Pernah nggak sih kepikiran, gimana caranya Blitar dulu bisa jadi lumbung pertanian, padahal letusan Gunung Kelud mengancam terus?
Nah, ternyata rahasianya ada di sistem irigasi kuno, yang akhirnya berkembang jadi bendungan kece kayak Serut dan Wlingi yang sekarang nggak cuma ngairin sawah, tapi juga jadi sumber energi untuk pembangkit listrik tenaga air.
Sejarah Infrastruktur Irigasi di Masa Kolonial Belanda
Pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Pemerintah Kolonial Belanda melihat potensi besar Blitar sebagai daerah pertanian produktif.
Untuk mengoptimalkan hasil pertanian, khususnya perkebunan tebu dan padi, mereka membangun berbagai infrastruktur dasar seperti jaringan jalan, jembatan, dan yang tak kalah penting adalah sistem irigasi yang terorganisir.
Sistem irigasi ini bertujuan mengendalikan air dari berbagai sumber sungai dan cekungan, khususnya untuk mencegah banjir akibat aliran air dari pegunungan dan letusan gunung berapi seperti Gunung Kelud.
Selain mengatur air irigasi agar pertanian bisa lebih produktif, sistem ini juga menjaga pasokan air bagi kegiatan perkebunan yang menjadi andalan ekonomi kolonial.
Bendungan Serut dan Wlingi Sebagai Warisan Berkelanjutan Kolonial
Meski bendungan Serut dan Wlingi secara fisik tidak dibangun langsung oleh Belanda, keduanya merupakan kelanjutan dan pengembangan dari konsep pengelolaan air yang telah dimulai sejak zaman kolonial.
Pada era Orde Baru dan seterusnya, pemerintah membangun kedua bendungan ini sebagai bagian proyek besar pengembangan infrastruktur air guna mengoptimalkan irigasi serta menambang potensi energi listrik terbarukan.
* Bendungan Wlingi mulai dibangun pada tahun 1972 hingga 1979. Bendungan ini mampu mengairi ribuan hektar lahan pertanian sekaligus menjadi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan kapasitas 54 MW. Fungsi utamanya sebagai pengendali sedimen lahar Gunung Kelud yang sering mengancam wilayah Blitar, sekaligus menyediakan air irigasi yang penting untuk sektor agrikultur.
* Bendungan Serut (Lodoyo), dibangun pada awal 1980-an, menguatkan sistem irigasi wilayah Blitar bagian utara. Selain mencegah banjir, bendungan ini juga menyediakan sumber air yang stabil bagi pertanian dan berkontribusi dalam menjaga kelangsungan hidup penduduk sekitar
Dari Fungsi Irigasi ke Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)
Transformasi bendungan Serut dan Wlingi dari sekadar pengatur irigasi menjadi pembangkit listrik adalah bukti inovasi dalam pengelolaan sumber daya air di Blitar.
Pemanfaatan air sebagai energi terbarukan lewat PLTA ini menegaskan peran strategis bendungan dalam menghadirkan solusi energi bersih dan berkelanjutan.
PLTA di Bendungan Wlingi, sebagai contoh, bukan hanya mengairi sawah tapi juga memproduksi listrik yang menopang kebutuhan listrik lokal, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Ini menjadi langkah penting dalam pembangunan energi hijau di Indonesia.
lDengan mengelola pasokan air irigasi secara optimal, bendungan ini menjaga agar perkebunan dan sawah di sekitarnya tetap subur dan produktif meskipun ancaman datang dari curah hujan tinggi dan lahar Gunung Kelud yang rawan erupsi.
Salah satu contoh nyata dari manfaat bendungan ini bisa dilihat di De Karanganjar Koffieplantage, sebuah perkebunan kopi legendaris yang terletak di lereng Gunung Kelud.
Perkebunan kopi ini mengandalkan pasokan air yang stabil untuk menjaga kualitas tanah dan tanaman kopinya.
Kehadiran bendungan seperti Wlingi dan Serut memastikan irigasi berjalan lancar, sehingga De Karanganjar dan perkebunan lain bisa terus berkembang dan menghasilkan kopi dengan cita rasa khas yang dicintai banyak orang.






