Tahukah kamu? Aroma kopi yang semerbak dan pohon-pohon kayu kokoh yang tumbuh di tanah Jawa, semua itu adalah warisan dari para penjajah Belanda yang pernah mengelola kebun dan perkebunan di sini.
Tapi bukan hanya soal tanaman, cerita ini juga tentang bagaimana warisan itu masih hidup dan bisa dinikmati sampai sekarang, khususnya di tempat terkenal bernama De Karanganjar Koffieplantage.
Sejarah Singkat Tanaman Favorit di Blitar
Di masa kolonial, Blitar dikenal memiliki taman dan perkebunan yang dikelola dengan cermat oleh Belanda.
Salah satu tempat terkenal adalah Kebon Rojo, sebuah taman hijau luas yang berfungsi sebagai laboratorium penelitian tanaman.
Di sini ditanam berbagai jenis pohon dan tanaman, seperti mahoni yang kuat dan bernilai ekonomi tinggi, ketapang yang rindang dan berguna untuk konservasi tanah, serta tanaman buah seperti asam Jawa dan juwet yang disukai banyak orang.
Tanaman-tanaman ini dipilih karena cocok dengan iklim tropis Indonesia dan memberikan keuntungan ekonomi.
Mahoni menjadi sumber kayu kualitas tinggi, sedangkan asam Jawa dan juwet menyumbang buah untuk pasar lokal dan ekspor.
Kebon Rojo di Blitar sudah ada sejak tahun 1890-an, dan selama masa kolonial Belanda, tempat ini difungsikan sebagai laboratorium penelitian tanaman unggulan.
Menurut sumber dari National Geographic Indonesia, beberapa tanaman yang menjadi andalan dan menandai kejayaan Belanda di Blitar adalah mahoni, ketapang, asam Jawa, dan juwet.
Tanaman-tanaman ini dipilih karena memiliki nilai ekonomi tinggi dan cocok untuk dikembangkan di iklim tropis Jawa.
Tanaman Mahoni dan Ketapang
Mahoni adalah pohon yang dikenal luas di Indonesia, digunakan sebagai bahan konstruksi dan furnitur berkualitas tinggi.
Di masa lalu, pohon mahoni di Kebon Rojo menjadi bagian dari riset Belanda dalam pengembangan tanaman kayu bernilai tinggi.
Sementara itu, pohon ketapang tidak hanya menjadi peneduh tetapi juga memiliki manfaat sebagai tanaman penjala tanah dan penghasil biji yang digunakan dalam berbagai produk tradisional.
Asam Jawa dan Juwet
Selain tanaman kayu, Belanda juga melirik tanaman buah seperti asam Jawa dan juwet. Kedua tanaman ini merupakan komoditas buah yang cukup digemari masyarakat lokal dan memiliki daya jual tinggi. Asam Jawa digunakan dalam berbagai masakan tradisional Indonesia, sementara juwet dikenal sebagai buah khas dengan rasa asam manis yang menyegarkan.
Pengaruh dari tanaman-tanaman ini tak hanya sampai masa kolonial.
Beberapa dari tanaman tersebut masih terus dikembangkan dan menjadi bagian dari wisata agro di Blitar, seperti kebun kopi peninggalan Belanda di Kebon Kopi Karanganyar, yang terkenal sejak tahun 1874.
Kebun ini tidak hanya sebagai pusat pengembangan kopi, tetapi juga sebagai destinasi wisata yang menawarkan pengalaman belajar tentang sejarah tanaman kolonial dan keberagaman budaya di Blitar.
Selain itu, keberadaan taman-taman hijau dan koleksi tanaman di Kebon Rojo hingga hari ini menjadi bukti bahwa warisan tanaman dari masa kolonial tetap hidup dan berkembang.
Bahkan, beberapa tanaman dari zaman Belanda kini menjadi bagian dari konservasi dan restorasi lingkungan.






