10 Februari 1258, tepat 768 tahun yang lalu, ekspansi Mongol berhasil menaklukkan Baghdad. Mereka membakar Baghdad dan membunuh 10 ribu penduduk, mengakhiri Kekhalifahan Abbasiyah. Siapa sangka, hanya berselang 35 tahun kemudian ketika ekpansi Mongol datang ke Jawa, merekalah yang dibuat lari tunggang-langgang.
Kekaisaran Mongol
Kekaisaran Mongol didirikan oleh Genghis Khan pada awal abad ke-13. Dalam waktu singkat, Mongol tumbuh menjadi salah satu imperium terluas dalam sejarah. Wilayahnya membentang dari Asia Timur hingga Eropa Timur.
Setelah Genghis Khan wafat pada 1227, kepemimpinan kekaisaran dilanjutkan oleh putra ketiganya, Ogedei, yang dipilih sebagai Khan Agung. Pada masa ini wilayah kekaisaran telah dibagi di antara anak-anak Genghis Khan sebagai pengelolaan keluarga. Jochi, putra pertama Genghis Khan, menguasai wilayah barat yang kelak menjadi cikal bakal Golden Horde. Chagatai memerintah Asia Tengah. Ogedei sendiri menguasai Mongolia dan Asia Timur, sementara Tolui memegang wilayah inti kekuasaan keluarga di Mongolia.
Meskipun menguasai wilayah masing-masing, seluruh cabang keluarga Genghis Khan masih tunduk pada keputusan politik dan militer pusat. Di era Khan Agung Mongke, pengganti Ogedei, ekspansi Mongol fokus pada Asia Barat. Atas perintahnya, Hulagu Khan yang merupakan putra Tolui memimpin kampanye militer di Timur Tengah. Hulagu Khan berhasil menaklukkan Baghdad pada 1258, sekaligus menandai runtuhnya Kekhalifahan Abbasiyah.
Meskipun ekspedisi penaklukan Baghdad masih berlangsung dalam kerangka Kekaisaran Mongol, pada periode ini mulai tampak retakan internal. kekaisaran menghadapi krisis suksesi sejak Ogedei wafat pada 1241. Luasnya wilayah kekuasaan Mongol memaksa para pangeran Mongol mengelola daerah masing-masing secara otonom. Basis-basis kekuasaan regional pun menguat, menggeser kekaisaran dari sistem terpusat menjadi khanat-khanat yang bergerak dengan kepentingan sendiri.
Mongol Gagal Menguasai Jawa
Ekspedisi Mongol ke Jawa pada akhir abad ke-13 sepenuhnya berada di bawah kendali Kubilai Khan, saudara Hulagu yang naik sebagai Khan Agung pada 1260 setelah konflik suksesi dengan Ariq Boke. Sejak awal pemerintahannya, kekuasaan Mongol tidak lagi benar-benar terpusat. Klaim “Khan Agung” pun bersifat simbolik bagi sebagian khanat lain.

Lukisan Hulagu Khan (kiri) dan Kubilai Khan (kanan)/Sumber: Wikimedia Commons
Kubilai Khan mendirikan Dinasti Yuan dan memusatkan kekuasaannya di Tiongkok. Dia menjalankan kebijakan luar negeri yang berfokus pada Asia Timur dan Asia Tenggara. Pada 1289, utusan Kubilai Khan tiba di Kerajaan Singhasari yang berpusat di Jawa Timur. Mereka membawa pesan menuntut Raja Kertanagara mengakui kekuasaan Dinasti Yuan dan mengirim upeti. Namun, Raja Kertanagara menolak keras dan melukai utusan tersebut. Penghinaan ini mendorong Kubilai Khan mengirim ekspedisi militer ke Jawa, yang akhirnya tiba pada tahun 1293.
Pada waktu itu peta politik di Jawa sudah berubah drastis. Pemberontakan Aji Jayakatwang pada 1292 menewaskan Raja Kertanagara sekaligus menggulingkan Kerajaan Singhasari. Raden Wijaya, menantu Raja Kertanagara yang semula melarikan diri, mendapat pengampunan dari Jayakatwang untuk membuka permukiman baru di Hutan Tarik, yang kelak dikenal sebagai Majapahit.
Pasukan Dinasti Yuan yang tiba di Jawa pada 1293 terjebak dalam perang politik yang kacau. Raden Wijaya memanfaatkan ketidaktahuan mereka dengan menawarkan kerja sama untuk menumbangkan Jayakatwang dan berjanji akan mengakui kekuasaan Kubilai Khan. Namun, setelah Jayakatwang dikalahkan, Raden Wijaya berbalik menyerang mereka.

