Ketika pertama kali mendengar kata “Meja Miring”, otak kita pasti langsung membayangkan furnitur yang rusak atau lantai rumah yang tidak rata, kan?
Kita mungkin berpikir tentang sebuah meja kayu yang kakinya patah sebelah sehingga permukaannya miring dan barang-barang di atasnya merosot jatuh.
Kata “Miring” di sini bukan karena rusak oleh usia, tapi karena posisi seluruh fondasi batu Lingga Yoni tersebut condong ke satu arah secara alami.
Inilah yang membuatnya unik seolah-olah alam sengaja meletakkannya dalam posisi miring yang tidak masuk akal secara konstruksi bangunan biasa. Lingga Yoni tersebut disebut sebagai situs Mejo Miring.
Situs Mejo Miring
Situs Mejo Miring terletak di Dusun Bambang (atau disebut juga Brongkos), Desa Siraman, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.
Situs ini merupakan peninggalan sejarah berupa sepasang Lingga Yoni simbol kesuburan dalam tradisi Hindu-Buddha karena posisinya miring secara alami, bukan buatan manusia.
Terletak di tengah kawasan hutan jati milik Perhutani, situs ini menjadi cagar budaya yang menyimpan nilai sakral tinggi.
Artefak utama berupa batu Lingga dan Yoni ini diperkirakan berasal dari era Kerajaan Majapahit, sekitar abad 13-15 M.
Posisi miringnya menimbulkan spekulasi, apakah itu akibat gempa bumi purba, atau sengaja dibuat untuk menandakan ritual khusus?
Batu-batu penyangga di sekitarnya juga menunjukkan kerajinan tinggi, dengan ukiran halus yang kini sebagian hilang akibat kerusakan terkini.
Sejarah dan Misteri di Balik Kemiringan
Legenda lokal menyebut Situs Mejo Miring sebagai “meja miring” karena bentuknya yang seperti meja altar yang condong, digunakan untuk upacara kesuburan dan ramalan.
Beberapa cerita rakyat menghubungkannya dengan Putri Majapahit, di mana Mbah Saimun seorang tokoh mistis kini mengklaim telah “menikahi” arca tersebut sebagai bagian dari ramalan kerajaan baru.
Secara historis, Blitar kaya akan situs purbakala karena pernah menjadi bagian dari jalur perdagangan dan kerajaan Hindu-Buddha.
Situs ini mirip dengan petilasan lain di Jawa Timur, tapi keunikannya terletak pada kemiringan alami yang belum terpecahkan arkeolog.
Penelitian awal oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya menunjukkan bahwa situs ini berpotensi menjadi bukti migrasi budaya dari Majapahit ke pedalaman.
Situs ini sempat viral pada Januari 2026. Kelompok Mbah Saimun merusaknya dengan membongkar Lingga Yoni dan batu lantai, sekaligus mengklaim sebagai syarat ritual untuk “kerajaan baru”.
Kepala Desa Siraman, Budi Arif Rochman, mengonfirmasi identitas empat pelaku yang salah satunya merupakan warga desa dan berupaya melakukan mediasi, meski pengembalian artefak terhambat penolakan.
Kondisi Terkini dan Ancaman Pelestarian
Hingga Februari 2026, situs ini kondisinya masih memprihatinkan, lantai batu dirusak, Lingga Yoni dicabut, dan sebagian ditutup tanah oleh pelaku.
Tidak ada penjaga khusus karena usulan anggaran Jupel (juru pelaksana) ditolak, hanya ada pokmas swadaya yang menjaga berkala. Tim gabungan pemerintah gagal mengambil artefak karena perlawanan kelompok Mbah Saimun, yang bersikukuh artefak itu “milik ritual” mereka.
Kasus ini menyoroti lemahnya pengelolaan cagar budaya di daerah pedesaan.
Video amatir yang viral di social media memperlihatkan aksi perusakan di hutan Perhutani, memicu kemarahan netizen dan tuntutan restorasi dari aktivis sejarah.
Pemerintah daerah kini berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk rekonstruksi, tetapi tantangan utama adalah konflik mistis dengan masyarakat lokal.
Lokasi Situs
Mencapai Situs Mejo Miring cukup mudah dari pusat Kota Blitar.
Mulai dari Jalan Ahmad Yani, arahkan kendaraan ke Kecamatan Kesamben via Jalan Raya Siraman (sekitar 20-25 km, 45 menit berkendara). Masuk ke Dusun Bambang, lalu trekking singkat 15-20 menit menyusuri hutan jati.
Gunakan GPS atau bertanya kepada warga lokal, tetapi tetap waspadai kondisi licin saat musim hujan.
Nilai Budaya dan Pariwisata
Situs Mejo Miring bukan hanya batu tua, melainkan cerminan sinkretisme budaya Jawa: Hindu, Buddha, dan kepercayaan lokal. Sebagai cagar budaya, situs ini berpotensi jadi destinasi edukasi, mirip situs Majapahit di Trowulan.
Pengembangan pariwisata bisa ciptakan pendapatan desa melalui tur sejarah untuk melestarikan warisan.
Blitar memang surganya situs dan peninggalan sejarah, dan Situs Mejo Miring hanyalah satu dari sekian banyaknya.
De Karanganjar Koffieplantage perkebunan kopi kolonial sejak 1874 juga menyimpan puluhan petilasan misterius.
Kawasan seluas puluhan hektar ini penuh dengan makam kuno dan petilasan di antara pohon kopi tua, hingga konon makam Belanda yang penuh misteri.
Buka sejak 2017 sebagai wisata hits, De Karanganjar juga memiliki museum pusaka, rumah Joglo berornamen Jawa, dan spot ngopi legendaris dengan pemandangan ala Eropa.
Mengunjungi keduanya sehari? Sangat direkomendasikan!
Dari Kesamben ke De Karanganjar hanya sekitar 30 menit.
Anda sudah bisa menikmati kopi arabika asli sambil mendengar cerita petilasan-petilasan kuni.






