Tahukah Anda? Jauh di abad ke-14, wilayah Blitar sudah tercatat dalam karya sastra penting Jawa kuno, yaitu Kakawin Nagarakretagama. Karya ini bukan sekadar puisi, melainkan sumber sejarah yang menggambarkan wilayah, kekuasaan, dan kehidupan pada masa Kerajaan Majapahit. Dari sinilah kita bisa melihat bahwa Blitar sudah masuk dalam jaringan kekuasaan dan budaya pada masa itu.
Kakawin sebagai Sumber Sejarah
Istilah kakawin merujuk pada karya sastra Jawa Kuno berbentuk puisi dengan aturan metrum tertentu. Kakawin Nagarakretagama ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 dan berisi gambaran lengkap tentang Majapahit di masa kejayaannya.
Berbeda dengan prasasti yang cenderung singkat, karya sastra ini menjelaskan banyak hal mulai dari perjalanan raja, struktur wilayah, hingga kegiatan keagamaan. Karena itu, teks Nagarakretagama sering digunakan sebagai rujukan utama dalam memahami peta kekuasaan Majapahit.
Salah satu bagian penting yang berkaitan dengan Blitar adalah pupuh 17 dan 61. Kedua pupuh ini berisi perjalanan Raja Rajasanagara alias Hayam Wuruk mengunjungi berbagai wilayah di Blitar.
Nagarakretagama Pupuh 17 Bait 5–6
yan tan mangka mareng phalah marĕk i jöng hyang acalapati bhakti sādara
pantĕs yan panulus ḍatĕng ri balitar mwang i jimur i śilāhrit ālĕngöng
mukyang polaman ing dahe kuwu ri linggamarabangun i kālanenusī
yan ring janggala lot sabhā nṛpati ring surabhaya manulus mareng buwun
ring saka lsati suryya san prabhu mahas ri pajan ingiring ing sanagara
rin sakanganagaryyama sira mare lasem ahawan i tira nin pasir
rin dwaradri panendu panlereniren jaladhi kidul atutwan alaris
nkanen lodhaya len tetor i sideman jinajahira lanonya yenitun
Secara umum, bait di atas menggambarkan perjalanan Hayam Wuruk dari satu wilayah ke wilayah lain. Nama-nama yang masih dikenali hingga sekarang adalah Blitar, Lodaya, dan Phalah. Phalah adalah nama kuno Candi Penataran yang terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Sementara, Lodaya adalah nama salah satu kecamatan di Blitar yang terletak selatan, tidak jauh dari pesisir laut (jaladhi).
Nagarakretagama Pupuh 61 Bait 3-4
jañjan sangke balitar angidul tūt margga
sĕngkan poryyang gatarasa tahĕnyādoh wwe
ndah prāteng lodhaya sira pirang rātryangher
śakterūm ning jaladhi jinajah tūt pinggir
sah sangke lodhaya sira mangantī simping
sweccānambhyāmahajĕnga ri sang hyang dharmma
sāk ning prasādā tuwi hana dohnyāngulwan
nā hetunyan bangunen angawetan matra
Bait ini menjelaskan tentang Hayam Wuruk yang pergi ke Blitar dan terus ke selatan menuju Lodaya, menginap di sana, dan pergi ke pantai. Selanjutnya, dia pergi ke Simping dan menetap di sana untuk beberapa waktu sembari memperbaiki candi yang menaranya rusak dan bangunannya sedikit bergeser.

Kakawin Nagarakertagama
Blitar dalam Jaringan Wilayah Majapahit
Penyebutan beberapa wilayah dalam Kakawin Nagarakretagama menunjukkan bahwa daerah Blitar termasuk dalam jalur penting perjalanan kerajaan. Tampak di sini bahwa Blitar bukan wilayah pinggiran, melainkan bagian dari struktur administratif dan spiritual.
Blitar, dengan posisinya yang strategis di jalur selatan Jawa Timur, menjadi salah satu titik persinggahan penting. Tak heran, banyak peninggalan seperti candi dan situs kuno di wilayah Blitar. Belum lagi fakta bahwa Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit, didharmakan di Candi Simping yang terletak di Desa Sumberjati, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. Berita tentang Candi Simping ini juga disebut dalam Nagarakretagama pupuh 61.
Perjalanan yang digambarkan dalam Nagarakretagama pupuh 17 dan 61 bukan sekadar kunjungan biasa. Dalam tradisi Jawa kuno, perjalanan raja memiliki makna simbolis. Raja tidak hanya memeriksa wilayah, tetapi juga melakukan ritual untuk menjaga keseimbangan antara kekuasaan dan alam. Sehingga, setiap tempat yang dikunjungi memiliki makna. Dari situ, kita bisa melihat bahwa Blitar berperan penting dalam jaringan Kerajaan Majapahit pada abad ke-14.
[]






