Berkunjung ke museum sejarah itu nggak melulu identik dengan vibes serius dan ngebosenin loh.
Salah satunya, di Museum Penataran, kamu bakal dapetin pengalaman yang beda banget!
Di sini, peninggalan sejarah disajikan dengan tata ruang yang bikin pengen foto terus.
Sejarah dan Awal Mula Museum Penataran
Museum Penataran bermula dari koleksi pribadi yang dikumpulkan oleh Bapak Warso Kusumo, seorang Bupati Blitar pada masa lampau, yang menyimpan ratusan benda arkeologi sejak tahun 1866.
Koleksi ini kemudian diletakkan di Pendopo Ronggo Hadinegoro, dan pada tahun 1915 berubah fungsi menjadi Museum Blitar yang melayani sebagai Balai Penyelamat Benda Cagar Budaya di Kabupaten Blitar.
Seiring waktu, pada tahun 1998 museum ini mengalami relokasi ke kawasan wisata Percandian Penataran di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, serta berganti nama menjadi Museum Penataran.
Sejak saat itu, museum tidak hanya bertumbuh dari segi koleksi tetapi juga dari segi makna sebagai penyambung nilai sejarah dan budaya masyarakat Blitar yang kaya akan warisan Majapahit.
Tata Ruang Konvensional dan Keterbatasannya
Sebelumnya, tata ruang museum ini terinspirasi dari pola kawasan candi Penataran yang terdiri atas tiga halaman, yaitu halaman I (jaba) sebagai gerbang masuk yang monumental dengan candi bentar khas Jawa Timur, dilanjutkan halaman II yang berfungsi sebagai plaza kegiatan dan ruang pamer luar terbuka, hingga halaman III sebagai pusatnya yakni ruang pamer indoor tiga lantai museum.
Meski kaya akan nilai historis dan arsitektur yang mengagumkan, konsep tata ruang lama yang mengandalkan pola cluster dan simetri klasik seringkali memberikan kesan kaku dan statis.
Hal ini membuat museum kurang diminati terutama oleh generasi muda yang menyukai pengalaman berkunjung yang lebih dinamis, interaktif, dan estetik modern.
Konsep Tata Ruang Baru
Konsep baru tata ruang Museum Penataran dirancang untuk menjawab tantangan tersebut dengan pendekatan yang lebih segar, inovatif, dan estetis.
1. Transformasi Bentuk dan Tata Letak
Bangunan museum yang menggambarkan bentuk candi induk Penataran diubah melalui proses transformasi geometris dan pembelahan candi simetris, menciptakan visual yang tidak hanya berakar pada sejarah tetapi juga menawarkan keindahan estetika modern yang menarik mata. Grid lantai dan orientasi ruangan diputar secara diagonal untuk menyesuaikan fungsi ruang interior dan exterior sekaligus menampilkan simbolisme dan visualisasi ruang yang komposit dan terpusat.
2. Penguatan Fungsi Ruang sebagai Ruang Publik Edukasi dan Rekreasi
Tidak hanya dipakai sebagai tempat pameran benda kuno, ruang-ruang di museum didesain untuk menjadi tempat belajar yang nyaman sekaligus rekreasi edukatif, dengan ruang pertemuan untuk aktivitas umum dan penyelenggaraan acara budaya. Halaman luar juga potensial sebagai ruang pertunjukan terbuka yang menyemarakkan suasana museum dan mendekatkan masyarakat pada sejarah secara menyenangkan dan relevan.
3. Interaktivitas dan Teknologi Digital
Konsep tata ruang baru menggabungkan elemen interaktif dengan teknologi digital seperti augmented reality (AR) dan multimedia untuk memberikan pengalaman imersif yang membuat pengunjung, khususnya generasi muda (iGeneration), lebih tertarik dan mudah memahami sejarah dan budaya yang dipamerkan. Museum juga mengoptimalisasi aksesibilitas dan keamanan selama kunjungan, menyesuaikan kondisi terkini termasuk era pandemi Covid-19.
4. Estetika Visual yang Memikat dengan Sentuhan Budaya Lokal
Detil arsitektural memadukan unsur tradisional Majapahit dan modern minimalis, menonjolkan pernak-pernik dan motif khas candi Penataran yang ditransformasikan menjadi elemen artistik kontemporer. Ini menjadikan museum tidak hanya sebagai gudang sejarah, tetapi juga objek estetik yang layak diabadikan dalam berbagai media sosial sehingga meningkatkan daya tarik wisatawan.
Museum Penataran terus berupaya mengembangkan diri agar relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan pengunjung masa kini.
Upaya menghadirkan konsep tata ruang baru yang estetis dan interaktif tersebut tidak hanya bertujuan melestarikan sejarah tapi juga menguatkan peran museum sebagai ruang publik dinamis yang mendukung pendidikan budaya dan sejarah secara kontemporer.
Dengan pemanfaatan desain modern, teknologi digital, dan pendekatan ruang multifungsi, Museum Penataran diharapkan mampu menarik kembali minat generasi muda sekaligus memperluas pasar wisata budaya domestik dan internasional.
Transformasi ini membuka peluang museum sebagai destinasi wisata heritage yang tidak hanya edukatif tapi juga menyenangkan dan Instagrammable, sehingga meningkatkan kunjungan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga warisan budaya.
Dengan mengusung konsep tata ruang baru yang mengedepankan keindahan estetika, interaksi, dan fungsi ruang publik modern, Museum Penataran menawarkan pengalaman museum yang berbeda dan lebih hidup.
Tidak hanya tempat untuk melihat benda-benda bersejarah, tetapi juga menjadi ruang inspirasi dan hiburan yang mengajak semua kalangan untuk menghargai dan mendalami budaya Majapahit dan sejarah Blitar.
Selain Museum Penataran, di kawasan De Karanganjar Koffieplantage juga terdapat Museum Noegroho dan Roemah Lodji yang tak kalah menarik.
Museum Noegroho, yang diambil dari nama mantan Bupati Blitar Herry Noegroho, menyimpan koleksi pusaka dan batik khas Blitar yang kaya makna sejarah dan estetika.
Sementara itu, Roemah Lodji, sebuah bangunan tua bergaya kolonial Belanda yang berusia lebih dari satu abad, mengajak pengunjung menyusuri jejak keluarga Roeshadi dan menyaksikan kamar yang pernah disinggahi Presiden Sukarno.
Ketiga museum ini bersama De Karanganjar Koffieplantage menciptakan harmoni budaya, sejarah, dan estetika yang lengkap untuk dinikmati oleh para pengunjung.






