Blitar umumnya dikenal lewat situs kuno yang megah seperti Candi Penataran. Meski demikian, bukan berarti Blitar tidak memiliki situs kuno lainnya. Di berbagai desa, tersebar peninggalan kecil yang sering luput dari perhatian. Padahal, justru dari situs-situs inilah kita bisa melihat kehidupan masyarakat masa lalu secara lebih dekat.
Mengapa Situs Kuno di Desa Penting?
Dalam kajian situs kuno, peninggalan yang tersebar di desa sering dianggap kecil karena tidak berupa bangunan utuh. Namun, justru di sinilah nilai pentingnya. Banyak situs seperti arca, umpak, atau fragmen candi merupakan bagian dari struktur yang lebih besar yang sudah hilang.
Selain itu, temuan di desa biasanya tidak dipindahkan jauh dari lokasi aslinya. Artinya, posisi benda tersebut masih berkaitan langsung dengan lanskap lama—dekat sungai, sumber air, atau jalur kuno. Ini membantu peneliti memahami pola kehidupan masa lalu secara lebih akurat.
Berikut ini lima situs di Blitar yang jarang dibahas, tetapi memiliki nilai sejarah yang tidak kalah penting.
1. Arca Ganesha Boro (Tuliskriyo, Kademangan)
Arca Ganesha Boro menjadi salah satu penanda kuat adanya pengaruh Hindu di wilayah ini. Ganesha dikenal sebagai dewa ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan dalam tradisi Hindu.
Keberadaan arca ini biasanya tidak berdiri sendiri. Dalam banyak kasus, arca Ganesha ditempatkan di area penting seperti jalur masuk atau dekat sumber air. Hal ini berkaitan dengan fungsi simboliknya sebagai pelindung dan penghilang rintangan.
Meski tidak sebesar candi, keberadaan Arca Ganesha Boro menunjukkan bahwa wilayah tersebut pernah menjadi bagian dari jaringan budaya Hindu yang lebih luas.

Arca Ganesha Boro/travellersblitar.com
2. Arca Gaprang (Gaprang, Kanigoro)
Arca Gaprang termasuk situs yang cukup unik. Di lokasi ini terdapat sepasang arca laki-laki dan perempuan dengan bentuk yang tidak biasa, bahkan cenderung vulgar.
Arca ini diduga berkaitan dengan simbol kesuburan atau ajaran tertentu dalam tradisi Hindu, seperti tantrayana. Selain itu, di area ini juga ditemukan berbagai komponen candi seperti kala, makara, dan batu struktur lainnya.
Menariknya, benda-benda tersebut awalnya ditemukan tercecer oleh warga, lalu dikumpulkan dalam satu lokasi. Ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut kemungkinan pernah menjadi pusat aktivitas keagamaan yang lebih besar.
3. Situs Kekunaan Jimbe (Jimbe, Kademangan)
Situs Kekunaan Jimbe tidak sepopuler yang lain, tetapi memiliki karakter yang serupa, yaitu berupa kumpulan fragmen batu, arca kecil, dan sisa struktur. Situs seperti ini biasanya menunjukkan adanya bangunan suci atau permukiman kuno yang sudah hilang.
4. Situs Umpak Balekambang (Modangan, Nglegok)
Umpak adalah batu penyangga tiang, biasanya digunakan dalam bangunan kayu. Berbeda dengan candi yang terbuat dari batu, bangunan kayu lebih mudah rusak atau hilang. Karena itu, Situs Umpak Balekambang di Modangan menjadi bukti bahwa pernah ada struktur bangunan di lokasi tersebut.
Keberadaan umpak ini juga menunjukkan bahwa tidak semua bangunan penting di masa lalu dibuat dari batu. Banyak struktur yang bersifat ringan, tetapi tetap memiliki fungsi penting, baik sebagai tempat tinggal, pendapa, atau bangunan ritual.
5. Arca Warak (Modangan, Nglegok)
Arca Warak menyimpan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Situs ini terdiri dari beberapa arca dan batu yang tersebar di area dekat sumber air.
Beberapa peneliti menduga bahwa lokasi ini dulunya adalah petirtaan atau tempat pemandian suci. Dugaan ini muncul karena adanya sumber mata air alami dan struktur yang berkaitan dengan aliran air.
Selain itu, ada kemungkinan situs ini juga digunakan sebagai tempat pembuatan arca atau pusat kegiatan tertentu di masa lalu. Yang menarik, lokasi Arca Warak berada tidak jauh dari perkebunan coffee De Karanganjar Koffieplantage. Oleh karena itu, pengunjung yang datang ke De Karanganjar bisa juga mampir ke situs Arca Warak. Jika perlu, De Karanganjar juga dapat menyediakan pemandu.
Situs Kuno: Potongan Kecil yang Menyusun Sejarah Besar
Kelima situs di atas menunjukkan bahwa sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk besar dan utuh. Potongan-potongan kecil seperti arca, umpak, dan fragmen batu justru sering menjadi kunci untuk memahami masa lalu.
Selain lima situs di atas, Blitar menyimpan banyak jejak seperti ini. Situs-situs ini tersebar di desa-desa dan sering kali tidak mendapat perhatian yang cukup. Padahal, jika dilihat secara menyeluruh, semua situs ini saling terhubung dan membentuk gambaran tentang kehidupan masa lalu.
[]






