Malam itu, 21 Januari 1985, suasana di Candi Borobudur awalnya sangat tenang seketika berubah menjadi mencekam.
Antara pukul 01.30 hingga 03.30 pagi, suara dentuman keras menggema sebanyak sembilan kali, memecah kesunyian hutan dan desa-desa di sekitar Candi Borobudur.
Dunia terkejut saat fajar menyingsing, candi Buddha terbesar di dunia itu telah menjadi sasaran serangan bom.
Pelaku yang terorganisir ternyata telah menanam 13 paket bom TNT sejak malam sebelumnya, menyebarkannya secara strategis di berbagai tingkatan: empat bom di teras atas, lima di teras kedua, dan empat lagi di teras bawah.
Meski dua bom berhasil dijinakkan polisi dan dua lainnya ditemukan kemudian, sembilan ledakan lainnya telah berhasil meluluhlantakkan stupa-stupa yang anggun.
Akar masalah dari aksi nekat ini terkubur dalam ketegangan politik masa Orde Baru.
Saat itu, pemerintah sedang gencar memaksakan Pancasila sebagai asas tunggal bagi seluruh organisasi, yang memicu gelombang protes dari kelompok-kelompok religius.
Puncaknya adalah tragedi berdarah di Tanjung Priok pada September 1984 yang menewaskan banyak orang.
Dalam suasana kemarahan yang meluap, sekelompok radikal yang dipimpin oleh Mohammad Jawad, seorang tokoh misterius yang berafiliasi dengan ideologi keras dari luar negeri, merencanakan aksi balas dendam.
Mereka memandang Borobudur bukan sebagai warisan budaya, melainkan sebagai “patung berhala” yang dianggap lebih dipuja pemerintah ketimbang aspirasi umat Islam yang sedang ditekan.
Jawad merekrut Ahmad Muladawila, seorang mahasiswa muda asal Malang, serta Husein Al-Habsyi dan adiknya, Abdulkadir.
Dengan bahan peledak yang dibeli dari Lampung, mereka merakit bom-bom sederhana namun mematikan.
Setelah sempat gagal melakukan aksi serupa di beberapa gereja karena hati nurani yang enggan membunuh manusia, mereka akhirnya mengarahkan sasaran pada batu-batu bisu Borobudur.
Jejak mereka baru terendus ketika sebuah bom rakitan meledak sebelum waktunya di dalam bus di Banyuwangi, yang akhirnya menuntun polisi pada penangkapan para pelaku, meskipun Mohammad Jawad berhasil melarikan diri ke Iran dan tidak pernah tertangkap.
Pemerintah Orde Baru merespons serangan ini dengan kemarahan sekaligus ketangkasan.
Proses restorasi segera dilakukan dengan dukungan penuh tenaga ahli lokal dan internasional.
Hanya dalam kurun waktu satu tahun, batu-batu yang berserakan dikumpulkan kembali, stupa yang hancur dibangun ulang dengan presisi tinggi, dan patung Buddha dipulihkan hingga menyerupai bentuk aslinya.
Borobudur pun bersolek kembali, namun kini dengan pengamanan yang jauh lebih ketat, termasuk pemasangan kamera pemantau dan pagar pelindung untuk mencegah terulangnya sejarah kelam tersebut.
Pelajaran berharga dari Borobudur kini terus bergema hingga ke daerah lain, termasuk di Blitar.
Di sana, semangat menjaga warisan sejarah terlihat pada perawatan Candi Penataran, peninggalan megah dari era Majapahit yang hingga kini tetap berdiri kokoh dan terus dikembangkan sebagai pusat wisata sejarah.
Tak jauh dari sana, ada pula De Karanganjar Koffieplantage yang menjaga sisi sejarah dari masa kolonial.
Kebun kopi yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda ini mempertahankan arsitektur gaya Indische Empire yang megah.
Di sana, sejarah tidak hanya dirawat dalam bentuk batu candi, tetapi juga dalam bentuk pohon kopi yang berusia ratusan tahun serta artefak-artefak peninggalan masa lalu.
Tempat ini menjadi pengingat bahwa warisan sejarah, baik yang bersifat religius seperti Borobudur maupun yang bersifat kolonial seperti perkebunan kopi, adalah bagian dari jati diri kita.
Peristiwa bom 1985 mengajarkan kita bahwa kekerasan dan intoleransi hanya akan menghancurkan apa yang telah susah payah dibangun.
Tugas kita sekarang adalah menjadi penjaga masa lalu agar keindahan dan nilai-nilainya tetap bisa dinikmati oleh generasi di masa depan.






