Apa yang terlintas dalam pikiran ketika berjalan pulang larut malam melewati hutan belantara atau perkebunan.
Lalu tiba-tiba, muncul bayangan hitam dari kegelapan sambil menodongkan pisau.
Bukan hantu, tapi garong begal perampok liar yang ditakuti.
Tapi tunggu, apa jadinya jika begal itu justru disewa untuk menjaga keamanan?
Rahasia masa kolonial ini akan membuka mata Anda tentang dunia kelam di balik kekuasaan Belanda.
Istilah Garong dan Begal di Masa Kolonial
Di masa penjajahan Belanda, garong dan begal bukan sekedar kata kasar untuk pencuri jalanan.
Garong merujuk pada bandit atau perampok kelompok yang brutal, sering beroperasi di pedesaan Jawa, merampas hasil panen atau barang dagang warga.
Sementara begal adalah istilah lokal Jawa yang khusus menyebut penyerang di jalan raya dan suka menyergap pejalan kaki atau gerobak dagang saat senja.
Era kolonial yang berlangsung dari abad 17-20 M memperburuk kondisi ini.
Belanda fokus melakukan eksploitasi tanah untuk coffee, tebu, dan tembakau, meninggalkan pedesaan rawan kekacauan.
Tanpa polisi modern, garong begal merajalela karena kemiskinan akibat pajak tinggi dan kerja paksa cultuurstelsel.
Menariknya, masyarakat Jawa punya pepatah kuno yakni “menangkap maling dengan maling” menggunakan bandit untuk lawan bandit.
Praktik ini lazim di Hindia Belanda.
Bupati atau priyayi lokal merekrut jago (pemimpin begal) sebagai pengawal bayaran.
Di Semarang 1867, orang Eropa kaya menyewa 78 jagoan untuk menjaga harta.
Di Madiun, Bupati Brotodiningrat memiliki jaringan weri (bandit) sebagai polisi desa tak digaji, mata-mata, bahkan penarik pajak.
Latar Belakang Sosial dan Ekonomi
Penjajahan Belanda ciptakan ketimpangan ekstrem.
Sejak tahun 1830, cultuurstelsel memaksa petani menanam coffee untuk diekspor, hasilnya untung Belanda miliaran gulden tapi rakyat kelaparan.
Perkebunan luas di Jawa Timur seperti Blitar termasuk menjadi sasaran garong begal, karena mengangkut hasil panen via jalur darat yang rawan serangan.
Kondisi ini memicu munculnya jagoan kampong, pemimpin geng desa yang menguasai wilayah kecil.
Mereka melindungi warga dari bandit luar dengan imbalan upeti.
Belanda awalnya mengabaikan, tetapi pada abad 19, kekacauan politik pun semakin meningkat sehingga terjadi kerusuhan petani yang menolak kebijakan pajak.
Ternyata, dulu urusan keamanan di negara kita cukup unik dan penuh sisi “abu-abu”.
Sebelum ada polisi berseragam resmi di tahun 1897, garis antara penegak hukum dan penjahat itu tipis banget.
Lucunya, para garong justru sering jadi “polisi informal” di wilayahnya.
Hal ini nggak lepas dari budaya feodal Jawa, di mana para bangsawan atau Bupati biasanya memelihara jago atau tukang pukul buat jaga wilayah.
Pemerintah Belanda waktu itu pun beradaptasi, mereka membiarkan para bupati mengurus keamanan lokal lewat tangan-tangan para jagoan ini, sehingga peran penjaga keamanan dan garong jadi sering tertukar.
Mengenal Tokoh Kusni Kasdut
Nah, kalau bicara soal sosok yang paling mewakili ambiguitas ini, kita pasti ingat Kusni Kasdut. Perampok legendaris kelahiran Blitar yang hidupnya benar-benar seperti film aksi.
Kusni bukan sekedar garong biasa, ia adalah mantan pejuang yang ikut bertaruh nyawa di Pertempuran 10 November 1945.
Naluri liarnya sering digunakan untuk merampok logistik tentara Jepang atau Belanda untuk menyokong kebutuhan para pejuang.
Karena aksinya yang mencuri dari penjajah untuk menolong orang susah, banyak yang menganggapnya sebagai “Robin Hood” versi Jawa.
Bagi sebagian orang dia pahlawan, tapi bagi pemerintah, dia tetaplah sosok garong yang paling dicari.
Perkembangan Sistem Keamanan Kolonial
Lama-kelamaan, pemerintah Belanda mulai gerah dengan kondisi yang kacau karena aksi garong dan begal yang makin merajalela.
Akhirnya, mereka mulai serius membenahi sistem keamanan.
Mulai tahun 1860-an, Belanda pelan-pelan merancang korps keamanan yang lebih rapi, hingga puncaknya di tahun 1897 muncul satuan “Opas” atau polisi resmi yang lebih terorganisir.
Mereka mulai memberikan gaji yang layak supaya petugas keamanan nggak lagi merangkap jadi pengawal bayaran.
Di Blitar, yang merupakan pusat perkebunan coffee era kolonial, ancaman garong begal pun sangat mengganggu produksi pada masa itu.
De Karanganjar Koffieplantage, yang didirikan oleh HJ Velsink pada tahun 1874, menanam coffee Robusta dan cengkeh di lereng Gunung Kelud.
Pabrik pengolahan coffee di sana menjadi target utama bandit, karena karavan pengangkut biji coffee ke pelabuhan sering disergap di jalan-jalan sepi.
Belanda di perkebunan ini mengadaptasi strategi jago dengan menyewa pengawal lokal untuk melawan begal.
Mandor seperti Denny Roshadi, yang menjadi kepercayaan sejak era Hindia Belanda, mengurus keamanan secara langsung, dan tradisi ini bertahan hingga kini.
Saat ini, De Karanganjar Koffieplantage selalu memastikan keamanan di lingkungan sekitar perkebunan, baik dari pencuri maupun vandal modern.
Sebagai destinasi wisata sejarah, mereka menjaga area dengan pengelolaan ketat, menghubungkan pelajaran dari era garong begal kolonial menjadi komitmen keamanan berkelanjutan di masa kini.
Kunjungilah De Karanganjar untuk menikmati coffee premium, belajar sejarah, dan merasakan rasa aman yang terjaga berkat dedikasi ini.





