Pernahkah kamu melihat pedagang kaki lima yang dengan sabar menjajakan dagangannya berupa Es Drop di lampu merah atau kawasan wisata?
Jika iya, kamu harus tahu bahwa jajanan legendaris di Blitar ini sudah eksis sejak zaman penjajahan, mampu bertahan dari gempuran aneka “es kekinian”, dan selalu berhasil memanggil memori masa kecil, bahkan saat ini penjualannya masih dijajakan menggunakan termos kaca silinder ala tahun 1930-an.
Tidak banyak yang tahu, Es Drop sudah ada di Blitar sejak tahun 1937, ketika Indonesia masih di bawah bayang-bayang kolonial Belanda.
Pabrik pertamanya, yang melegenda dengan nama Es Drop Cap Burung Betet berdiri di Jalan Anggrek No. 51, Sukorejo, Kota Blitar, dan hingga kini tetap beroperasi, dikelola oleh generasi ketiga keluarga pendirinya.
Layaknya kapsul waktu, resepnya pun tak berubah, demikian pula cara menjajakannya dengan termos silinder dari kaca berisi puluhan es lilin siap menghipnotis siapapun yang mencicipi.
Ketika penjajah masih mendominasi kehidupan sosial dan ekonomi, Es Drop muncul sebagai hidangan rakyat segarnya tak hanya jadi penawar dahaga, namun juga simbol bentuk adaptasi dan kreativitas lokal yang bertahan hingga sekarang
Es Drop sendiri berbentuk es lilin dengan panjang sekitar 10 cm yang terbuat dari bahan dasar gula merah dan santan.
Perpaduan antara gula merah yang memberikan rasa manis alami dan santan yang membuat teksturnya lembut menjadi ciri khas utama es ini.
Berbeda dengan es lilin biasa, stik es Drop menggunakan bambu atau lidi yang menyerupai tusuk sate, bukan stik plastik atau kayu biasa.
Kemasan es Drop juga unik, hanya dibungkus dengan selongsong kertas yang hanya menutupi bagian tengah, sementara ujung atas dan bawah tetap terbuka, memberi kesan kuno dan khas tradisional.
Varian rasa es Drop cukup beragam, meliputi vanila, coklat, kacang hijau, durian, stroberi, melon, dan puding, sehingga memberi pilihan yang kaya bagi para penggemarnya.
Rasa es ini diproduksi tanpa mesin modern, tetap mempertahankan cara tradisional sehingga keasliannya terjaga dengan baik.
Metode penjualannya pun khas, es Drop biasanya dijual dengan cara berkeliling kampung atau sekolah menggunakan sepeda atau berjalan kaki oleh penjual tua, yang membawa termos kaca silinder berwarna merah atau coklat tempat batang es Drop disimpan agar tetap dingin.
Penjual ini juga sering menggunakan lonceng untuk memberi tanda kehadiran mereka, menambah nuansa nostalgia dan keunikan jajanan ini.
Harga es ini terbilang murah dan merakyat, menjadikannya jajanan favorit lintas generasi, sekaligus oleh-oleh khas Blitar bagi wisatawan.
Keistimewaan Es Drop bukan hanya pada rasanya, melainkan juga pada nilai sejarah dan budaya yang melekat.
Es ini adalah simbol kreativitas dan adaptasi masyarakat lokal yang mampu bertahan dari zaman kolonial hingga era modern, meskipun harus bersaing dengan minuman dan es kekinian seperti bubble tea dan es kopi susu.
Identitas lokal serta kenangan masa kecil yang muncul dari menikmati es ini membuat Es Drop masih relevan dan dicintai oleh masyarakat Blitar dan sekitarnya.
Menikmati Es Drop di Blitar tak lengkap tanpa mengunjungi salah satu destinasi wisata bersejarah, yaitu De Karanganjar Koffieplantage.
Pada event-event tertentu, di tempat warisan kolonial ini kamu bisa bertemu dengan para penjual Es Drop yang setia mengarak termos kaca mereka.
Suasana klasik perkebunan kopi bergaya Belanda berpadu dengan rasa manis es legendaris ini membawa kita seolah kembali ke masa kolonial, menikmati momen hangat yang telah bertahan puluhan tahun.
Jadi, saat berkunjung ke Blitar dan mampir ke De Karanganjar, jangan lewatkan kesempatan mencicipi Es Drop sembari meresapi aura sejarah yang masih hidup di setiap sudutnya.






