Menariknya, tradisi jamasan serupa juga dipraktikkan di De Karanganjar Koffieplantage, sebuah kebun kopi bersejarah yang terletak di Blitar.
Di sana, pusaka-pusaka termasuk alat-alat tradisional serta benda-benda budaya, juga rutin dijamas atau disucikan lewat ritual “Djamasan Pusaka”
Proses ini bukan hanya menjaga kelestarian benda pusaka, tapi juga menguatkan nilai budaya dan identitas lokal yang melekat erat dengan warisan kopi dan sejarah kolonial di Karanganjar.






