Pernah nggak sih lagi jalan-jalan di Blitar terus tiba-tiba mikir, “Wah, keren banget nih kota!”
Tapi, dulunya penampakan Blitar itu nggak kayak sekarang.
Dulu, Blitar cuma hutan belantara yang dianggap angker dan tanah perdikan yang sunyi, lho!
Gak kebayang, kan, gimana bisa dari hutan belantara berubah jadi tempat penuh sejarah, budaya, sampai landmark keren dan bikin kita bangga!
Sejarah Awal Kabupaten Blitar
Sejarah Blitar sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum jalannya pemerintahan modern.
Wilayah ini dulu merupakan hutan belantara sebelum dijadikan kawasan perdikan, yaitu wilayah bebas pajak dan mandiri yang berada di bawah naungan Majapahit.
Dalam masa kepemimpinan Raja Jayanegara, Blitar mendapat status sebagai daerah swatantra setelah peristiwa pemberontakan di Majapahit berhasil dipadamkan dengan bantuan masyarakat setempat.
Sebagai penghargaan, Raja Jayanegara mengeluarkan prasasti sebagai tanda pengesahan tersebut pada tanggal 5 Agustus 1324.
Masa kejayaan Blitar makin diperkuat dengan keberadaan sejumlah peninggalan arkeologis, termasuk Candi Penataran, candi terbesar di Jawa Timur yang membuktikan posisi strategis Blitar dalam kerajaan Hindu-Buddha dan Majapahit.
Candi ini adalah pusat kegiatan keagamaan dan pemerintahan yang dibangun mulai dari abad ke-12 hingga masa pemerintahan raja-raja Majapahit seperti Jayanegara hingga Wikramawardhana pada abad ke-15.
Candi Penataran dan prasasti lainnya memperkuat bukti sejarah bahwa Blitar adalah wilayah yang penting dan berperan dalam kerajaan besar tersebut.
Asal Usul Nama “Blitar”
Berbeda dari banyak daerah lain yang memiliki cerita etimologi sederhana, nama Blitar sendiri memiliki berbagai penafsiran dan asal usul yang menarik.
Salah satu teori menyebutkan bahwa nama Blitar berasal dari istilah “Balitar” yang sudah disebutkan dalam Kitab Nagarakretagama, sebuah karya sastra pada zaman Majapahit, yang merujuk pada suatu wilayah selatan Palah (kawasan Candi Penataran).
Ada juga legenda yang mengaitkan nama Blitar dengan singkatan “Baline Tartar,” yang berarti “kembalinya Tartar,” merujuk pada peristiwa pengusiran pasukan Tartar oleh Raden Wijaya pada tahun 1293 Saka (sekitar abad ke-14).
Penetapan Hari Jadi Kabupaten Blitar
Hari Jadi Kabupaten Blitar resmi diperingati setiap tanggal 5 Agustus, sebuah tanggal yang bukan sekadar angka di kalender, melainkan berakar dari sejarah yang sangat dalam.
Tanggal 5 Agustus ini diambil dari penanggalan Prasasti Blitar I yang dikeluarkan oleh Raja Jayanegara pada tahun 1324 Masehi.
Prasasti ini menandakan pengesahan Blitar sebagai daerah swatantra (mandiri) di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Dengan demikian, 5 Agustus 1324 menjadi tonggak historis kelahiran Kabupaten Blitar sebagai wilayah administratif yang memiliki otonomi di masa lampau.
Penetapan tanggal ini bukan semata seremonial, melainkan penghormatan terhadap akar sejarah dan kebudayaan yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi sekarang dan mendatang.
Pemerintah Kabupaten Blitar mengangkat hari ini sebagai momentum membangkitkan rasa bangga masyarakat akan warisan budaya mereka dan sebagai pengingat betapa pentingnya sejarah dalam membentuk identitas daerah.
Sejarah Blitar dari Masa Kerajaan Kolonial hingga Era Modern
Masa Kerajaan Kolonial Belanda
Pada awal abad ke-18, tepatnya sekitar tahun 1723, Blitar berada di bawah pengaruh Kerajaan Kartasura Hadiningrat yang dipimpin Raja Amangkurat.
Namun pada masa itu, Blitar beralih ke tangan penjajah Belanda.
