Pernah terpikir nggak kalau secangkir kopi robusta bisa jadi “paspor” buat keliling dunia?
Di Cross Culture Dreamile International, kita nggak bicara soal duduk di kelas sambil mencatat teori yang membosankan.
Sebaliknya, program ini mengajak kamu terjun langsung ke kebun, bertemu orang-orang dari berbagai negara, dan belajar memahami dunia lewat obrolan santai.
Dunia kerja di tahun 2026 ini nggak cuma butuh orang pintar, tapi orang yang nyambung kalau diajak bicara dengan tamu internasional.
Trus Apa Sih Cross Culture Dreamile International itu?
Cross Culture Dreamile International merupakan inisiatif pendidikan dari Dreamile International-Hotel and Business Academy yang menekankan pengalaman lintas budaya secara langsung di lapangan.
Program ini melibatkan mahasiswa dan peserta internasional dalam kegiatan interaktif, seperti tur kebun kopi dan diskusi budaya, untuk membangun pemahaman mendalam tentang keberagaman.
Fokus utamanya adalah menggabungkan pembelajaran bisnis perhotelan dengan elemen cross culture, di mana peserta belajar bahasa, adat istiadat, dan keterampilan komunikasi antarbudaya sambil menikmati pengalaman nyata/interaksi secara langsung.
Sejarah dan Latar Belakang Program
Dreamile International, sebagai akademi bisnis dan perhotelan, meluncurkan program cross culture untuk menjawab tuntutan era globalisasi di mana pemahaman budaya menjadi kunci sukses karir.
Program ini terinspirasi dari kebutuhan mahasiswa Indonesia untuk berinteraksi dengan tamu internasional, mirip seperti di industri hospitality.
Kolaborasi dengan destinasi seperti De Karanganjar Koffieplantage dimulai sebagai bagian dari ekspansi kegiatan lapangan, di mana mahasiswa Dreamile bertemu volunteer asing untuk sharing budaya.
Sejak itu, program berkembang menjadi event reguler yang menarik peserta dari berbagai negara, memperkaya narasi tentang kopi sebagai medium budaya.
Manfaat Cross Culture untuk Peserta
Peserta program ini mendapatkan peningkatan keterampilan komunikasi lintas budaya yang krusial di dunia kerja modern.
Mereka belajar menghargai perbedaan, seperti cara orang Eropa menikmati kopi hitam versus tradisi Indonesia yang manis dengan gula aren.
Selain itu, program membangun jaringan internasional, membuka peluang karir di sektor pariwisata dan bisnis global.
Banyak alumni melaporkan peningkatan rasa percaya diri dalam berbahasa Inggris dan beradaptasi dengan tim multikultural.
Hal ini juga menumbuhkan empati, mengurangi prasangka, dan mempersiapkan peserta menghadapi tantangan global seperti pandemi atau konflik budaya.
Kegiatan Utama dalam Program
Kegiatan inti mencakup tur edukatif di perkebunan kopi, di mana peserta memetik biji kopi sambil mendengar cerita volunteer tentang tradisi kopi di negara asal mereka.
Diskusi “cross culture dengan ngopi” menjadi highlight, di mana narasumber berbagi makanan tradisional sambil menyeruput kopi robusta.
Workshop bahasa dan masakan juga populer, seperti belajar frasa Inggris santai dengan “bule cantik” dari berbagai negara atau memasak hidangan fusion kopi-budaya.
Semua aktivitas dirancang interaktif, memastikan peserta tidak hanya belajar tapi juga menciptakan kenangan abadi.
Kolaborasi dengan De Karanganjar Koffieplantage
De Karanganjar Koffieplantage, perkebunan kopi tertua di Blitar sejak 1874, menjadi panggung utama program ini.
Didirikan era kolonial Belanda di lereng Gunung Kelud (ketinggian 475-650 mdpl), kebun ini menghasilkan kopi robusta dan excelsa berkualitas tinggi.
Sejak dinasionalisasi tahun 1957 oleh Presiden Soekarno dan dikelola PT Harta Mulia sejak 1960, De Karanganjar berkembang dari produksi kopi menjadi wisata edukasi pada 2017.
Kolaborasi dengan Dreamile memungkinkan mahasiswa mengalami proses hulu-hilir kopi sambil berinteraksi dengan volunteer internasional.
Cross culture memperkuat brand “perkebunan kopi era kolonial,” di mana peserta pelajar/mahasiswa menjadi promotor organik melalui testimoni dan konten UGC.
Inovasi produk seperti kopi edisi terbatas hasil kolaborasi budaya berhasil menembus pasar global, sementara pelatihan petani lokal juga meningkatkan kualitas SDM.
Secara keseluruhan, program ini menjadikan De Karanganjar model ekowisata inklusif, di mana pelajar/mahasiswa bukan hanya pengunjung, tapi mitra dalam pelestarian warisan kopi Blitar yang mendunia.






