Masih inget kejadian berdarah yang menyisakan trauma mendalam di kalangan masyarakat?
Termasuk di Blitar Selatan, sebuah wilayah perbukitan yang tampak tenang, ternyata menyimpan rahasia kelam jejak pemberontakan Gerakan 30 September yang dilakukan oleh PKI.
Mengapa Blitar Selatan yang dipilih, dan bagaimana bayang-bayang kisah kelam tersebut berlanjut hingga masa kini?
Sejarah Jejak PKI dan G30S di Blitar
Setelah peristiwa berdarah Gerakan 30 September atau G30S yang mengguncang ibu kota Jakarta, sejumlah tokoh PKI melarikan diri dan memilih daerah Blitar Selatan sebagai basis baru mereka.
Wilayah ini dipilih karena kondisi alamnya yang sulit dijangkau, berupa perbukitan terjal dan tebing yang menyediakan tempat persembunyian alami, serta masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan sehingga rentan dipengaruhi paham komunisme.
Menurut catatan sejarah, tokoh-tokoh penting PKI seperti Oloan Hutapea, Rewang, Ruslan Widjajasastra, dan Munir memilih Blitar Selatan sebagai basis mereka membangun kembali kekuatan.
Mereka tidak hanya bersembunyi, tetapi juga melakukan aktivitas propaganda dan membentuk organisasi baru untuk melanjutkan ideologi mereka.
Keberadaan mereka makin kuat setelah Rapat Politbiro Central Committee (CC) PKI pada April 1967 yang menetapkan kepengurusan baru di Blitar Selatan dengan Ruslan Widjajasastra sebagai ketua, Oloan sebagai Ketua Departemen Organisasi, Rewang sebagai Ketua Departemen Agitasi dan Propaganda, dan Munir sebagai Ketua Departemen Perjuangan Bersenjata PKI Blitar Selatan.
Mereka menggerakkan basis massa dengan taktik tersembunyi, termasuk membangun rumah bawah tanah atau “ruba” sebagai tempat persembunyian.
Operasi Trisula: Penumpasan PKI di Blitar Selatan
Mengetahui aktivitas PKI yang kembali mengakar di Blitar Selatan, Kodam VIII Brawijaya merespons dengan melancarkan Operasi Trisula pada 25 Mei 1968.
Operasi ini bertujuan menumpas sisa-sisa kekuatan pemberontakan di wilayah tersebut, yang meliputi Blitar Selatan, Malang Selatan, dan Tulungagung.
Pasukan TNI yang dipimpin oleh Kolonel Infantri Witarmin melakukan pembersihan dengan taktik khusus untuk menghentikan aktivitas pemberontakan PKI.
Pasca penangkapan tokoh-tokoh terkemuka seperti Letkol Inf Pratomo, dan kematian Oloan Hutapea pada Juli 1968 yang ditemukan dalam kondisi mengenaskan di tebing Gunung Asem, perjuangan PKI makin terdesak.
Operasi ini dikenal efektif karena medan yang berat menjadi keuntungan bagi pasukan TNI yang terlatih dalam operasi daerah berbukit.
Kota dan desa di Blitar Selatan yang sebelumnya menjadi sarang PKI pun kembali aman setelah operasi yang berlangsung selama beberapa bulan.
Hingga kini, peninggalan sejarah G30S/PKI di Blitar Selatan masih dapat ditemukan, salah satunya adalah Goa Umbul Tuk yang digunakan oleh anggota PKI sebagai tempat persembunyian.
Goa ini menjadi saksi bisu masa kelam perjuangan dan operasi penumpasan yang terjadi pada tahun 1967 hingga 1968.
Banyak warga kini mengenang tragedi tersebut sebagai bagian dari pembelajaran sejarah agar tidak terulang kembali.
Pemerintah dan masyarakat setempat juga berupaya menjaga jejak sejarah ini dengan memanfaatkan situs-situs peninggalan sebagai bahan edukasi dan pengingat pentingnya menjaga persatuan bangsa.
Meskipun masa berlalu, efek sosial dari peristiwa tersebut masih membekas di beberapa generasi, terutama pentingnya kewaspadaan terhadap ideologi yang dapat memecah belah bangsa serta menjaga harmoni dan solidaritas antarwarga.
Blitar Utara, khususnya sekitar Perkebunan De Karanganjar Koffieplantage dan Desa Modangan, menjadi salah satu lokasi penting dalam jejak aktivitas PKI pasca peristiwa G30S.
Wilayah ini dikenal memiliki topografi berbukit dan kondisi alam yang relatif sulit dijangkau, sehingga menjadi tempat yang ideal bagi anggota PKI bersembunyi dan membangun basis kekuatan baru.
Dalam kawasan ini, terdapat gua-gua dan rumah bawah tanah yang digunakan sebagai tempat persembunyian oleh kelompok tersebut.
Keberadaan mereka di daerah ini tidak hanya sekadar bersembunyi, tetapi juga melakukan propaganda dan memperkuat basis massa.
Operasi Trisula yang dilancarkan oleh Kodam VIII Brawijaya secara khusus menargetkan wilayah Blitar Selatan dan sekitarnya, termasuk area Blitar Utara yang meliputi perkebunan Karanganjar.
Operasi ini menjalankan pembersihan dan penumpasan sisa-sisa kekuatan PKI dengan menggunakan strategi yang memanfaatkan medan perbukitan dan perkebunan untuk mencegah aktivitas pemberontakan terus berkembang.
Berdasarkan laporan akademis dan dokumentasi sejarah dari sumber terpercaya, aktivitas PKI di wilayah ini juga membawa dampak serius bagi masyarakat setempat, seperti kekerasan dan teror di beberapa desa, termasuk Desa Modangan.
Hingga kini, Perkebunan De Karanganjar dan sekitarnya tidak hanya dikenal sebagai kawasan agroindustri kopi yang penting, tetapi juga sebagai lokasi bersejarah yang merekam berbagai dinamika sosial dan politik pasca kekacauan tahun 1965-1968 di Indonesia.