Raja Amangkurat menghadiahkan Blitar kepada Belanda sebagai imbalan atas bantuan mereka dalam perang saudara dan konflik internal kerajaan, termasuk perang melawan Adipati Ariyo Blitar III yang berusaha merebut kekuasaan.
Hal ini mengakhiri eksistensi Kadipaten Blitar sebagai daerah pradikan atau wilayah otonom kerajaan.
Penjajahan Belanda di Blitar berlangsung dengan suasana sulit dan penuh penderitaan bagi rakyatnya.
Banyak korban jiwa dan harta yang jatuh karena perlakuan keras dan sistem kolonial yang diterapkan.
Untuk mengonsolidasikan kekuasaan mereka, pemerintah kolonial Belanda pada tanggal 1 April 1906 menetapkan pembentukan Gemeente Blitar, yaitu status administratif kota di bawah pemerintahan kolonial Belanda sebagaimana diterapkan pada beberapa kota besar lain di Indonesia.
Pada masa kolonial, Blitar menjadi pusat perkebunan yang penting, dengan hasil utama berupa tebu, coffee, dan tembakau.
Belanda juga membangun infrastruktur pendukung seperti jalan, jembatan, dan sistem irigasi demi menunjang aktivitas ekonomi mereka.
Beberapa bangunan bergaya kolonial yang masih berdiri hingga kini menjadi saksi bisu masa tersebut, seperti perkebunan coffee De Karanganjar dan berbagai gedung pemerintahan kolonial.
Perlawanan dan Perjuangan Rakyat Blitar
Meski berada di bawah penjajahan, masyarakat Blitar tidak tinggal diam.
Mereka melakukannya berbagai bentuk perlawanan terhadap kolonial Belanda, baik yang terorganisir maupun sporadis.
Salah satu perjuangan terbesar adalah pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) pada tahun 1945, dengan anggota mayoritas dari Blitar.
Pemberontakan ini merupakan simbol kuat semangat melawan kolonial Belanda meski akhirnya tidak berhasil sepenuhnya.
Selain itu, pada masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia (1945-1949), Blitar menjadi salah satu basis penting perlawanan gerilya dan pertahanan Republik Indonesia.
Taktik seperti serangan gelap, penyergapan, dan sabotase dilakukan oleh pasukan pejuang kemerdekaan yang berasal dari dan beroperasi di wilayah ini, menghadapi agresi militer Belanda yang berusaha merebut kembali wilayah Indonesia.
Era Kemerdekaan hingga Saat Ini
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, rakyat Blitar menyambut dengan sukacita kemerdekaan yang telah lama diperjuangkan.
Blitar kemudian resmi menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan berkembang sebagai wilayah administratif modern.
Blitar juga dikenal karena berkaitan erat dengan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, yang lahir pada 6 Juni 1901 di tempat ini.
Makam Presiden Soekarno di Blitar menjadi salah satu situs ziarah nasional yang menambah pentingnya nilai sejarah dan budaya daerah ini.
Kota Blitar saat ini telah bertransformasi menjadi kota yang memadukan warisan sejarah dengan kemajuan modern.
Berbagai situs dan bangunan bersejarah dipertahankan sebagai cagar budaya sekaligus destinasi wisata sejarah.
Pemerintah daerah terus berupaya melestarikan nilai-nilai sejarah sambil memajukan kesejahteraan masyarakatnya melalui pembangunan berkelanjutan.
Salah satu peninggalan bersejarah yang masih dijaga keberlanjutannya oleh pemerintah Kabupaten Blitar adalah Perkebunan De Karanganjar Koffieplantage.
Hingga kini, De Karanganjar tetap dikelola secara berkelanjutan oleh keluarga asli yang telah menangani perkebunan tersebut selama tiga generasi.
Tidak hanya menjaga produksi coffee yang berkualitas seperti robusta, arabika, dan excelsa, pemerintah dan pengelola juga membuka area ini sebagai destinasi wisata edukasi bersejarah.
Pengunjung dapat menikmati nuansa bangunan kolonial yang autentik, mengenal sejarah panjang coffee Blitar, sekaligus melestarikan tradisi dan warisan budaya yang melekat pada perkebunan ini.
Keberadaan De Karanganjar Koffieplantage menjadi bukti nyata komitmen Kabupaten Blitar dalam menjaga dan melestarikan aset sejarah sekaligus mendorong pengembangan ekonomi lokal melalui pariwisata dan budaya yang berkelanjutan.






