Siapa yang salah fokus saat menyaksikan tiga tarian khas Blitar di BEN Carnival kemarin?
Ketiganya bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga cermin budaya hidup yang memancarkan jiwa dan sejarah Kota Blitar.
Digelar pada 23 Agustus 2025, BEN Carnival tahun ke-4 menjadi momen istimewa merayakan HUT ke-80 Republik Indonesia dengan tema “The Magnificent of Indonesia Untuk Kota Blitar Baru, Kota Blitar Maju Menuju Kota Masa Depan.”
Sebanyak 43 peserta dari perangkat daerah, BUMD, hingga instansi vertikal tampil mempesona dengan kostum etnik, musik tradisional, dan berbagai tarian khas.
Acara dibuka dengan kolaborasi musik dari Blitar Music Collaboration bersama penyanyi nasional Irenne Ghea.
Tidak lama kemudian, rangkaian pembuka yang penuh semangat dimulai dengan tarian Jaranan Eklek, Barongan Sodo, dan Tari Panalingga yang berhasil memukau ribuan penonton yang memadati alun-alun dan sepanjang rute parade di jalan utama kota Blitar.
Lalu, sebenarnya apa sih yang menjadi daya tarik ketiga tarian tersebut?
Simak artikel ini sampai habis ya!
1. Jaranan Eklek
Jaranan Eklek adalah bentuk seni tari khas Kota Blitar yang telah berusia lebih dari 30 tahun dan merupakan hasil ciptaan tokoh budaya, Munarsih, pada tahun 1988.
Berbeda dengan jenis jaranan lainnya, Jaranan Eklek memiliki ciri khas gerakan yang dinamis dan energetik dengan ornamen warna-warni yang mencolok pada properti kuda kayu yang dinaiki penari.
Awalnya, jaranan merupakan ritual sakral untuk menolak bala, mengusir roh jahat, dan meminta kesuburan serta keselamatan.
Jaranan Eklek sebagai pengembangan tradisi ini menggabungkan unsur mistis dan hiburan yang memikat.
Gerakan para penari menggambarkan keberanian prajurit yang menunggangi kuda dalam pertempuran dan mengekspresikan semangat juang leluhur.
Meskipun tari ini sudah mengalami modernisasi, esensi spiritual dan adat tetap dijaga agar menjadi simbol budaya yang hidup dan lestari.
Bentuk seni ini unik karena para penarinya kebanyakan perempuan, suatu hal yang menunjukkan keterbukaan budaya dalam adaptasi serta pelestariannya yang hampir punah di kawasan lain.
Musik pengiring berupa gamelan yang berkelanjutan dengan tabuhan gong, kendang, bonang, dan saron menambah drama dan semangat pertunjukan.
Lewat tarian ini, masyarakat diajak mengenang sejarah perjuangan dan nilai-nilai keberanian yang melekat di tanah Blitar.
2. Barongan Sodo
Barongan Sodo merupakan kesenian tradisional Blitar yang menampilkan boneka besar berbentuk kepala binatang (barong) yang menjadi simbol makhluk gaib pelindung desa dari berbagai mara bahaya.
Pertunjukan Barongan tidak hanya soal hiburan semata, melainkan mengandung pesan moral, spiritual, dan sosio-kultural.
Atraksi ini menggabungkan seni tari, musik tradisional, dan drama rakyat, yang menampilkan interaksi antara barong (makhluk pelindung) dengan manusia dan roh-roh yang lain.
Kostum yang megah serta properti berwarna-warni menghidupkan suasana panggung.
Barongan Sodo dipandang sebagai media pendidikan yang menanamkan nilai-nilai kebaikan, perlindungan, dan harmoni dalam masyarakat.
Secara historis, barongan berkaitan erat dengan kepercayaan animisme dan kejawen yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Blitar.
Kesenian ini terus hidup dan diwariskan secara turun-temurun, menjadi pembawa pesan budaya sekaligus energi positif saat festival besar seperti BEN Carnival.
3. Tari Panalingga
Tari Panalingga adalah tarian tradisional yang melambangkan keselarasan antara manusia dengan alam sekitar.
Tarian ini dikenal dengan gerakan yang anggun dan ritmis, diiringi musik gamelan yang menenangkan.
Kostum dan properti yang digunakan dalam pertunjukan mencerminkan keindahan flora dan fauna lokal, memberikan nuansa yang tenang dan teduh.
Tari Panalingga bukan hanya pesona visual, tetapi juga sarat makna filosofis tentang kehidupan yang harmonis dan dilandasi rasa syukur atas anugerah alam.
Dalam konteks BEN Carnival 2025, tarian ini menambah warna dan dimensi spiritual yang menyejukkan bagi penonton, memperkuat pesan pelestarian budaya sekaligus alam.
Melalui tari ini, pengunjung diajak merenungkan pentingnya menjaga keseimbangan dengan lingkungan, sebuah pesan universal yang relevan untuk masa kini.
Tari Panalingga menjadi simbol keindahan budaya Blitar yang mampu menjembatani tradisi dan modernitas dalam aktivitas seni.
Selain kemeriahan budaya yang bisa disaksikan di BEN Carnival, para pecinta tradisi juga dapat menikmati kebudayaan khas Blitar di event-event yang digelar di De Karanganjar Koffieplantage.
Salah satu contohnya adalah event KPK (Kirab Pusaka Coffee) yang digelar beberapa waktu lalu di perkebunan coffee legendaris ini.
Event tersebut menghadirkan pagelaran budaya seperti barongan dan jaranan lengkap dengan iringan musik serta pakaian adat Jawa yang kental, sehingga memberikan pengalaman berkesan kepada pengunjung dalam merasakan langsung kearifan lokal sekaligus menikmati cantiknya alam dan sejarah perkebunan coffee tertua di Blitar.