Ilustrasi perbedaan ekspansi Mongol di Baghdad dan Jawa/AI generated image
Dalam kondisi geografis yang tidak menguntungkan, kekurangan logistik, serta tekanan iklim tropis, pasukan Mongol kewalahan menghadapi prajurit Majapahit. Lebih dari 3 ribu prajurit Mongol tewas dalam pertempuran, sisanya terpaksa menarik diri dari Jawa. Kegagalan ekspedisi ini membuka jalan bagi berdirinya Kerajaan Majapahit yang kelak menjadi salah satu kekuatan besar di Nusantara. Dalam Kakawin Nagarakretagama abad ke-14 disebutkan wilayah pengaruh Majapahit membentang dari Jawa dan Madura sebagai pusat, hingga Bali, Lombok, Sumbawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara Timur, serta wilayah-wilayah di Semenanjung Melayu Seperti Pahang, Kelantan, Trengganu, dan Tumasik.
Majapahit tumbuh menjadi kerajaan besar dengan warisan budaya yang berlimpah, dari sastra hingga arsitektur. Jika Kakawin Nagarakretagama karya Mpu Prapanca memuat sejarah dan rincian wilayah Majapahit, Mpu Tantular melalui Kakawin Sutasoma mewariskan gagasan kesatuan dalam keberagaman yang menjadi semboyan negara Indonesia, yaitu Bhinneka Tunggal Ika.
Gagasan kesinambungan juga diwariskan dalam rupa Candi Penataran yang terletak di Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Sebagai kompleks candi Hindu terluas di Jawa Timur, Candi Penataran merupakan contoh nyata bagaimana perubahan kekuasaan di Jawa tidak selalu memutus hubungan dengan masa lalu.

Candi Penataran/blitarkab.go.id
Kompleks Candi Penataran awal dibangun pada masa Kadiri sebagai penghormatan kepada Batara Palah. Candi ini dipelihara dan diperluas di era Singhasari, dan mencapai bentuknya yang paling lengkap pada masa Majapahit. Berbeda raja, berbeda dinasti, tetapi warisan yang sama tetap dihormati dan dirawat.
Candi Penataran tak hanya menjadi salah satu pusat ritual penting pada masa Majapahit, tetapi juga merupakan saksi lintas zaman. Di sinilah konsep yang tecermin dalam sastra dan politik Majapahit menemukan wujud fisiknya, yaitu kesinambungan, bukan penghapusan.
Untuk menjaga warisan sejarah ini, De Karanganjar menawarkan paket wisata BVC (Blitar Volcano Civilization) and BALITAR yang dirancang secara tematik.
Paket wisata BVC memberi keleluasaan pengunjung untuk memilih waktu kunjungan 2 malam 3 hari atau 3 malam 4 hari, dengan akomodasi penuh dari De Karanganjar. Pengunjung bisa beristirahat di Hotel Tugu Sri Lestari yang sudah berdiri sejak 1868, mendapatkan pengalaman wisata aduk jenang alias “Lava Cake”, wisata sejarah di kompleks perpustakaan dan makam Bung Karno, mengunjungi Candi Penataran atau Candi Palah, menikmati piknik kupas nanas sambil melihat pemandangan eksotik kawah Gunung Kelud, serta menghabiskan waktu senja di Pantai Selatan Blitar sekaligus menikmati Sunset Dinner. Tak ketinggalan, tentu saja wisata heritage and experience Coffee Tasting di De Karanganjar Koffieplantage.
Sedikit berbeda dengan paket wisata BVC, paket wisata BALITAR menghadirkan perjalanan spiritual dan budaya selama 2 malam 3 hari dengan akomodasi penuh dari De Karanganjar. Wisata ini menautkan Bali dengan akar sejarah Majapahit di Blitar. Wisatawan diajak berziarah ke Candi Simping yang terletak di Desa Sumberjati, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. Bukan sembarang candi, di sinilah tempat pendharmaan Raden Wijaya, pendiri Majapahit.
Perjalanan paket wisata BALITAR dilanjutkan dengan berziarah ke makam Bung Karno, berkunjung ke rumah masa kecil Bung Karno di Istana Gebang, Blitar, dan ritual di Candi Penataran. Pengunjung juga bisa menikmati wisata heritage di De Karanganjar Koffieplantage dan makan malam di Pendopo Hand Asta Sih sekaligus menyaksikan Teater Panji. Di hari ketiga, ibadah bersama dilakukan di Pura Arga Sunya bersama komunitas Hindu di Blitar.
Paket wisata BVC dan BALITAR De Karanganjar diharapkan dapat menjadi media penghubung. Pengunjung tidak sekadar datang dan melihat bangunan candi, tetapi diajak memahami sejarahnya. Mengapa candi ini dibagun, bagaimana ia terus dilestarikan oleh raja-raja yang berbeda, dan apa maknanya dalam sejarah Jawa. Dengan cara ini, De Karanganjar menjembatani masa lalu dan masa kini. Kunjungan menjadi ruang belajar sekaligus refleksi, di mana pengunjung dapat melihat, mendengar, dan memahami bahwa candi bukan hanya tumpukan batu kuno, melainkan saksi panjang peradaban yang pernah tumbuh dan membentuk Nusantara.
Jika Anda tertarik untuk menikmati paket wisata sejarah De Karanganjar, silakan hubungi De Karanganjar di kontak yang tersedia.
[]






