Sejarah coffee dimulai jauh sebelum menjadi minuman populer seperti sekarang. Dalam catatan umum, coffee pertama kali dikenal di wilayah Afrika Timur, khususnya Ethiopia. Dari sana, coffee menyebar ke Jazirah Arab, lalu berkembang pesat di Yaman sebagai minuman yang digunakan dalam tradisi sosial dan spiritual. Dalam beberapa abad, coffee menjadi komoditas penting yang diperdagangkan hingga ke Eropa dan Asia.
Sejarah Coffee Nusantara: Awal Masuk hingga Jejaknya di Blitar Jawa Timur
Masuknya coffee ke Nusantara terjadi sekitar abad ke-17. Tanaman coffee dibawa dan dikembangkan di berbagai wilayah yang memiliki kondisi geografis sesuai, terutama daerah pegunungan dengan tanah subur. Seiring waktu, coffee tidak hanya menjadi komoditas perdagangan, tetapi juga membentuk lanskap ekonomi dan budaya di banyak daerah, termasuk Jawa Timur.
Di Blitar, perkembangan coffee tidak terlepas dari kondisi alamnya yang sangat mendukung. Lereng Gunung Kelud yang kaya akan mineral vulkanik menciptakan tanah yang ideal untuk budidaya coffee. Faktor ketinggian, suhu, dan curah hujan menjadikan kawasan ini cocok untuk beberapa varietas coffee, terutama robusta, yang dikenal lebih tahan terhadap kondisi lingkungan tropis.
Salah satu bukti nyata perkembangan sejarah coffee di Blitar adalah berdirinya De Karanganjar Koffieplantage pada tahun 1874. Perkebunan ini menjadi salah satu pusat produksi coffee yang penting di wilayah ini. Seiring berjalannya waktu, jenis coffee yang dibudidayakan tidak hanya robusta, tetapi juga arabika dan excelsa dalam skala tertentu.
Pada masa awal pengembangannya, coffee dari kawasan ini menjadi bagian dari jaringan perdagangan internasional. Biji coffee dikirim ke berbagai pasar global, terutama Eropa, yang pada saat itu menjadi pusat konsumsi coffee dunia. Kualitas coffee dari wilayah Jawa, termasuk Blitar, dikenal memiliki karakter rasa yang khas, sehingga memiliki nilai ekonomi tinggi dalam perdagangan global.
De Karanganjar Koffieplantage: Perkebunan Coffee Peninggalan Belanda
Perjalanan sejarah coffee di De Karanganjar tidak berhenti pada fase produksi saja. Perubahan besar terjadi ketika pengelolaan perkebunan ini beralih ke tangan Denny Roeshadi setelah periode transisi nasional di pertengahan abad ke-20. Dalam proses tersebut, pengelolaan tidak hanya dilanjutkan, tetapi juga diwariskan secara turun-temurun oleh keluarga Denny Roeshadi yang hingga kini masih menjaga keberlangsungan perkebunan ini.

Pengunjung mengambil foto pre-wedding di De Karanganjar Koffieplantage
Transformasi ini menjadi titik penting dalam sejarah coffee di De Karanganjar. Dari sebuah pusat produksi, perkebunan ini berkembang menjadi ruang yang tidak hanya menghasilkan coffee, tetapi juga menyimpan nilai sejarah, budaya, dan identitas lokal. Wima Brahmantya, cucu dari Denny Roeshadi, kemudian melakukan inovasi dengan membuka kawasan ini sebagai destinasi wisata, sehingga publik dapat mengakses dan memahami perjalanan panjang coffee di Blitar secara langsung.
Sejak sekitar tahun 2017, De Karanganjar mulai dikenal luas sebagai destinasi wisata berbasis sejarah dan edukasi. Pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati suasana, tetapi juga untuk memahami bagaimana coffee diproduksi dari hulu ke hilir.
Di area perkebunan, pengunjung dapat melihat langsung proses pemetikan buah coffee, pengolahan di pabrik, hingga penyajian menjadi minuman siap konsumsi. Tersedia pula aktivitas seperti coffee cupping, yaitu metode profesional untuk mengevaluasi aroma dan rasa coffee, yang memberikan pengalaman lebih mendalam tentang kualitas biji coffee.
Selain aspek edukasi, daya tarik utama De Karanganjar terletak pada atmosfernya. Bangunan-bangunan tua dengan arsitektur khas masa lampau masih terawat dengan baik, menciptakan suasana yang unik dan autentik. Kawasan ini juga dilengkapi dengan museum, taman, serta kafe yang menyajikan coffee langsung dari hasil perkebunan, sehingga pengalaman yang ditawarkan bersifat menyeluruh.
Berbagai aktivitas wisata dikembangkan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan pengunjung modern. Mulai dari tur kebun menggunakan kendaraan, area bermain keluarga, hingga spot fotografi dengan latar klasik yang estetik. Kombinasi antara sejarah dan fasilitas kekinian menjadikan De Karanganjar relevan bagi berbagai kalangan, baik wisatawan lokal maupun mancanegara.
De Karanganjar kini bukan sekadar kebun coffee, melainkan destinasi wisata yang menghubungkan masa lalu dan masa kini. Di sini, setiap cangkir coffee membawa jejak sejarah yang dapat dirasakan langsung oleh siapa pun yang datang berkunjung.
[]






