Gunung Kelud merupakan salah satu gunung berapi aktif di Jawa Timur yang terletak di perbatasan Kabupaten Kediri, Blitar, dan Malang. Dengan ketinggian sekitar 1.731 meter di atas permukaan laut, gunung ini dikenal sebagai salah satu gunung paling aktif di Indonesia, dengan catatan letusan lebih dari 30 kali sejak sekitar tahun 1000 Masehi. Gunung ini memiliki karakter vulkanik yang khas, terutama karena keberadaan danau kawah yang sering memicu letusan eksplosif disertai lahar. Letusan besar seperti yang terjadi pada tahun 1919 menunjukkan betapa kuatnya dampak gunung ini terhadap kehidupan manusia di sekitarnya. Di sisi lain, aktivitas vulkanik tersebut juga menyuburkan tanah di lerengnya, menjadikan kawasan ini ideal untuk pertanian dan perkebunan, termasuk kebun coffee yang berkembang sejak masa pemerintahan Hindia-Belanda.
Sejarah dan Jejak Budaya Gunung Kelud
Di Kakawin Nāgarakṛtāgama, Kelud disebut dengan nama “Kampud”. Letusan Gunung Kampud bahkan dicatat sebagai peristiwa penting yang mengiringi kelahiran Raja Hayam Wuruk pada tahun 1334 M. Catatan ini menunjukkan bahwa Gunung Kelud telah lama dipahami sebagai bagian dari lanskap kosmologis Jawa, di mana fenomena alam dipandang sebagai pertanda penting dalam kehidupan kerajaan.
Peran spiritual gunung ini juga terlihat dalam keberadaan Candi Penataran, yang dahulu dikenal sebagai Candi Palah. Candi ini merupakan kompleks pemujaan yang didedikasikan kepada Bhattara Palah, yang dalam kajian sejarah diidentifikasi sebagai manifestasi Dewa Siwa sebagai penguasa gunung. Relasi antara gunung dan pemujaan ini tidak terlepas dari sifat dualistik gunung sebagai sumber bencana sekaligus pemberi kehidupan. Dalam kosmologi Hindu-Jawa, gunung berapi seperti Kelud tidak hanya ditakuti, tetapi juga dihormati sebagai tempat bersemayam kekuatan ilahi yang perlu dijaga keseimbangannya.

Kawah Gunung Kelud/Wikimedia
Di luar catatan sejarah dan arkeologi, Gunung Kelud juga hidup dalam tradisi lisan masyarakat melalui legenda yang kuat, salah satunya kisah Lembu Suro. Legenda ini menceritakan tentang sosok berkepala lembu yang mengutuk wilayah Kediri setelah dikhianati oleh Dewi Kilisuci. Banyak masyarakat percaya bahwa letusan gunung tersebut merupakan manifestasi dari sumpah Lembu Suro.
Penggalan lirik lagu daerah Blitar, “Blitar kutho cilik kang kawentar, edipeni Gunung Kelud kang ngayomi,” menggambarkan Gunung Kelud sebagai pelindung yang memberi keindahan sekaligus identitas bagi wilayah Blitar. Dalam konteks ini, gunung tidak hanya dipandang sebagai objek geografis, tetapi juga sebagai simbol kultural yang melekat dalam kehidupan masyarakat.
Perkebunan di Lereng Gunung
Di lereng Gunung Kelud, berkembang berbagai aktivitas ekonomi yang memanfaatkan kesuburan tanahnya, salah satunya adalah perkebunan coffee De Karanganjar Koffieplantage yang telah berdiri sejak tahun 1874. Perkebunan ini menjadi bukti bagaimana kondisi geologis gunung berkontribusi langsung terhadap perkembangan ekonomi lokal, khususnya dalam produksi coffee berkualitas.
Saat ini, De Karanganjar tidak hanya berfungsi sebagai kebun coffee, tetapi juga sebagai tourist destinations berbasis sejarah dan edukasi. Pengunjung dapat melihat proses pengolahan coffee, menjelajahi bangunan peninggalan Belanda, serta memahami hubungan antara Gunung Kelud dan kesuburan lahan di sekitarnya.
Salah satu paket wisata yang ditawarkan De Karanganjar mencakup kunjungan ke Gunung Kelud dan Candi Penataran sekaligus. Paket ini menggabungkan pengalaman wisata alam, sejarah, dan budaya dalam satu rangkaian perjalanan. Dengan demikian, pengunjung tidak hanya menikmati panorama gunung, tetapi juga memahami konteks historis dan spiritual yang menyertainya.
Secara keseluruhan, Gunung Kelud adalah contoh nyata bagaimana sebuah gunung dapat memiliki makna multidimensional dari sisi geografis, sejarah, hingga budaya yang hidup dalam legenda, lagu, dan kepercayaan masyarakat. Kombinasi antara alam, sejarah, dan budaya inilah yang menjadikan Gunung Kelud bukan sekadar destinasi wisata, tetapi juga ruang pemaknaan yang terus berkembang dari masa ke masa.
[]






