Kota Patria merupakan salah satu julukan yang melekat pada Blitar. Meski banyak orang lebih mengenal Blitar sebagai Kota Bung Karno karena menjadi tempat peristirahatan terakhir sang Proklamator, julukan Kota Patria memiliki sejarah dan makna yang berbeda. Julukan ini lahir dari semangat perjuangan yang tumbuh di Blitar serta peran daerah ini dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.
Hingga kini, sebutan Kota Patria masih digunakan sebagai bagian dari identitas Kota Blitar. Dari radio, terminal, hotel, hingga perguruan tinggi, banyak yang menggunakan nama “patria”. Namun, tidak semua orang mengetahui asal-usul dan makna yang terkandung di baliknya.
Arti Kata Patria
Secara umum, kata patria berasal dari bahasa Latin yang berkaitan dengan tanah air atau negeri asal. Dari akar kata yang sama lahir istilah seperti patriot yang merujuk pada seseorang yang mencintai dan membela tanah airnya.
Di Blitar, kata Patria tidak hanya dipahami sebagai simbol kecintaan terhadap bangsa, tetapi juga memiliki makna khusus. Pemerintah Kota Blitar menjelaskan bahwa PATRIA merupakan akronim dari PETA (Pembela Tanah Air), Tertib, Rapi, Indah, dan Aman. Akronim tersebut dipilih untuk mencerminkan identitas kota Blitar sekaligus menghormati sejarah perjuangan yang pernah terjadi di wilayah ini.
Karena itulah, julukan Kota Patria tidak dapat dilepaskan dari sejarah perjuangan rakyat Blitar pada masa penjajahan.
PETA dan Lahirnya Julukan Kota Patria
Salah satu peristiwa penting yang menjadi bagian dari sejarah Blitar adalah pemberontakan pasukan PETA (Pembela Tanah Air) pada 14 Februari 1945. Peristiwa ini dipimpin oleh Supriyadi dan sejumlah anggota PETA yang menentang perlakuan tentara Jepang terhadap rakyat Indonesia.
Meskipun pemberontakan tersebut dapat dipadamkan, peristiwa PETA Blitar dikenang sebagai salah satu bentuk perlawanan terhadap penjajahan yang terjadi sebelum Indonesia merdeka. Bahkan, dikatakan bahwa pemberontakan PETA di Blitar menjadi pemantik gerakan serupa oleh pasukan PETA di berbagai daerah lain. Semangat keberanian dan pengorbanan para pejuang inilah yang kemudian menjadi bagian penting dari identitas daerah Blitar.
Huruf pertama dan kedua dalam akronim PATRIA merujuk langsung pada PETA. Dengan demikian, julukan Kota Patria bukan sekadar slogan, melainkan pengingat akan sejarah perjuangan yang pernah terjadi di sini.

Blitar Kota Patria
Blitar sebagai Kota Para Pejuang
Selain dikenal melalui peristiwa PETA, Blitar juga memiliki hubungan erat dengan sejumlah tokoh penting dalam sejarah Indonesia. Nama yang paling dikenal tentu saja adalah Bung Karno, presiden pertama Republik Indonesia.
Kompleks Makam Bung Karno yang berada di Blitar setiap tahun dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai daerah. Kehadiran makam tersebut membuat Blitar menjadi salah satu pusat wisata sejarah nasional yang berkaitan dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Selain Bung Karno, nama Supriyadi juga memiliki tempat tersendiri dalam sejarah Blitar. Hingga kini, kisah perjuangannya masih dikenang melalui berbagai monumen, nama jalan, serta pembelajaran sejarah di sekolah.
Keberadaan tokoh-tokoh tersebut memperkuat citra Blitar sebagai daerah yang memiliki kontribusi penting dalam perjalanan bangsa. Karena itulah, semangat patriotisme menjadi salah satu nilai yang terus dikaitkan dengan kota ini.
Mengapa Julukan Kota Patria Masih Bertahan?
Banyak julukan daerah yang perlahan terlupakan seiring berjalannya waktu. Namun, julukan Kota Patria tetap digunakan hingga sekarang karena masih dianggap relevan dengan identitas Blitar.
Jejak sejarah perjuangan masih dapat ditemukan di berbagai sudut kota. Mulai dari monumen, situs bersejarah, museum, hingga kawasan yang berkaitan dengan Bung Karno dan para pejuang lainnya. Kehadiran tempat-tempat tersebut membantu menjaga ingatan masyarakat terhadap sejarah daerahnya.
Selain itu, julukan Kota Patria juga menjadi pengingat bahwa pembangunan kota tidak hanya berkaitan dengan kemajuan fisik, tetapi juga pelestarian nilai-nilai perjuangan yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.
Julukan Kota Patria pada akhirnya bukan sekadar nama. Sebutan tersebut merefleksikan sejarah perjuangan, semangat cinta tanah air, serta warisan para tokoh yang telah memberikan kontribusi penting bagi bangsa Indonesia. Melalui berbagai situs dan kisah yang masih terjaga, Blitar terus mengingatkan bahwa sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga dipelajari oleh generasi masa kini dan masa depan.
[]






