Blitar identik dengan peristiwa pemberontakan PETA. Namun, tahukah Anda? Di Taman Makam Pahlawan (TMP) Raden Wijaya yang ada di Blitar, terdapat satu nama yang mungkin membuat Anda heran. Nama itu adalah Tomegoro Yoshizumi, seorang Jepang.
Padahal, Blitar bisa dibilang lekat dengan peristiwa pemberontakan terhadap Jepang. TMP Raden Wijaya bahkan berlokasi tak jauh dari PETA Monument (Pembela Tanah Air), sebuah tugu peringatan pemberontakan melawan Jepang pada 14 Februari 1945.

Pembacaan vonis terhadap anggota PETA/Wikimedia Commons
Pemberontakan PETA di Blitar
Pemberontakan PETA di Blitar dipimpin oleh Supriyadi, seorang shodancho yang menolak praktik kekerasan dan penindasan tentara Jepang terhadap rakyat. Peristiwa ini terjadi beberapa bulan sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945. Pemberontakan tersebut memang berhasil dipadamkan; banyak tokohnya ditangkap, diadili, dan dihukum. Nasib Supriyadi sendiri sampai sekarang masih simpang siur karena pada saat itu ia menghilang. Ada yang mengatakan ia dibunuh pada saat itu juga, ada pula yang menyebutkan ia hidup dan lari ke daerah lain. Bahkan, ada beberapa orang yang sempat mengaku sebagai Supriyadi.
Walau gagal secara militer, pemberontakan PETA di Blitar memiliki dampak psikologis dan politis yang luas. Aksi ini menjadi contoh nyata bahwa pasukan bentukan Jepang dapat berbalik melawan. Semangat serupa pun muncul di berbagai daerah dan gerakan ini menjadi simbol heroisme yang membangkitkan tekad untuk segera memerdekakan diri, yang memuncak pada 17 Agustus 1945.
Lantas, bagaimana mungkin seorang Jepang dimakamkan di taman makam pahlawan yang lokasinya berseberangan dengan monumen peringatan pemberontakan terhadap Jepang?
Kepahlawanan Tomegoro Yoshizhumi di Blitar
Tomegoro Yoshizumi adalah wartawan sekaligus agen intelijen Jepang yang bertugas di Hindia Belanda. Setelah Jepang menyerah dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Yoshizumi tidak kembali ke negaranya. Ia membelot dan berpihak kepada perjuangan Republik Indonesia.

Tomegoro Yoshizumi/Wikimedia Commons
Yoshizumi bergabung dengan jaringan perjuangan yang berafiliasi dengan Tan Malaka serta membantu pendanaan dan strategi gerilya dalam menghadapi kembalinya Belanda. Ia gugur di Blitar dan dimakamkan di TMP Raden Wijaya sebagai bentuk penghargaan atas keberpihakannya pada perjuangan kemerdekaan Indonesia. Status pemakaman Tomegoro Yoshizumi menegaskan bahwa yang dihormati bukan asal bangsanya, melainkan sikap dan kontribusinya.
Inspirasi Menu OG Cafe
Jejak sejarah Tomegoro Yoshizumi di Blitar kini dihidupkan OG cafe yang terdapat di De Karanganjar Koffieplantage. Nasi Mangkok Tomegoro menjadi salah satu menu andalan De Karanganjar. Hidangan nasi dengan ayam saus teriyaki ini memadukan karakter rasa Jepang dan Nusantara dalam satu mangkok, sebuah simbol pertemuan dua latar yang pernah berseberangan, lalu dipertemukan oleh pilihan keberpihakan.

Nasi ayam saus teriyaki/Istimewa
Selain Nasi Mangkok Tomegoro, tersedia pula Nasi Mangkok Daidancho, Sodancho, Budancho, dan Nasi Mangkok Mortir. Istilah sodancho, daidancho, dan budancho merujuk pada struktur kepangkatan dalam organisasi PETA pada masa pendudukan Jepang. Istilah ini juga merujuk pada Sodancho Supriyadi, Budancho Sunanto, dan para penggerak pemberontakan PETA di Blitar. Sementara, “mortir” mengingatkan pada perangkat tempur dalam perjuangan bersenjata. Melalui penamaan ini, De Karanganjar berharap menu bukan sekadar menjadi sajian kuliner, tetapi juga sebagai pengingat atas lapisan sejarah perjuangan Indonesia yang pernah berpusat di Blitar.
[]






